Rabu, 12 Agustus 2020
Artikel Opini
Kolom

Kecerdasan Anak Usia Dini

Sabtu, 6 Juni 2020
Drs. Kuswari Drs. Kuswari Pendidik yang mantan wartawan

KISUTA.com - Seorang ibu memberikan komentar saat anaknya tidak mau diam di sekolah. "Pak dia mah di rumah nakal, tidak mau diam, bahkan terkadang melawan". Sementara seorang ibu lagi berkata, "Ampun pak nih anak saya di rumah tidak mau diam, saya kesal, saya sering marah-marah". Banyak lagi ragam komentar ibu-ibu yang hampir sama permasalahan yang dihadapinya.

Banyak bunda yang kewalahan menghadapi anak-anak usia dini yang mulai terlihat perilakunya berubah drastis, bahkan yang sama sekali tidak diduga, anaknya mengeluarkan kata-kata kotor dan jorok. Bahkan saya sendiri sempat kaget ketika anak menyebutkan kata yang tidak pantas diucapkan.

Anak usia dini di manapun berada selalu BELAJAR dari apa yang DIA LIHAT dan DIA DENGARKAN. Bahkan, yang sangat berbahaya, jika anak usia dini, melihat tayangan di TV seperti tinju yang setiap hari Minggu ditayangkan di salah satu TV swata, smack down atau yang cenderung keras, dia ingin meniru. Anak usia dunia adalah seorang peniru unggul, yang dia bisa menirukan apa yang dilihat dan disaksikannya.

Tanyangan kekerasan yang dilihat setiap hari telah mempengaruhi kecerdasannya, dia ingin mencoba meniru gerakan yang dilihatnya. Saat itulah otak anak mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang pesat. Bila yang dilihatnya adalah adegan kekerasan, maka teman atau adiknya di rumah menjadi sasaran, karena dia BELAJAR apa yang DILIHAT.

Harus diakui bahwa setiap anak yang lahir ke dunia telah dianugerahkan kecerdasan oleh Allah Subhanahu wata'ala. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan? Menurut Alfred Binet, ilmuwan yang mempelajari kecerdasan, mengatakan, kecerdasan adalah kemampuan yang terdiri dari (a) Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan (b) Kemampuan untuk mengubah arah pikiran atau tindakan dan (c) Kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan diri sendiri (aotucritism).

Howard Gardner (1993) yang meneliti tentang kecerdasan majemuk mengatakan bahwa setiap anak memiliki 9 kecerdasan, yakni:

1. Kecerdasan Verbal-Linguistik diperlihatkan dengan kepekaan anak usia kecenderungan menyukai komunikasi lisan dan tulisan, mudah mengingat, pandai lelucon dll.

2. Kercerdasan Logis-Matematis, anak cenderung menyukai hitungan dan angka-angka, menganalisis bilangan, bisa menghubungkan, memperkirakan, dll.

3. Kecerdasan Visual-Spasial, cenderung anak menyukai arsitektur, bangunan, dekorasi, apresiasi seni, desain atau denah, membuat bentuk.

4. Kecerdasan Musikal, anak yang cerdas dalam musikal cenderung menyukai musik, bernyanyi kecil, bersiul, memainkan intsrumen musik, dll.

5. Kecerdasan Kinestik, anak ini cenderung menyukai gaya, menyanyi, senang menari, bisa menggerakkan tangan kanan dan kiri berbarengan, bisa menggunakan bahasa tubuh, dll.

6. Kecerdasan Interpersonal, anak ini cenderung menyukai, mengasuh dan mendidik orang lain, berkomunikasi, berempati dan mengorganisasikan kelompok, dll.

7. Kecerdasan Numerik, cenderung anak ini menyukai tumbuhan dan hewan, mengklasifikan flora dan fauna, dll.

8. Kecerdasan Intrapersonal, cenderung anak ini senang menyendiri, berpikir merenung, pendiam dan bisa mengerjakan tugasnya, dll.

9. Kecerdaan Eksistensial, cenderung anak ini menyukai pemikiran tentang siapa Tuhan, kenapa ada Tuhan, selalu mencari inti permasalahan.

Dengan demikian, orangtua tidak perlu bingung dan resah ketika anak usia dini tumbuh kecerdasan dengan berperilaku dan bersikap yang terkadang tidak kita pahami.

Hanya saja mereka perlu diberi ruang yang luas untuk mengembangkan kecerdasannya. Jangan sekali-kali, melarang apa yang dilakukan anak, sepanjang tidak berbahaya.

Biarlah anak tumbuh sesuai dengan kecerdasan yang sudah dimiliki saat dia lahir ke alam dunia.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR