Jumat, 26 Februari 2021
Artikel Opini
Opini

Pemanfaatan Tepung Daun Kelor dalam Pencegahan Anemia pada Remaja Putri

Minggu, 14 Februari 2021
Munaaya Fitriyya, SE, SST, M.Kes Munaaya Fitriyya, SE, SST, M.Kes Dosen ITS PKU Muhammadiyah Surakarta

KISUTA.com - Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan di seluruh dunia terutama negara berkembang termasuk Indonesia. Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rawan terhadap anemia. Insiden anemia dipengaruhi oleh asupan zat besi yang rendah. Masa remaja merupakan masa di mana pertumbuhan terjadi dengan cepat, sehingga kebutuhan gizi pada masa ini pun ikut meningkat. Kekurangan zat besi dapat menimbulkan gangguan atau hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak. Kekurangan kadar Hb dalam darah dapat menimbulkan gejala lesu, lemah, letih, lelah dan cepat lupa. Akibatnya dapat menurunkan prestasi belajar, olah raga dan produktifitas kerja. Selain itu anemia gizi besi akan menurunkan daya tahan tubuh dan mengakibatkan mudah terkena infeksi. Kekurangan zat besi sebagai salah satu dari sepuluh masalah kesehatan yang paling serius. Salah satu zat gizi yang kebutuhannya meningkat adalah zat besi (Veratamala, 2016).

Pada masa remaja atau Adolescence Growth Spurt terjadi pertumbuhan yang sangat pesat sehingga mereka memerlukan zat-zat gizi yang relatif besar jumlahnya. Remaja memiliki resiko tinggi terhadap kejadian anemia terutama anemia gizi besi. Hal itu terjadi karena masa remaja memerlukan zat gizi yang lebih tinggi termasuk zat besi untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Remaja putri memiliki resiko yang lebih tinggi di bandingkan remaja putra, hal ini dikarenakan remaja putri setiap bulannya mengalami haid (menstruasi). Selain itu remaja putri cenderung sangat memperhatikan bentuk badannya sehingga akan membatasi asupan makan dan banyak pantangan terhadap makanan seperti melakukan diet vegetarian (Almatsier,dkk.,2011). Anemia pada remaja putri disebabkan masa remaja sudah mengalami menstruasi. Menstruasi adalah keadaan yang fisiologis, peristiwa pengeluaran darah, lendir dan sisa – sisa sel secara berkala yang berasal dari mukosa uterus dan terjadi relatif teratur mulai dari menarche sampai menopause, kecuali pada masa hamil dan laktasi (Prawirohardjo, 2011).

Kelor (Moringa Oleifera) merupakan salah satu tanaman lokal yang telah dikenal berabad-abad sebagai tanaman multiguna, padat nutrisi dan berkhasiat obat. Mengandung senyawa alami yang lebih banyak dan beragam dibanding jenis tanaman lainnya. Menurut hasil penelitian, daun kelor mengandung vitamin A, vitamin B, vitamin C, kalsium, kalium, besi dan protein dalam jumlah sangat tinggi yang mudah dicerna oleh tubuh manusia. Tingginya kandungan zat besi (Fe) pada daun kelor kering ataupun dalam bentuk tepung daun kelor yaitu setara dengan 25 kali lebih tinggi daripada bayam dapat dijadikan alternatif penanggulangan anemia ( Aminah, 2015).

Suplementasi tepung daun kelor yang diberikan kepada remaja putri ini tentunya dapat memberikan tambahan asupan Fe kepada remaja yang mengkonsuminya selain makan yang dikonsumsinya sehari-hari. Tentunya remaja putri dalam asupan sehari -hari harus mengandung gizi seimbang meliputi karbohidrat, protein , lemak, mineral.

Hasil Penelitian kami di Laboratorium Penguji Pangan dan Gizi  ( No : 884/PS/07/18   ) terhadap tepung daun kelor dengan perlakuan sinar matahari diperoleh hasil :a) Kadar lemak  6.74%, asam  lemak ini membantu mempercepat metabolisme, sehingga jika dikonsumsi daun kelor memiliki tingkat energi yang tinggi. b) Kadar protein 23,37%, daun tanaman kelor memiliki kandungan asam amino esensial yang tinggi, termasuk asam amino sulfur yang mirip dengan asam amino yang dikandung biji kedelai.c) Serat kasar sebesar 3,67%, daun kelor dapat menurunkan kolesterol jahat dan mengurangi nafsu makan sehingga  membantu menurunkan berat badan.d) Mengandung senyawa mineral yang cukup tinggi, yaitu kadar Zat Besi (Fe) 177,74 ppm, kadar Calsium (Ca) 16.350,58 ppm, kadar Natrium (Na)  1.206,54 dan kadar fosfor sebesar 290,65 mg/100gr. Kandungan mineral yang tinggi dipengaruhi oleh menurunnya kadar air dalam tepung daun kelor, sehingga mineral menjadi lebih pekat dan kadarnya meningkat.

Kandungan zat besi yang tinggi berfungsi sebagai bahan pangan fungsional untuk mengatasi anemia.  Hal ini sejalan dengan penelitian kami di Pondok pesantren dengan subyek remaja putri dimana kadar hb sebelum konsumsi tepung daun kelor di bawah batas normal dan setelah konsumsi tepung daun kelor mengalami peningkatan kadar HB.

Pemanfaatan kelor  oleh masyarakat belum banyak diketahui, umumnya dikenal sebagai menu sayuran. Selain dikonsumsi langsung dalam bentuk segar, kelor dapat diolah menjadi bentuk tepung (powder),  dapat digunakan sebagai fortifikan untuk mencukupi nutrisi pada berbagai produk pangan, seperti pada olahan pudding, cake, nugget, biscuit, cracker serta olahan lainnya. Tepung daun kelor dapat ditambahkan untuk setiap jenis makanan sebagai suplemen gizi. Sesuai penelitian kami daun kelor merupakan zat besi non heme dari jenis sayuran yang dapat dijadikan alternative penanganan anemia.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR