Senin, 25 Januari 2021
Artikel Opini
Esai

Membangun Rumah di Tengah Hutan

Kamis, 13 Agustus 2020
Hariyawan Esthu Hariyawan Esthu Kolumnis yang jurnalis

Apabila orang menulis buku yang lebih baik,
menyampaikan khotbah yang lebih baik, atau membuat perangkap tikus yang lebih baik daripada tetangganya, meskipun ia membangun rumahnya di tengah hutan,
namun dunia pasti akan membuat jalan sampai ke pintunya.
--Ralph Waldo Emerson

KISUTA.com - Sebagaimana diungkapkan penyair dunia, Emerson, kita setuju menulis (buku) yang lebih baik adalah hal penting. Menulis merupakan tuntutan ke dua setelah membaca. Ketika minat baca masyarakat meningkat, akan diikuti keinginan untuk menuangkan apa yang ada dalam benaknya ke dalam sebuah tulisan.

Tulisan yang merangkai sebuah buku, intinya berangkat dari suatu gagasan. Di dalamnya; bakat, tekad, ketersediaan, dan faktor “kebetulan” terpaksa disisihkan, meski bukan berarti dianggap tidak ada. Tinggal gagasan yang telah “suci hama” yang berenang di jambangan teori kepenulisan, untuk dipelajari, diperdebatkan, dan diuji coba.

Gagasan, diyakini mustahil mekar kalau digembok dalam kandang. Gagasan hanya bisa tumbuh dewasa bila dilepas keluyuran seperti ayam kampung, diberi ruang supaya segala macam zat bebas bertandang, diizinkan berbenturan, mati alami atau musnah kecelakaan di perempatan jalan.

Memang, tidak banyak yang bersedia menuruti wejangan semacam itu. Sekali gagasan keluar kandang, risiko setia menghadang. Gagasan yang bugar berotot, barangkali dapat lolos dari marabahaya dan paling-paling hanya lecet atau memar di sana-sini. Namun gagasan yang ringkih gontai, nyaris tidak berpeluang melangkahi masa kanak-kanaknya.

Gagasan pun niscaya mengalami padu-padan jika sasarannya adalah penemuan yang berguna bagi kemanusiaan. Gagasan beroperasi dalam bentuk jamak. Bahkan pembentukan gagasan yang terbetik pada detik ini pun, sesungguhnya mesti digagas sehubungan dengan gagasan-gagasan yang sudah lahir sebelumnya; mungkin seribu tahun silam sudah pernah digagas orang. Apa yang kini merupakan barang “siap pakai” dan “siap saji” adalah olahan bahan-bahan baku yang panjang sejarahnya.

Memang, dalam perjalanannya, gagasan –yang dituangkan ke dalam sebuah buku lebih baik—harus melalui rambu-rambu atau konvensi kepenulisan, agar mampu tumbuh dan beranjak dewasa dalam memberi sumbangsih atas nama kemanusiaan. Namun yang terlebih dahulu, gagasan itu mesti dilahirkan. Kalau tak lahir, maka tak hidup (meminjam syair lagu Rita Ruby Hartlan).

Beranjak dari semua itu, gagasan yang “dewasa” menuang dalam sebuah buku yang baik. Gagasan serupa, juga diniatkan dengan menerbitan laman kisuta.com ini. Dengan demikian, meski kita membangun rumah di tengah hutan, namun dunia pasti akan membuat jalan sampai ke pintu rumah kita. Kita harus yakin itu.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR