Rabu, 12 Agustus 2020
Artikel Opini
Esai

Bahaya Marah pada Sel Otak Anak

Rabu, 10 Juni 2020
Drs. Kuswari Drs. Kuswari Pendidik yang mantan wartawan

KISUTA.com - Marah adalah emosi yang terjadi pada seseorang yang terlihat dari perubahan wajah dan perilakunya. Kemarahan memuncak bisa terlihat dari ucapan maupun anggota badannya. Bila bunda marah pada anak, akan terlihat dari wajahnya serta matanya melotot dan bisa diikuti dengan pukulan atau cubitan yang menyakitkan.

Siapapun pernah marah, karena manusia dibekali potensi yang ada pada dirinya untuk marah. Marah bisa baik atau buruk, tergantung situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Marah pada anak yang ternyata dia mencuri uang milik bapaknya atau temannya, adalah marah yang dibenarkan dan wajib anak diberi teguran. Jika mendiamkan anak berbuat tercela, maka orangtua pun akan termasuk sebagai orang yang tercela.

Memang dalam diri manusia ada potensi marah yang disebut dengan nafsu amarah, yaitu nafsu jelek yang senantiasa ingin berbuat jelek. Ada pula nafsu yang baik, yang disebut dengan nafsu muthmainah,nafsu yang cenderung hanif (lurus) selalu ingin berbuat baik. Meskipun dalam buku tasauf, terbagi beberapa bagian nafsu, namun disini cukup dua saja, yaitu nafsu amarah dan muthmainnah.

Sesuai dengan judul di atas, maka yang dimaksud marah di sini, adalah nafsu amarah yang cenderung buruk dan ada pada setiap manusia. Nafsu amarah dikendalikan oleh setan yang ada pada dirinya. Ingat, setan hidup dalam darah manusia, sehingga ia setiap detik terus membisikkan keburukan.

Dalam surat An-naas, surat terakhir dalam al-Quran, ada perintah untuk berlindung dari kejelekan bisikan yang bernama "alkhonnas". Jenis makhluk halus ini ada dalam dada manusia, sehingga setiap menit terus melakukan bisikan yang buruk. Alladzi yuwaswisyu fii sudurinnas, yang artinya, "yang membisikkan dalam dada manusia"

Bisikan al-khonnas adalah bisikan yang mengajak pada kejelekan, keburukan dan ini yang harus dilawan, karena bisikan ini datangnya dari JIN dan MANUSIA. Jelas bahwa ada jin yang suka menganggu dan jin inilah yang dikategorikan dengan setan. Ada pula bisikan jahat yang datang dari manusia, inilah yang sering disebut dengan setan berwujud manusia.

Sifat marah pada anak usia dini, adalah marah yang berbahaya jika anak tidak melakukan perbuatan yang salah. Salah dalam pandangan kita, belum tentu salah pada anak. Ingat, anak usia dini adalah anak yang bersih dan suci, serta belum melekat dosa pada dirinya.

Ini yang harus sama-sama kita pahami. Anak usia dini (0 tahun - 6 tahun) adalah membawa FITRAH SUCI, jadi selama anak belum baligh (yaitu usia ketika dia sudah bisa membedakan mana yang benar dan salah, atau anak perempuan dengan keluarnya menstruasi atau laki-laki mimpi basah), maka anak itu tidak dapat dikategorikan berbuat dosa ketika melakukan kesalahan, karena belum memasuki usia baligh.

Bahayanya marah pada anak usia dini, karena anak tidak tahu mana SALAH dan BENAR, misalnya dia ngompol di kursi atau BAB dimana saja, TIDAK PERLU bahkan JANGAN SEKALI-KALI dimarah karena berdampak pada Sel Otaknya yang bisa musnah.

Sebagaimana pernah disinggung, SATU BENTAKAN saja, maka 1 MILYAR SEL OTAK akan rusak, sedangkan tindakan kekerasan (memukul, mencubit,menempeleng, menendang) akan memusnahkan 10 MILYAR sel otak. Maka sangat berbahaya dampak yang ditimbulkan ketika orangtua bertindak kasar pada anak usia dini.

Padahal anak usia dini adalah "Golden Age" (Usia Emas),yaitu masa ketika sel-sel otaknya yang jumlahnya triliyunan itu berkembang baik dan akan berdampak pada kecerdasan di masa remaja. Bahkan anak bisa menjadi hebat dan menemukan sesuatu yang baru, karena otaknya yang luar biasa. Usia emas hanya berlangsung SATU KALI sepanjang rentang kehidupan manusia.

Ketika anak usia dini, tanpa sebab mendadak, ngamuk, ngadat, cengeng dan menjengkalkan membuat orangtua timbul kemarahan, disinilah HARUS hati-hati dan waspada. Ingat, karena anak itu FITRAH SUCI, belum ada dosa, maka boleh jadi ALLAH SWT menguji bunda karena (maaf bukan menuduh, ini kata ulama) ada DOSA yang pernah dilakukan, terutama pada Ibu bapak atau mertua, atau pada suami atau istri atau dosa pada tetangga.

Maka segeralah beristighfar dan bertobat memohon ampunan pada Alloh serta segera meminta maaf, terutama pada ibu bapak atau mertua atau pada siapapun yang pernah kita sakiti. Insya Alloh, anak kita tidak akan lagi ngamuk, ngadat, atau menjengkalkan lagi. Insya Alloh.

Robbana alaika tawakalna wa ilaika anabna wa ilaikal masir.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR