Kamis, 26 November 2020
Artikel Opini
Esai

Kitab Suci

Minggu, 30 Agustus 2020
Abu Ainun Abu Ainun Petualang Rasa

KISUTA.com - Amarta, negeri yang gemah ripah loh jinawi. Seisi negeri hidup rukun, damai, aman sentosa, karena dari rakyat jelata hingga petinggi negeri berakhlak baik, berperilaku sesuai tetekon. Yang membedakan Amarta hingga menjadi negeri yang damai sentosa, karena negeri ni memiliki Jamus Layang Kalimusada. Kitab suci yang diyakini seisi negeri teramat keramat, bahkan dijadikan ajimat, sehingga harus disimpan di ubun-ubun ratu, di dalam mahota Prabu Yudistira.

Namun, manakala ajimat itu raib, dicuri maling nyiliwuri, malapetaka pun menimpa. Negeri gonjang-ganjing. Rakyat dan pejabat tersesat, limbung kehilangan pegangan. Jamus Layang Kalimusada baru sebatas 'dibendakan', tak masuk di lubuk kalbu, pun tak mengisi hati.

Kitab suci, kita pahami betul, wajib adanya. Tak ada negara, sekte, aliran, pun agama yang tidak memiliki kitab suci. Yang membedakan, di samping 'kualitas' kitab suci itu sendiri, adalah cara pandang ataupun cara menyikapi dari umat yang meyakininya. Ada kitab suci ciptaan orang suci, sekadar produk sang resi. Juga ada kitab suci dari wahyu Illahi--sesungguhnya kitab suci yang merupakan produk Yang Maha Suci.

Begitu pun setiap umat dalam menyikapi dan meyakini kitab sucinya. Beragam pandang, ada yang begitu gampangnya mengupas, menerjemahkan, menafsikan namun dengan mudahnya pula 'melupakan' yang aslinya. Sehingga, boleh jadi, sedikit demi sedkit melenceng dan tidak menutup kemungkinan terjadi penyelewengan terhadap isi kitab suci itu sendiri.

Sebaliknya, ada yang meyakininya bak ajimat, seperti halnya rakyat Amarta meyakini Jamus Layang Kalimusada. Jangankan paham dan tuntas mengupas, untuk sekadar tahu isinya pun terbilang tabu.

Al-Quran, ada dan keberadaannya tak diragukan lagi. Inilah mu'jizat Rasulullah terbesar sepanjang zaman. Keutamaan kitab suci ini sudah sangat jelas disampaikan sendiri oleh Al-Quran bahwa Al-Quran memang mempersilahkan bukan hanya untuk umat Islam tapi juga manusia secara keseluruhan.Kitab suci ini adalah mu'jizat yang abadi sepanjang zaman. Inna Nahnu nazzalnaz zikra wa inna lahu lahafizun (sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan kami yang akan memeliharanya).

Meski utama dan teramat agung, Al-Quran tidak boleh dijadikan ajimat, dikeramatkan, sehingga tabu untuk 'disentuh'. Justru Al-Quran telah mengatakan dirinya mudah untuk dipelajari, mudah untuk dihafal, dan mudah untuk diamalkan. Seperti dikatakan dalam Hadis, Al-Quran itu adalah ma'dubatullah (hidangan Tuhan). Al-Quran disuruh sama Allah untuk disantap oleh manusia bukan saja untuk umat Islam, tetapi juga umat lainnya. Tinggal maukah kita untuk mencicipi hidangan Tuhan itu. Al-Quran menyapa umat manusia di semua ruang dan waktu. Sehingga ajaran-ajarannya pun bisa bersifat selalu aktual dan kontekstual.

Bagaimana kita, khususnya umat Islam, memandang, menyikapi dan memperlakukan Al-Quran, yang sesungguhnya begitu gamblang dijelaskan Allah Azza Wajalla baik dalam Al-Quran sendiri maupun melalui Hadis Rasulullah: "Apabila seseorang ingin berdialog dengan Robbnya maka hendaklah dia membaca Al-Quran" (Adailami dan Al Baihaqi).

Al-Quran adalah aturan baku, pedoman hidup langsung dari Sang Khalik agar kita, segenap makhluk, mampu melangkah ke jalan lurus. "Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegangan dengannya, yaitu Kitabullah (Al-Quran) dan sunnah Rasulullah SAW" (HR.Muslim).***


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR