Jumat, 27 November 2020
Wisata & Sejarah
Suku Kerinci Kecik Wok Gedang Wok

Suku Purba di Sumatera yang Selamat dari Banjir Bandang Zaman Es

Rabu, 14 Desember 2016
NET

SUKU Kerinci Kecik Wok Gedang Wok diyakini sebagai ras tertua di dunia.*

KISUTA.com - Kecik Wok Gedang Wok, mungkin nama ini masih asing bagi Anda atau justru sangat akrab. Kecik Wok Gedang Wok adalah salah satu suku yang hidup di dataran tinggi Bukit Barisan di Gunung Kerinci yang terletak di antara Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Jambi. Beberapa penelitian menyebutkan bahawa orang Kerinci termasuk kelompok suku bangsa asli yang mula-mula ada di Sumatera.

Manusia Kecik Wok Gedang Wok menarik perhatian dunia, karena usianya diperkirakan lebih tua dari Suku Inka (Indian) di Amerika . Suku Inka selama ini diyakini oleh para arkeolog sebagai suku purba yang telah memiliki peradaban tinggi.

Adalah peneliti antropologi urban dari Universitas Diponegoro, Radjimo yang menyatakan bahwa Suku Kerinci lebih tua dari Suku Inka. Pernyataan Radjimo mengacu pada satu kesimpulan riset salah seorang peneliti dari Amerika Serikat, Dr. Bennet Bronson bersama Tim Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Hasil riset yang dipublikasikan tahun 1973 tersebut, menyimpulkan bahwa Suku Kerinci lebih tua dari Suku Inka.

Radjimo mengungkapkan, salah satu pembuktian yang digunakan oleh tim Bennet Bronson, adalah manusia Kecik Wok Gedang Wok yang merupakan suku pertama yang telah mendiami dataran tinggi Kerinci lebih dari 10.000 tahun lalu. Suku itu belum mempunyai nama panggilan secara individu sampai masuknya suku Proto-Melayu. Saat itu terjadi perpindahan etnis ini dari satu tempat ke tempat lain pada Alam Melayu, seperti perpindahan Proto Malaiers (Melayu Tua) ke Alam Kerinci.

Jumlah Proto-Melayu yang lebih dominan dari Kecik Wok Gedang Wok, menyebabkan kaum pribumi secara perlahan menjadi lenyap dalam percampuran darah antara pendatang dan pribumi. Kelompok inilah yang selanjutnya berkembang dan menjadi nenek moyang orang Kerinci modern hingga generasi saat ini.

Selamat dari banjir

Nama Suku Kerinci kembali disebut-sebut ketika Profesor Stephen Oppenheimer pada tahun 2010 menerbitkan buku berjudul “Eden in The East: Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara” . Menurut pakar genetik dan struktur DNA manusia dari Universitas Oxfor, Inggris ini, satu-satunya dongeng yang menyebar luas di dunia secara merata adalah kisah banjir Nabi Nuh dengan segala versinya. Umat Islam, Kristen, dan Yahudi tentu mendapatkan kisah banjir Nuh dari kitab suci masing-masing. Namun, bagaimana dengan masyarakat pra Islam, Kristen, dan Yahudi? Misalnya saja bangsa Sumeria,Babilonia, India, Yunani. Mereka pun ternyata punya kisah banjir bandang yang menenggelamkan seluruh daratan.

Buku “Eden in The East” setebal 814 halaman ini, separuhnya dihabiskan Oppenheimer untuk membedah sekitar 500 kisah soal banjir di seluruh dunia. Oppenheimer pun mengungkapkan, kisah-kisah banjir lebih banyak lagi terdapat di Asia Tenggara. Variasinya sangat bermacam-macam pada berbagai suku pedalaman di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan pulau-pulau di Polinesia.

Tingkat keberagaman cerita banjir di kawasan ini pun membuat Oppenheimer berteori, bangsa yang terpaksa berimigrasi akibat banjir besar, tinggal di Indonesia dan sekitarnya. Semua kisah banjir ini menurut Oppenheimer adalah bukti kalau banjir besar di penghujung Zaman Es ini adalah benar adanya. Suku Kerinci pada saat terjadinya bencana yang menenggelamkan Atlantis berhasil selamat dikarenakan mereka berada di daratan tinggi yaitu puncak Gunung Kerinci sehingga terhindar dari bencana tersebut.

Tertua di dunia

Sementara itu, ahli filologi dari Hawaii University, Amerika Serikat, Dr. Uli Kozok mengungkapkan bahwa naskah melayu tertua di dunia ada di Kerinci. Dalam kesimpulan riset dari riset yang dilakukan di tiga negara yakni Indonesia, Malaysia dan Belanda, peneliti berkebangsaan Jerman ini menyimpulkan bahwa naskah Melayu tertua ada di Kerinci, tepatnya di Desa Tanjung Tanah.

Menurut riset Kozok, naskah tersebut ternyata jauh lebih tua 200 tahun dibanding dengan naskah surat Raja Ternate yang sebelumnya dinyatakan sebagai naskah melayu tertua di dunia. Naskah kitab undang-undang Tanjung Tanah diperkirakan dikeluarkan pada abad 14.

Kesimpulan Kozok tersebut juga didasari atas uji radio karbon yang dilakukan di Wellington, Selandia Baru atas sampel bahan kertas Daluang (samakan kulit kayu) yang digunakan untuk penulisan naskah itu. Dari hasil uji radio karbon yang sangat akurat prediksinya itu menegaskan, daluang yang digunakan untuk media penulisan naskah tersebut bisa dipastikan ditebang pada rentang waktu antara abad 12 hingga 13. Dari usia dapat diprediksikan bahwa penulisan naskah itu pun berkisar tidak jauh dari abad itu, maksimal pada abad ke 14 naskah itu telah dibuat.

Sampai sekarang penelitian masih dilakukan terhadap Kecik Wok Gedang Wok, dalam kaitannya dengan sejarah dunia.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR