Jumat, 30 Oktober 2020
Artikel Opini
Esai

Perang Gagasan dalam Politik

Rabu, 6 Desember 2017

“Memang politik menyangkut hidup kita, tapi tak boleh menenggelamkan kita”
(Goenawan Mohamad)

GAGASAN merupakan suatu produk dari olah pikir dan rasa manusia, setiap gagasan tidak selamanya mustahil untuk dapat diwujudkan. Di era kesejagatan yang ditandai dengan kemajuan teknologi yang benar-benar telah mengubah pola kehidupan masyarakat dunia termasuk pada pola pikir yang berujung pada suatu kebutuhan pada masyarakat. 

Hal ini pun berimbas pada pola-pola pemasaran bidang politik, masyarakat yang semakin cerdas dengan derasnya arus informasi dari berbagai sumber yang banyak memberikan referensi serta dapat mempengaruhi sudut pandang opini masyarakat dalam dunia politik. Pola-pola politik lama mulai banyak ditinggalkan karena dianggap sudah tidak lagi relevan dengan keadaan saat ini, hal ini dapat kita perhatikan sejak beberapa tahun yang lalu. 

Masih terekam dalam ingatan kita semua bagaimana kemenangan Ridwan Kamil di Kota Bandung, Bima Arya di Kota Bogor, Joko Widodo di DKI Jakarta (Kemudian menjadi Presiden Indonesia), Ganjar Pranowo di Jawa Tengah dan beberapa kepala daerah serta pemimpin politik lainnya yang dengan cerdas menggunakan kekuatan media informasi dalam menarik dukungan. Masyarakat Indonesia yang semakin cerdas tidak memerlukan pemimpin yang hanya memberikan janji semata, namun masyarakat saat ini memiliki kecenderungan untuk memilih pemimpinnya berdasarkan gagasan yang dimilikinya. 

Sebuah gagasan tidak akan dapat dikenal oleh masyarakat yang menjadi pemilihnya jika tidak dipublikasikan dengan baik serta menggunakan metode pendekatan yang populis terhadap masyarakat. Ridwan Kamil adalah salah satu contoh kepala daerah di Indonesia yang sukses menarik dukungan begitu besar sehingga mengantarkannya menjadi Walikota Bandung, padahal beliau bukan berasal atau merupakan kader partai politik. Sebagai seorang profesional, Ridwan Kamil banyak menjual gagasan dengan slogannya “Bandung Juara” dan dia mampu memberikan interpretasi atau gambaran dalam bentuk visual terkait dengan gagasannya kepada masyarakat. 

Masyarakat Kota Bandung yang kala itu mulai mengalami kejenuhan terhadap program-program pemerintah yang monoton seakan mendapatkan secercah harapan dari kemunculan tokoh yang satu ini. Hasilnya, beliau terpilih menjadi Walikota Bandung dan banyak menuai prestasi bagi Kota Bandung dengan gagasan-gagasannya yang kreatif dan inovatif dengan memadukan kemajuan teknologi, kebudayaan dan kebutuhan masyarakat selain itu kejeliannya dalam memanfaatkan akun-akun media sosial pribadinya menjadi salah satu kekuatannya dalam menampung aspirasi dan bercengkerama dengan warganya. 

Apa yang dilakukan Ridwan Kamil di Bandung menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh lainnya di berbagai daerah dan uniknya banyak yang berhasil menerapkannya, Prestasi Kota Bandung pun kini menjadi salah satu barometer bagi kota-kota lainnya di Indonesia. 

Menjelang Pemilihan Kepala Daerah serentak tahun 2018 mendatang, banyak nama mulai bermunculan untuk bertempur dalam pemilihan di daerahnya masing-masing. Pemasangan baliho memang masih nampak terlihat di mana-mana bahkan jauh sebelum adanya keputusan dari parpol bersangkutan tentang siapa yang akan diusung oleh parpol tersebut. Karena saat ini yang diperhitungkan adalah figurnya bukan parpolnya. 

Beragam baliho dari tokoh-tokoh popular mulai mewarnai jalanan tak terkecuali di Jawa Barat, gambar-gambar tokoh-tokoh yang disinyalir akan maju menjadi Jabar Satu mulai marak di jalan protokol dengan berbagai slogan yang ditawarkannya. 

Nama-nama yang muncul itu sudah sangat akrab di telinga masyarakat di mana hal ini semakin menandakan bahwa orang-orang yang akan bertempur dalam Pilgub Jabar ini bukan orang dengan tingkat popularitas rendah karena mereka telah memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menyebar gagasan-gagasannya melalui media sosialnya masing-masing sehingga masyarakat sudah mengetahui track record dari masing-masing tokoh tersebut. Berbanding terbalik ketika nama-nama politisi yang jarang muncul di media sosial disebut, maka dapat dipastikan nama itu akan tenggelam sebelum muncul ke permukaan padahal orang tersebut besar kemungkinan adalah hasil dari proses kaderisasi parpol. 

Adalah sebuah dilematis manakala kekuatan nama secara personal (para calon) lebih memiliki daya tarik ketimbang ketika melihat partai politik yang mengusungnya sehingga dalam hal ini mesin politik parpol hanya memiliki tingkat pengaruh yang lebih kecil dalam mendulang suara. Masyarakat Jawa Barat itu boleh dikatakan melek media sehingga akan lebih cenderung memilih figurnya tanpa melihat parpol apa yang mengusungnya. Hal ini tidak hanya terjadi di Jawa Barat tapi hampir di seluruh penjuru negeri. 

Peran media massa yang selalu menampilkan wajah para tokoh ini pun menjadi sebuah modal para tokoh ini untuk maju, kepopuleran merupakan modal awal mereka untuk melangkah di samping mesin parpol yang akan membantu mereka untuk lebih dikenal masyarakat lagi. Tak dapat dipungkiri, rasa tersisihkan mungkin akan muncul dari hati para politisi yang berniat maju namun gagal dicalonkan oleh parpolnya akibat parpol lebih mengedepankan aspek popularitas dalam mengusung jagonya. apabila jagonya menang, maka itu menjadi sebuah modal kepercayaan diri parpol pengusungnya untuk menentukan langkah selanjutnya dalam merebut suara pemilih pada Pemilu 2019 mendatang. 

Maka alangkah lebih baik bila prinsip “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya” dalam hadist HR. Bukhari ini dipegang oleh para pemilih utamanya para Pemilih Pemula yang memiliki kecenderungan melihat dari segi kepopuleran semata, namun harus diyakini bahwa rakyat sudah cerdas untuk menentukan pemimpinnya. Ayo lempar gagasan terbaik anda untuk pembangunan negeri para calon pemimpin, biarlah rakyat yang menentukan siapakah yang terbaik dari yang terbaik dan pantas menjadi pemimpin mereka.*** Penulis adalah pemerhati politik, sosial dan budaya, guru PPKn SMPK BPK Penabur Holis Bandung.

 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR