Jumat, 18 September 2020
Artikel Opini
Inspirasi

Penampilan Wanita Penyabar

Jumat, 11 September 2020

KISUTA.com - Abu Hasan bercerita: Aku pergi berhaji ke Baitul Haram. Saat Thawaf, aku melihat seorang perempuan yang wajahnya bercahaya karena demikian cantiknya. Aku berkata, "Demi Allah, aku belum pernah melihat wanita secerah dan secantik ini kecuali sekarang. Kecantikannya itu tiada lain karena dia jarang berduka dan sedih."

Ternyata dia mendengar perkataanku, lalu berkata, "Hai Fulan, apa yang tadi kaukatakan? Demi Allah, sesungguhnya aku senantiasa dibelit dengan aneka kesedihan dan hatiku dirundung kedukaan dan nestapa."

"Kedukaan macam apa?" tanyaku.

"Saat itu suamiku menyembelih kambing kurban kami, dua anak laki-laki kami sedang bermain-main, dan di pangkuanku ada bayi yang masih menetek. Aku beranjak untuk membuat makanan bagi mereka. Tiba-tiba anak kami yang paling besar berkata kepada adiknya, 'Maukah kutunjukkan apa yang dilakukan ayah terhadap kambing?'

"Maka dia membaringkan adiknya, lalu menyembelihnya. Sang kakak pun kabur ke gunung dan tewas diterkam srigala. Suamiku berangkat mencarinya. Dia dilanda kehausan, sehingga tewas. Kuletakkan bayiku, lalu menuju pintu untuk mengetahui apa yang terjadi. Tiba-tiba bayiku merangkak menuju kuali yang ada di atas api. Dia menariknya, sehingga isinya tumpah ke tubuhnya. Maka kulit dan dagingnya melorot dari tulang.

"Sampailah berita ini ke anak perempuanku yang telah berkeluarga. Tatkala mendengarnya, dia menjatuhkan diri ke tanah, sehingga menemui ajalnya. Bencana telah membuatku sebatang kara."

Aku (Abul Hasan) berkata, "Bagaimana engkau bersabar menghadapi musibah-musibah yang besar ini?"

Dia menjawab, "Tiada seorang pun yang memisahkan antara bersabar dan berkeluh kesah melainkan dia menemukan cara yang berbeda di antara keduanya. Bersabar dengan memperlihatkan penampilan yang baik akan membuahkan hasil yang terpuji, sedangkan keluh kesah takkan dapat mengembalikan keadaan."

Wanita itu berlalu sambil bersenandung:
Aku bersabar. Ternyata kesabaran merupakan pegangan terbaik.
Apakah keluh kesah berguna, lalu aku mempraktikannya?
Kutahan air mata dan kukembalikan kepada yang menatapku,
sedang mata hatiku berlinang.* Abu Ainun/"Pengalaman Ruhaniyah Kaum Shufi" - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR