Sabtu, 19 September 2020
Artikel Opini
Inspirasi

Nasihat Si Gila

Kamis, 10 September 2020

KISUTA.com - Harun Ar-Rasyid hendak berhaji. Ketika melintasi Kuffah, dia tinggal di sana beberapa hari dan menyuruh rombongan untuk pergi bersama sejumlah orang. Bahlul, si gila, termasuk orang yang pergi. Dia duduk di pinggir jalan, sedang anak-anak mengganggu dan mengolok-oloknya.

Tiba-tiba datanglah sekedup Harun yang menghentikan olok-olok anak-anak. Tatkala Harun tiba, Bahlul berteriak memanggilnya, "Hai Amirul Mukminin, Aiman bin Na'il meriwayatkan bahwa Qudamah bin Abdullah al-Amiri, berkata, 'Aku melihat Nabi SAW di atas unta dengan menduduki pelana yang usang.' Tidak ada pukulan, tidak ada pengusiran, dan tidak ada perintah menghindar. Kerendahan hatimu dalam perjalanan ini, hai Amirul Mukminin, lebih baik bagimu daripada kecongkakanmu."

Harun menangis hingga air matanya jatuh ke tanah, lalu berkata, "Hai Bahlul, lanjutkanlah kata-katamu. Semoga Allah merahmatimu."

Bahlul berkata:
Katakanlah engkau memiliki dunia seluruhnya
dan engkau pun menguasai manusia, lalu bagaimana?
Bukankah esok kamu kembali ke perut bumi
ditimbun tanah ini, lalu bagaimana?

Maka Harun menangis kemudian berkata, "Alangkah bagus nasihatmu, hai Bahlul."

Khalifah menyuruh orang memberinya hadiah.

Bahlul berkata, "Aku akan mengembalikan hadiah kepada orang yang engkau telah mengambil hadiah itu darinya. Aku tidak membutuhkannya."

"Hai Bahlul, jika kamu punya utang, kami akan melunasinya."

"Hai Amirul Mukminin, utang tidak bisa dibayar dengan utang. Aku akan mengembalikan hak kepada pemiliknya. Bayarlah utangmu sendiri."

"Hai Bahlul, kami akan mencukupi kebutuhanmu."

Bahlul menengadahkan kepalanya ke langit, lalu berkata, "Hai Amirul Mukminin, aku dan kamu merupakan tanggungan Allah Ta'ala. Tidak mungkin Dia mengingatmu dan melupakan aku."

Harun Menutupkan tirai sekeduknya kemudian berlalu.* Abu Ainun/"Pengalaman Ruhaniah Kaum Shufi" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR