Senin, 18 Januari 2021
Artikel Opini
Esai

Sport Science di Era Digital

Rabu, 9 September 2020
Dr. Deddy Whinata Dr. Deddy Whinata Pakar Olahraga yang juga Kepala Humas Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

KISUTA.com – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda dunia, termasuk Indonesia, memberikan dampak yang buruk di segala lini kehidupan masyarakat. Mulai dari bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hingga kesehatan, tak ada satu pun yang luput dari ganasnya musibah ini.

Selama mengarantina diri, bekerja, belajar, dan beraktivitas di dalam rumah, tentu tingkat kebugaran tubuh masyarakat akan terpengaruh. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, masyarakat selalu disibukkan dengan aktivitas berkendara, berangkat-pulang kantor, mengantar anak ke sekolah, ikut senam setiap minggu pagi, hingga aktivitas kerja bakti, yang semuanya menuntut tubuh untuk bergerak dan mengeluarkan tenaga lebih.

Namun, karena pandemi Covid-19, kesibukan masyarakat tersebut harus direm dulu hingga waktu yang kita semua tentu tidak tahu. Kini, saya dan anda, termasuk orang-orang di sekitar kita, sedang mengalami kebosanan dan kesuntukan akibat terlalu lama beraktivitas dan duduk di depan layar komputer, laptop, dan smartphone.

Tidak hanya duduk dalam jangka waktu yang lama di depan perangkat/gawai, namun kita juga terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Sekarang tanyakan pada diri anda sendiri, ketika sedang bekerja/belajar dari rumah, minuman dan makanan apa yang selalu anda siapkan di meja? Makanan ringan? Minuman bersoda? Junk food? Atau gorengan?

Saya iseng-iseng mencari kebenaran soal makanan apa yang laris selama orang-orang beraktivitas di rumah. Dan, dari salah satu sumber yang saya baca di detik.com, ternyata makanan ringan/snack-lah yang menduduki peringkat teratas dari sekian kategori makanan yang sering dipesan melalui aplikasi pengantar makanan.

Dari sumber itu, saya juga menemukan salah satu kata kunci yang menarik, yaitu tentang nervous eating. Sebagai orang yang menggeluti bidang olah raga dan kesehatan, nervous eating ini menarik perhatian saya. Biasanya, jika seseorang sedang dalam kondisi tertekan/ stres maka hal itu akan berpengaruh pada pola makannya juga.

Memang ada sebagian orang yang ketika sedang tertekan/stres nafu makannya hilang, namun saya melihat selama pandemi Covid-19 berlangsung, orang-orang cenderung sering memesan makanan ringan/ snack sebagai pendamping mereka saat beraktivitas di dalam rumah. Lalu, apakah keseringan memesan makanan ringan/snack salah? Saya rasa tidak. Namun, jika kita mengonsumsinya dalam jumlah atau intensitas yang terlalu banyak dan sering tentu jawabannya adalah tidak baik.

Semisal, pagi ini saya memesan kentang goreng ukuran reguler dari salah satu restoran cepat saji, ditambah dengan satu burger, dan satu minuman bersoda. Kemudian, usai makan siang saya memesan satu gelas bobba thai tea, dan di malam harinya saya memesan martabak spektakuler yang diatasnya ditaburi kacang, meses, keju, dan juga susu cokelat.

Dengan mengonsumsi makanan-minuman yang saya sebutkan di atas, pasti tubuh kita akan menerima banyak sekali kelebihan karbohidrat, lemak, kolesterol, dan sebagainya. Dan, jika kita hampir setiap hari memesan makanan-minuman tersebut, bahaya kesehatan seperti hipertensi hingga diabetes akan menghantui.

Lalu, bagaimana caranya agar masyarakat bisa lepas dari ancaman penyakit akibat mengonsumsi makanan-minuman yang tidak sehat selama beraktivitas di rumah. Jawabannya adalah masyarakat harus diedukasi tentang sport science.

Sport science memang lebih familiar bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia olah raga, termasuk saya. Namun, ilmu dalam sport science seperti cara meningkatkan dan menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan stamina, mengontrol emosi, membiasakan pola latihan bagi tubuh, hingga menganalisis mekanika pergerakan tubuh, sepatutnya dipelajari dan diketahui oleh masyarakat.

Dan, pesan serta dorongan itulah yang ingin saya tegaskan pada momentum peringatan Hari Olah Raga Nasional (Haornas) yang akan jatuh pada tanggal 9 September mendatang. Beberapa waktu yang lalu Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Kemenpora) telah mengumumkan jika sport science menjadi tema dalam Haornas tahun ini.

Saya secara pribadi mendukung dan mendorong agar sport science dapat di-masyarakatkan. Tujuannya satu, agar cita-cita mewujudkan masyarakat yang sehat dan bahagia bisa tercapai. Apalagi di tengan kondisi yang serba sulit seperti saat ini. Intensitas penggunaan perangkat/ gawai oleh masyarakat bisa dijadikan ruang bagi Kemenpora agar menitipkan informasi, penjelasan, pesan, dan cara mengenai sport science.

Berbagai platform sudah tersedia dan bisa digunakan oleh Kemenpora untuk menyukseskan tema Haornas tahun ini. Mereka bisa memanfaatkan platform audio-visual seperti di Youtube untuk membuat konten berupa video edukasi seputar sport science. Selain Youtube, platform lainnya seperti media sosial Instagram, Twitter, dan Facebook juga bisa dimanfaatkan. Dengan mengajak para public figure yang concern di bidang olahraga, atlet, influencer, dan konten kreator, saya melihat kampanye sport science akan semakin mudah dan cepat dipahami masyarakat.

Selama ini perhatian masyarakat akan dunia olah raga belum terlalu tinggi. Mereka memang sebagian ada yang memggemari olah raga lari, jalan sehat, bersepeda, atau berenang. Namun, sayangnya minat mereka dalam berolahraga tidak didukung dengan pengetahuan yang cukup soal sport science.

Memang, selama mengenyam bangku pendidikan, mata pelajaran olah raga selalu ada. Namun, faktanya mata pelajaran olah raga kerap menjadi angin lalu saja. Dan, ketika generasi muda kita sudah mulai beranjak dewasa, maka rutinitas/ pola hidup yang tidak sehat akan menjerat mereka setiap hari.

Pemahaman tentang sport science haruslah diberikan dan dikampanyekan secara intens. Tidak hanya melalui tulisan-tulisan di spanduk atau poster yang berseliweran di internet, namun Kemenpora harus melihat peluang naiknya penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia untuk menanamkan pemahaman tentang sport science yang benar.

Di era digital ini, tidak ada alasan untuk tidak mau belajar. Apalagi selama pandemi Covid-19, intensitas kita menggunakan gawai meningkat. Saya sempat membaca berita di CNNIndonesia.com yang menyebut jika laju penggunaan internet di Indonesia meningkat tajam selama masyarakat beraktivitas di rumah. Dan, hal inilah yang harus jelih dimanfaatkan Kemenpora.

Sedikit ilmu tentang branding yang bisa dimanfaatkan agar penyampaian sport science dapat dipahami masyarakat secara cepat. Kuncinya adalah 3C. Anda yang pernah mempelajari ilmu komunikasi, pasti ingat apa itu 3C. 3C adalah singkatan untuk clarity, consistency, and constancy. Ini adalah kiat untuk mendongkrak citra agar produk yang kita buat mampu dikenal orang.

Melalui 3C ini saya menitipkan pesan agar penyampaian sport science memerhatikan sejumlah aspek. Seperti mengenalkan sport science dengan cara yang inspiratif dan kreatif, mengetahui problem kesehatan masyarakat agar paham isu kesehatan apa yang ingin disasar, membangun pola komunikasi dengan masyarakat secara intens, dan melihat umpan balik dari masyarakat tentang sport science yang sedang digembor-gemborkan Kemenpora.

Semoga, melalui momentum Haornas tahun 2020 menjadi tonggak kebangkitan olah raga Indonesia. Walau korban Covid-19 jumlahnya kian bertambah, semagat dan tekad kita untuk menyehatkan masyarakat tidak boleh berhenti. Covid-19 janganlah dijadikan alasan untuk mengurung diri dari kegiatan-kegiatan yang tidak sehat. Mari selama di rumah saja, manfaatkan gawai kita untuk mengedukasi diri sendiri tentang sport science sehingga kita bisa memnonitor aktivitas dan tingkat kebugaran tubuh. Salam olah raga!***


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR