Rabu, 27 Oktober 2021
Artikel Opini
Opini

Komunikasi Komunitas, Efektif Mencegah Infodemik

Jumat, 23 Juli 2021
Marroli J. Indarto Marroli J. Indarto Pranata Humas Madya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)

KISUTA.com - Hari demi hari, jumlah pasien positif Covid-19 terus mengalami kenaikan di Indonesia, menyasar berbagai usia dari lansia sampai bayi. Selain, munculnya varian baru Corona yang mudah menyebar, lemahnya penerapan protokol kesehatan juga ditengarai salah satu faktor penyebabnya.

Dalam data yang dikutip dari Kemenko Ekonomi, menunjukkan terjadi pelonjakan hingga 54,9% di akhir Juni 2021. Keterisian tempat tidur juga terus mengalami kenaikan pasca pelaksanaan Natal dan tahun baru (NATARU) sekitar 72,4%.

Banyak ahli mengatakan Covid-19 ini belum tentu akan hilang, bahkan ada potensi akan menjadi endemi di Indonesia. Berharap dari kekebalan komunitas pun tidaklah mudah, perlu 70% penduduk, dan ini tidak bisa dicapai dalam waktu dekat.

Dalam kondisi sulit ini, kita juga menghadapi infodemik, yakni kondisi berkembangnya informasi terkait suatu fenomena tanpa mempertimbangkan kebenaran data atau fakta.

“Kami tidak hanya memerangi epidemi, kami sedang berjuang melawan infodemik,” ungkap Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam sambutan Konferensi Keamanan Dunia di Munich, Jerman, 15 Februari 2020 lalu.

Hal tersebut disampaikan Ghebreyesus mengingat berita palsu menyebar lebih cepat dan mudah daripada virus Corona. Sebaran berita palsu tersebut sama berbahayanya dengan virus SARS-CoV-2.

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informaitika (Kemkominfo), hingga 10 Juli 2021, hoaks tentang Vaksin mencapai 248 informasi, sedangkan tentang PPKM darurat hingga 14 informasi.

Masyarakat juga mengalami Pandemic Fatique. Mereka merasa Lelah karena menghadapi ketidakpastian maupun keterbatasan, baik dirinya, Kesehatan, ekonomi dan lain sebagainya. Dalam skala tertentu, banyak orang memilih untuk mengambil resiko terkena virus. Mereka keluar rumah, makan di restoran, jalan-jalan ditaman, sampai memilih mudik karena merasa bosan dan Lelah.

Satu-satunya jalan agar kita tidak menyerah menghadapi pandemi adalah tetap termotivasi untuk waspada. Mencoba untuk taat pada suatu peraturan memang tidaklah mudah, apalagi bila tidak didukung dengan lingkungan, misal yang menerapkan protocol kesehatan sedikit, atau belum ada lingkaran terdekat yang terkena Covid-19.

Oleh karena itu, komitmen untuk tetap menjaga diri demi kesehatan pribadi dan orang lain menjadi kunci utama. Sedapat mungkin tetap terinformasi dan fleksibel dalam menghadapi perubahan dan imbauan kesehatan, menjadikan protokol Kesehatan sebagai kebiasaan sehari-hari.

Kita harus banyak menginisiasi dan menginspirasi orang-orang yang mampu berpikir nyata, dan dapat mengurai secara jelas sebab dan akibat suatu kebijakan. Mereka harus mendapatkan tempat dalam lingkungan komunikasi komunitas. Belum lagi, melakukan edukasi pada orang-orang yang tidak mau menghadapi kenyataan, tapi selalu menghindar.

Komunikasi dalam kondisi apapun adalah kebutuhan mendasar bagi manusia, conditio sine qua none. Untuk menghadapi pandemi ini, kita membutuhkan akses informasi yang sehat serta komunikasi relasional yang positif antar berbagai teman agar mempunyai kondisi motivasi yang sama.

Model Komunikasi Relational didefinisikan oleh Schramm (1973) sebagai seperangkat aktivitas interaksi yang berpusat pada informasi sebagai bagian dari hubungan sosial tersebut. Komponen utama dari model komunikasi ini adalah informasi, hubungan baik antara partisipan, dan penerima aktif. Menurut model ini, komunikasi dikatakan efektif apabila tercapai pemahaman bersama antara partisipan dan penerima atas suatu pesan atau informasi.

Messaging Platform dalam survey Indikator pada Februari 2021 menempatkan WhatsApp 47,1% sebagai akses dan sumber informasi tentang Covid-19 dan Facebook sebanyak 35,9%.

Komunikasi komunitas yang efektif bisa dimulai dari kelompok-kelompok kecil misalkan WhatsApp atau Telegram keluarga, forum di media sosial yang berbasis hobi dan medium lainnya. Dalam komunitas harus ada opinion leader yang mampu menjadi mediator. Mereka harus mampu menjadi gate keeper informasi apakah layak disebarkan? Apakah dihentikan? Atau dicarikan data pembanding.

Komunikasi berjalan efektif bila intervensi dilakukan dengan benar. Pertama, adanya edukasi pada grup, ada upaya mendidik anggota grup dari yang tidak tahu menjadi tahu atau dari panik menjadi tidak panik. Informasi yang positif dan optimis adalah kata kunci untuk mendinamiskan suasana.

Kedua, ada rekayasa komunikasi. Komunikasi kelompok harus mempunyai aturan yang jelas dan tegas dan berlaku untuk semua anggota grup. Misalkan, bila terindikasi melakukan share berita tidak valid langsung diberikan peringatan, atau sebisa mungkin diberikan sanksi sosial.

Terakhir, penegakan disiplin, siapapun mereka yang ditetapkan sebagai opinion leader dapat memberikan sanksi yang tegas terhadap penyebar informasi yang tidak betul.

Kita tegaskan kembali, selain menghadapi pandemi yang tidak kunjung membaik, usaha kita bersama adalah melawan infodemik yang semakin variatif dengan konten-kontenya. Adalah tugas kita bersama memproteksi keluarga atau komunitas dalam skala mikro dengan memberikan informasi yang benar dan komunikasi yang humanis.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR