Kamis, 22 Oktober 2020
Wisata & Sejarah
Sumur Bandung

Singgasana Penguasa Gaib Kota Bandung

Selasa, 29 Desember 2015
IST

KONDISI Sumur Bandung yang berada di Gedung PLN lebih terawat. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, namun airnya tetap bersih dan tidak pernah kering. Kondisi sumur dibiarkan seperti aslinya, namun di bagian atasnya diberi cungkup penutup berwarna ema

KISUTA.com - Tidak banyak yang mengetahui bahwa di Kota Bandung ada dua sumur yang keberadaannya sangat erat dengan sejarah Kota Bandung. Dua sumur ini sama-sama bernama “Sumur Bandung”, hanya letaknya saja yang berbeda. Satu sumur berada di Cikapundung Barat, tepatnya di dalam areal bangunan Bale Sumur Bandung milik PLN Distribusi Jawa Barat dan Banten. Satu lagi terletak di bawah bekas gedung Miramar yang berada di seberang Gedung PLN atau berjarak sekitar 50 meter. Letak kedua sumur ini tak jauh dari Sungai Cikapundung yang membelah Kota Bandung.

Kondisi Sumur Bandung yang berada di Gedung PLN lebih terawat. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, namun airnya tetap bersih dan tidak pernah kering. Kondisi sumur dibiarkan seperti aslinya, namun di bagian atasnya diberi cungkup penutup berwarna emas dan sekelilingnya dibatasi tali yang juga berwarna emas. Di bagian depan sumur, ada tulisan semacam prasasti:

Sumur Bandung Mere Karahayuan ka Rahayat Bandung
Sumur Bandung Mere Karahayuan ka Dayeuh Bandung
Sumur Bandung Kahayuning Dayeuh Bandung
Ayana di Gedung PLN Bandung

Bandung, 25 Mei 1811
Raden Adipati Wiranata Kusumah II

Sedangkan kondisi Sumur Bandung di bawah bekas Gedung Miramar, tidak terlalu terawat. Apalagi sejak gedung pertokoan dibongkar. Tak heran jika masyarakat lebih mengetahui keberadaan Sumur Bandung yang terletak di Gedung PLN dibandingkan dengan yang berada di bekas Gedung Miramar.

Di prasasti Sumur Bandung yang berada di Gedung Miramar, tertulis nama Raden Adipati Wiranata Kusumah II dan tanggal 25 Mei 1811. Tulisan itu berkaitan dengan sejarah sumur. Menurut sejarah, Sumur Bandung terbentuk ketika Bupati Bandung saat itu, Raden Adipati Wiranata Kusumah II sedang menyusuri Sungai Cikapundung untuk mencari tempat yang cocok untuk menjadi pusat kota. Ibu kota Kabupaten Bandung yang terletak di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot), dirasakan sudah tidak cocok lagi.

Bupati dan rombongan beristirahat melepas lelah di pinggir Sungai Cikapundung. Ketika beristirahat, Bupati menancapkan tongkatnya, tidak jauh dari tempatnya duduk. Ketika lelahnya hilang, Bupati bermaksud melanjutkan perjalanan dan mencabut tongkatnya. Saat tongkat dicabut, keluar air yang sangat jernih dari lubang bekas tongkat. Melihat air yang keluar begitu jernih, Bupati memerintahkan rombongannya membuat lubang untuk menampung air tersebut. Sumur tersebut yang saat ini disebut dengan Sumur Bandung.

Selanjutnya, sang bupati menunjuk tempat di samping Sungai Cikapundung, tak jauh dari Sumur Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung. Atas persetujuan Gubernur Jenderal Mr Herman Willem Deandels, penguasa Hindia Belanda ketika itu, akhirnya ibu kota Kabupaten Bandung yang berada di Krapyak, dipindahkan ke kawasan dekat Sumur Bandung, tepatnya di Pendopo, rumah dinas Walikota Bandung saat ini.

Aura mistis

Seperti halnya tempat-tempat yang berhubungan dengan masa lalu, Sumur Bandung pun tak lepas dari cerita mistis. Menurut cerita yang “diwariskan” secara turun temurun di antara masyarakat Kota Bandung, keberadaan Sumur Bandung tak hanya berkaitan dengan sejarah Kota Bandung, namun juga erat kaitannya dengan keberadaan seorang dewi yang cantik jelita. Sejarawan yang banyak menulis soal sejarah Kota Bandung, almarhum Ir. Haryoto Kunto dalam bukunya “Semerbak Bunga di Bandung Raya”, menuturkan, seorang bekas sipir Penjara Banceuy menceritakan, Sumur Bandung merupakan singgasana penguasa gaib Kota Bandung. Sang sipir yang suka mengembara ke alam gaib ini menyebutkan bahwa penghuni sumur itu adalah seorang putri bernama Kentringmanik.

Kentringmanik adalah seorang dewi yang cantik rupawan. Di singgasananya itu, sang dewi tinggal bersama saudara pengiringnya, yakni Eyang Dipayasa. Oleh seorang penulis asal Belanda, WH Hoogland, Dewi Kentringmanik disebut pula sebagai Bron Goding atau dewi penguasa mata air sungai Citarum.

Dalam Wawacan Guru Gantangan, disebut pula adanya seorang tokoh bernama Kentringmanik Mayang Sunda. Dia adalah salah seorang permaisuri Prabu Siliwangi yang mempunyai putra bernama Guru Gantangan. Namun belum ada kepastian, apakah Kentringmanik Mayang Sunda ini pula yang menghuni Sumur Bandung.

Aura mistis yang menyertainya, membuat Sumur Bandung terutama yang berada di Gedung PLN, masih sering dikunjungi orang. Bukan hanya dari Kota Bandung saja, tetapi juga dari luar kota. Mereka datang untuk mengambil air sumur yang dianggap mempunyai keistimewaan.

Terlepas dari cerita mistis yang menyertainya, masyarakat perlu mengetahui keberadaan Sumur Bandung dalam kaitannya dengan sejarah perkembangan Kota Bandung.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR