Rabu, 12 Agustus 2020
Wisata & Sejarah
Hidup Damai di Bethlehem

Umat Kristiani pun Menjalankan Puasa Ramadhan

Minggu, 17 Mei 2020
IST.

KISUTA.com - Ketika Israel secara membabi buta memborbadir rakyat Palestina di jalur Gaza hingga menewaskan ratusan korban, yang umumnya anak-anak dan orang tua, cobalah tengok kehidupan rukun di Palestina, tepatnya di Tepi Barat.

Di Tepi Barat tepatnya Kota Bethlehem, Palestina, hidup masyarakat beragama Islam dan Kristiani. Mayoritas penduduk kota ini adalah muslim. Namun, kota ini merupakan rumah umat Kristiani terbesar di Palestina.

Keharmonisan di kota ini ditunjukkan oleh survey yang menyebutkan, 90 persen umat Kristiani di Bethlehem memiliki teman muslim, 73,3 persen umat Kristiani mengatakan Otoritas Palestina menghormati semua warisan Kristen di kota itu, dan 78 persen melaporkan imigrasi orang Kristen dari Bethlehem lebih karena pembatasan perjalanan yang dilakukan pemerintah Israel.

Bukti toleransi yang sangat tinggi di antara kedua umat berbeda agama ini, tampak pada bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, umat kristiani menjalankan puasa untuk menghormati umat Islam.

Seperti dikatakan seorang umat Kristiani, Mike Kanawati yang dimuat di audigazette, beberapa waktu lalu, selama bulan Ramadhan, dirinya ikut berpuasa bersama tetangga muslimnya. Menurut Kanawati, puasa bersama ini adalah kelanjutan dari tradisi berabad-abad solidaritas antar agama di wilayah tersebut.

"Nenek saya biasa ikut berpuasa dan kita dibesarkan dengan cara ini untuk menunjukkan penghormatan dan solidaritas dengan agama-agama lain," kata Kanawati yang bekerja sebagai pengelola toko suvenir dan perhiasan di Bethlehem.

Toleransi juga ditunjukkan oleh umat muslim di Bethlehem, mereka juga melakukan puasa Kristen, yaitu berpantang makan keju, daging dan susu. Tradisi ini tetap dipertahankan dari generasi ke generasi di Bethlehem selama ratusan tahun.

Kanawati mengaku sangat bangga mengikuti tradisi tersebut, bahkan dia menekankan bahwa tradisi itu sama sekali tidak mengurangi imannya. Baginya, puasa dengan cara muslim maupun Kristen mengajarkan orang merasakan penderitaan mereka yang tidak memiliki makanan.

Toleransi ini sama sekali tidak mengurangi iman umat Islam maupun umat Kristen. Toleransi di Kota Bethlehem bisa menjadi contoh dimana perbedaan terasa indah ketika masing-masing bisa menghormatinya.* Uma – kisuta.com


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR