Kamis, 26 November 2020
Wisata & Sejarah
Puncak Suroloyo

Tempat Indah Mengintip Keajaiban Dunia

Minggu, 18 Desember 2016
SUGIONO/KISUTA.com

PERTAPAAN Suroloyo merupakan puncak tertinggi. Untuk menjangkaunya harus berjalan kaki menaiki 286 anak tangga yang dibangun dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Tapi, kerja keras ini segera terbayar oleh pemandangan yang benar-benar elok. Dari pun

KISUTA.com - Menyisihkan waktu barang sehari dalam satu bulan dan pergi mencari kesegaran di alam bebas yang segar, rasanya cukup mujarab mengobati kepenatan setelah bergelut dengan rutinitas di tempat kerja. Setidaknya itulah yang sering kami lakukan setiap akhir bulan untuk menjaga agar pikiran tetap fresh setelah 30 hari bergumul pekerjaan.

Terakhir, kami dalam rombongan kecil terdiri tiga orang mengendarai sepeda motor mengunjungi Puncak Suroloyo. Sebuah bukit berketinggian 1.091 mdpl di Pegunungan Menoreh, Kulonprogo, Yogyakarta.

Pukul 10 pagi kami berangkat. Perjalanan dimulai dari base camp kami di Godean. Bergerak ke arah barat menuju Kalibawang setelah sebelumnya melewati Sentolo. Petualangan mulai terasa seru saat hujan tiba-tiba turun ketika kami sampai pertigaan jalan ke arah Sendang Sono. Berhenti sejenak mengenakan mantel hujan, kami melanjutkan perjalanan sejauh 500 meter dan berbelok ke arah kiri.

Dari situlah petualangan sesungguhnya dimulai. Sepanjang 15 kilometer menuju Puncak Suroloyo kami harus melewati jalanan menanjak dan berkelok tajam di antara jurang yang dalam. Sebuah perjalanan cukup berat dan berbahaya, namun sekaligus juga menyenangkan karena keindahan pemandangannya.

Tak lama kemudian, kami melihat tiga buah gardu pandang menyembul dari balik kabut di atas bukit. Itulah tiga buah pertapaan yang juga dikenal dengan sebutan Puncak Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Seketika, lenyaplah rasa haus dan lelah menyaksikan keindahan yang terhampar di sekeliling puncak yang diyakini merupakan kiblat pancering bumi (pusat dari empat penjuru) di tanah Jawa.

Dari tempat itu kami bisa melihat empat gunung besar di Pulau Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih yang menyerupai lautan kapas. Dari beberapa bagian kabut yang bolong, terlihat hamparan sawah membentuk tapak siring dan ribuan pucuk pohon nyiur.

Pertapaan Suroloyo merupakan puncak tertinggi. Untuk menjangkaunya, kami harus berjalan kaki menaiki 286 anak tangga yang dibangun dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Tapi, kerja keras ini segera terbayar oleh pemandangan yang benar-benar elok. Dari puncak kami melihat stupa Candi Borobudur tampak kehitaman muncul dari balik kabut.

Suroloyo juga paling legendaris dibanding dua pertapaan lainnya. Di tempat inilah, konon Raden Mas Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo bertapa untuk menjalankan wangsit yang diterima. Bahwa ia akan menjadi penguasa tanah Jawa, tapi harus lebih dulu melakukan tapa kesatrian.

Menuju pertapaan lain, kami melihat pemandangan yang berbeda pula. Dari puncak Sariloyo yang terletak 200 meter barat Suroloyo, tampak Gunung Sumbing dan Sindoro secara lebih jelas. Beberapa meter dari pertapaan itu terdapat sebuah tugu pembatas antara Propinsi DIY dengan Jawa Tengah yang berdiri di tanah datar Tegal Kepanasan. Berjarak 250 meter dari Sariloyo, berdiri pertapaan Kaendran, menyuguhkan pemandangan kota Kulonprogo dan keindahan Pantai Glagah.

Setelah puas menikmati keindahan, sore hari kami pulang ke Jogja membawa kenangan mendalam. Puncak Suroloyo memang merupakan salah satu objek wisata alternatif yang layak dikunjungi.* Sugiono - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR