Kamis, 26 November 2020
Wisata & Sejarah
Candi Gunung Kawi

Pahatan Mistis di Dinding Tebing

Kamis, 16 Maret 2017
NET

CANDI Gunung Kawi diambil dari kata gunung yang berarti pegunungan dan kawi yang berarti pahatan. Candi ini dilindungi sebagai salah satu situs purbakala, tetapi umat Hindu masih boleh menggunakannya untuk bersembahyang.*   

KISUTA.com - Ada yang unik dari Candi Gunung Kawi yang terletak di Sungai Pakerisan, Dusun Penangka, Desa Sebatu, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar, Bali. Unik, karena candi ini dipahat di dinding tebing Gunung Kawi.

Anda akan takjub saat melihat pahatan-pahatan yang berupa candi dari dekat. Bentuknya sangat besar, sungguh sulit dibayangkan bagaimana membuat bangunan seperti ini pada ratusan tahun silam. Tebingnya seolah dilubangi dan kemudian seperti ditempel oleh candi. Benar-benar bentuk candi yang menakjubkan dan memiliki nilai arsitektur yang sempurna.

Candi Gunung Kawi diambil dari kata gunung yang berarti pegunungan dan kawi yang berarti pahatan. Candi ini dilindungi sebagai salah satu situs purbakala, tetapi umat Hindu masih boleh menggunakannya untuk bersembahyang. Kompleks candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang peneliti Belanda sekitar tahun 1920. Sejak itu, candi ini mulai menarik minat peneliti arkeologi kuno Bali. Para ahli memperkirakan, candi ini dibuat sekitar abad ke-11 M, yaitu pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga pemerintahan Anak Wungsu.

Menurut sejarah, Raja Udayana merupakan salah satu raja terkenal di Bali. Raja dari Dinasti Marwadewa ini menikah dengan seorang puteri Jawa bernama Gunapriya Dharma Patni dan memiliki anak bernama Erlangga serta Anak Wungsu. Setelah dewasa, Erlangga menjadi raja di Jawa Timur dan Anak Wungsu tetap memerintah di Bali. Pada masa pemerintahan Raja Udayana hingga Anak Wungsu, diperkirakan Candi Gunung Kawi dibangun.

Di candi ini disimpan abu jasad Raja Udayana, makam beberapa permaisuri, dan anak Raja Udayana bernama Anak Wungsu. Soal abu jasad Raja Udayana yang disimpan di candi ini, ada bukti arkeologis yang menguatkannya, yaitu adanya tulisan di atas pintu-semu yang menggunakan huruf Kediri yang berbunyi “haji lumah ing jalu” yang bermakna sang raja yang (secara simbolis) disemayamkan di Jalu. Raja yang dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan kata jalu yang merupakan sebutan untuk taji (senjata) pada ayam jantan, dapat diasosiasikan juga sebagai keris atau pakerisan. Nama Sungai Pakerisan atau Tukad Pakerisan inilah yang kini dikenal sebagai nama sungai yang membelah dua tebing Candi Kawi.

Ada juga versi lain soal terbentuknya Candi Gunung Kawi, yaitu versi yang berasal dari cerita rakyat setempat. Menurut cerita, pura atau candi Tebing Kawi ini dibuat oleh orang sakti bernama Kebo Iwa. Kebo Iwa merupakan tokoh legenda masyarakat Bali yang dipercaya memiliki tubuh sangat besar. Dengan kesaktiannya, konon Kebo Iwa mematahkan kuku-kukunya yang tajam dan kuat pada dinding batu cadas di Tukad Pakerisan. Dinding batu cadas tersebut seolah dipahat dengan halus dan baik, sehingga membentuk gugusan dinding candi yang indah. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang banyak dengan waktu yang relatif lama itu, konon mampu diselesaikan oleh Kebo Iwa selama sehari semalam.

Kembali kepada keunikan Candi Gunung Kawi, Anda akan mulai merasakannya sejak menuruni 315 anak tangga di tubir Sungai Pakerisan. Anak tangga-anak tangga untuk menuju Candi Gunung Kawi ini terbuat dari batu padas yang dibingkai dengan dinding batu. Sesampainya di kompleks candi, Anda akan menyaksikan dua kelompok percandian yang dipisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Candi pertama yang berjumlah empat, terletak di sebelah barat sungai dan menghadap ke timur. Sedangkan candi kedua yang berjumlah lima, terletak di sebelah timur sungai dan menghadap ke barat. Pada kompleks candi di sebelah barat, juga dilengkapi kolam pemandian serta pancuran air. Menyaksikan dua kompleks candi ini, Anda akan dibuat takjub oleh pemandangan dinding-dinding batu cadas yang dipahat rapi membentuk ruang-ruang lengkung yang di dalamnya terdapat candi. Tampaknya candi-candi ini sengaja dibuat di dalam cekungan untuk melindunginya dari ancaman erosi.

Jalan menuju Candi Gunung Kawi merupakan jalan yang sama menuju Istana Tampak Siring. Lokasi candi terletak sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar dengan perjalanan sekitar 1 jam menggunakan mobil atau motor. Sementara dari Kota Gianyar berjarak sekitar 21 kilometer memerlukan sekitar setengah jam perjalanan. Untuk sampai ke candi ini, bisa memanfaatkan jasa taksi, bus pariwisata, maupun jasa agen perjalanan.

Obyek wisata Candi Gunung Kawi telah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti tempat parkir yang cukup memadai, para pemandu yang siap menjelaskan sejarah dan nilai budaya Candi Gunung Kawi, serta warung-warung yang menjual makanan dan minuman di sekitar kompleks candi.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR