Sabtu, 19 September 2020
Wisata & Sejarah
Umbul Pengging

Tempat Padusan dan Kungkum Peninggalan Sri Paduka Pakubuwono X

Minggu, 6 September 2020
Eko Prasetyo/KISUTA.com
PEMANDIAN Pengging dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta yaitu Sri Paduka Pakubuwono X.*

KISUTA.com - Setiap menjelang puasa, Umbul Pengging ramai kedatangan pengunjung yang ingin padusan atau mandi besar. Ini tradisi mandi besar pada setiap satu hari menjelang datangnya Puasa Ramadhan. Mereka mandi besar di kolam renang Pemandian Tirtomarto atau lebih dikenal dengan sebutan Pengging.

"Mereka berniat mandi besar untuk membersihkan diri sebelum menunaikan ibadah puasa," ungkap Fitri, penduduk setempat.

Kolam itu berupa umbul atau mata air berupa air jernih yang keluar dari dalam tanah. Kawasan Pengging terdapat sejumlah umbul, yang kemudian dibuat sebuah kompleks pemandian. Permandian itu sendiri sudah ada sejak lama, konon peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta yang terletak di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Bahkan Pemandian Pengging dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta yaitu Sri Paduka Pakubuwono X.

Selain merupakan permainan air, kolamnya disesuaikan agar anak-anak tetap bisa berenang di dalamnya. Pengging merupakan kawasan wisata yang memadukan antara wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata alam dalam satu kawasan.

Umbul Pengging ini terdapat tiga macam kolam pemandian, yaitu:
Umbul Temanten
Umbul Temanten berbentuk persegi panjang dan memiliki kedalaman kurang lebih 50–170 cm. Di area pemandian ini juga terdapat tempat pemandian khusus untuk anak-anak. Pemandian khusus anak-anak ini berada di arah tenggara Umbul Temanten. Selain itu, di kolam pemandian Umbul Temanten ini juga dilengkapi dengan fasilitas 24 kamar ganti dan sejumlah kamar bilas.

Menurut cerita masyarakat, asal mula Pemandian Umbul Temanten berawal dari kunjungan Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono X yang melihat dua buah sumber air (umbul) yang terletak berdekatan di area Umbul Temanten ini. Setelah melihat kedua umbul tersebut, Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono X kemudian berdoa kepada Tuhan agar kedua umbul tersebut dipersatukan. Setelah selesai berdoa, akhirnya permintaan Sri Paduka Susuhunan Paku Buwono X itu dikabulkan Tuhan.

Bersatunya kedua umbul itu kemudian diberi nama Umbul Temanten yang diibaratkan menyatunya dua mempelai yang rukun menjadi satu. Peristiwa itu juga sekaligus mengandung piwulang (nasihat) kepada masyarakat bahwa dalam mengarungi hidup berumah tangga, suami isteri harus bisa menjalin hubungan yang rukun.

Umbul Ngabean
Umbul Ngabean berbentuk bulat dan memiliki kedalaman air sekitar 150 cm. Kolam ini hanya diperuntukkan bagi kalangan orang dewasa. Pelancong dapat berenang dengan leluasa di kolam ini karena kedalaman airnya sama di segala sisinya.

Umbul Sungsang
Umbul ketiga ialah Umbul Sungsang. Selain keindahan taman dan kesejukan air di kolam Pemandian Umbul Sungsang ini, pengunjung dapat mengikuti tradisi kungkum (berendam) yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat.

Berdasarkan pengakuan warga sekitar, pemandian ini merupakan pusat laku batin Kungkum masyarakat Pengging dan tidak sedikit pula diikuti oleh para pengunjung yang berasal dari berbagai kota. Tradisi yang diselenggarakan pada malam Jumat Pahing ini, biasanya dimulai pukul 24.00—03.00 WIB.

Untuk mencapai Pengging tidak sulit, dari kota Solo sekitar 20 km ke arah kota Boyolali, tetapi sebelum sampai Boyolali menemukan pertigaan ke arah kiri terus belok. Pada pertigaan itu terdapat petunjuk jalan menuju Pengging.* eko prasetyo - kisuta.com

 


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR