Rabu, 27 Oktober 2021
Sosok Inspirasi
Muhammad Alfied Pandam Pamungkas

Dari Jualan Mi Ayam, Mahasiswa UNS ini Berhasil Raih Pendanaan PWMV Kemdikbudristek

Rabu, 1 September 2021
Humas UNS

KISUTA.com - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tak pernah kehabisan mahasiswa hebat. Kali ini kisah mahasiswa UNS yang mampu membuat banyak orang berdecak kagum datang dari Muhammad Alfied Pandam Pamungkas.

Pandam –sapaan akrabnya- merupakan mahasiswa asal Program Studi (Prodi) D-3 Bahasa Mandarin Sekolah Vokasi (SV) UNS yang berhasil mendapatkan pendanaan Program Wirausaha Mahasiswa Vokasi (PWMV) dari Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi dan Profesi Ditjen Pendidikan Vokasi Kemdikbudristek dari berjualan mi ayam goreng.

Tak tanggung-tanggung, total pendanaan yang diterima Pandam mencapai Rp 10 juta. Lalu, bagaimana kisah Pandam yang dari berjualan mi ayam mampu mendapat pendanaan dari Kemdikbudristek?

Untuk mengetahui langsung menghubungi Pandam untuk menanyakan kiat-kiat sukses membangun bisnis di era pandemi dan proses yang harus dilaluinya untuk mendapatkan pendanaan dari Kemdikbudristek.

Saat dihubungi pada Rabu (25/8/2021), mahasiswa asal Kabupaten Sukoharjo ini menceritakan jika bisnis mi ayam goreng yang digelutinya sudah dimulai sejak bulan September tahun 2020.

Dengan nama ‘Miyago Naknan” yang merupakan singkatan dari Mi Ayam Goreng Enak Tenan, Pandam sudah mulai berjualan mi ayam setelah lulus dari SMA. Alasannya cukup sederhana, ia ingin mengisi waktu kosongnya agar bermanfaat sembari menunggu pengumuman penerimaan mahasiswa baru.

Dan, dari ‘kegabutannya’ itu, ternyata Miyago Naknan berhasil mendapat respons yang sangat bagus dari masyarakat. Kini, Miyago Naknan tidak hanya tersedia untuk makan di tempat, namun sudah dapat dipesan melalui aplikasi ojek online/ aplikasi pesan antar makanan, seperti GoFood, Grab Food, dan Shopee Food.

Bahkan, dari yang semula hanya membuka satu kedai, kini Miyago Naknan sudah mampu membuka cabang. Miyago Naknan Pusat terletak di selatan Jembatan Bacem, tepatnya di Jalan Raya Telukan, Dusun II, Grogol, Sukoharjo. Sedangkan, cabang dari Miyago Naknan terletak di Jalan Mayor Sunaryo No. 43 Sukoharjo.

“Akhirnya, saya memberanikan diri untuk membuka usaha, pada pelaksanaannya di luar ekspektasi, respons masyarakat cukup bagus dan menyambut produk Miyago dengan baik. Kita berharap dapat memberikan pelayanan dan menciptakan Miyago yang enak tenan atau lezat sekali,” ujar Pandam.

Ia mengatakan, ketika sudah menjadi mahasiswa, ia segera bergabung dengan Vokatif. Adapun, Vokatif merupakan platform kewirausahaan yang diinisiasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) SV UNS sejak tahun lalu. Melalui platform ini, Vokatif memberdayakan mahasiswa wirausahawan ataupun mahasiswa yang tertarik menjadi wirausaha.

Pandam menyampaikan, mengetahui PWMV juga dari Vokatif. Berawal dari situ, ia memutuskan untuk mendaftar dan menggandeng teman-temannya untuk membangun Miyago Naknan agar dapat bertumbuh menjadi bisnis yang besar.

“Saya mengajak Angga dari Mandarin ’20, Thillal dari DKV ’20, dan Faiz dari Komunikasi Terapan ’20. Alhamdulillah, kami mendapatkan bantuan Rp 10 juta. Dana itu akan kami manfaatkan untuk pengembangan kedai dan peningkatan skill team,” jelas Pandam.

Lebih lanjut, ia menceritakan keberhasilan Miyago Naknan mendapat pendanaan dari Kemdikbudristek dimulai dari kesungguhannya saat mendaftar PWMV. Ia terlebih dulu harus membuat proposal yang menggambarkan jenis usaha, produk utama, serta rancangan anggaran untuk keberjalanan usaha.

“Kurang lebih selama dua minggu kami melakukan konsultasi dan bimbingan kepada dosen kami, Ibu Dani Putri Septi, B.Ed., MTCSOL dan Bapak Maeda Dicky Chandra, S.M., M.Sc sebagai dosen pembimbing dua,” tuturnya.

Setelah melalui berbagai seleksi, Miyago Naknan pada bulan Mei lalu dinyatakan lolos pendanaan PWMV dari Kemdikbudristek. Miyago Naknan bersanding dengan tujuh tim lainnya dari SV UNS yang juga mendapat pendanaan.

Keberhasilan Miyago Naknan dan tujuh tim lainnya yang lolos pendanaan merupakan kebanggaan bagi UNS. Sebab, jumlah tim SV UNS yang berhasil lolos pendanaan PWMV Kemdikbudristek lebih banyak ketimbang SV Institut Pertanian Bogor (IPB) dan SV Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Tips berbisnis
Pandam yang tahun ini duduk di semester tiga juga membeberkan tips berbisnis di tengah lesunya perekonomian yang sedang berjuang menghadapi pandemi Covid-19. Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial.

Memang tak bisa dipungkiri apabila media sosial sangatlah ampuh dalam mempromosikan dan menjangkau konsumen. Pandam sangatlah mempelajari hal ini. Ia juga menyampaikan, tips ampuh lainnya membangun bisnis adalah cara berpikir yang kreatif.

“Kiat usaha adalah berpikir kreatif dan tetap mengingatkan masyarakat/ me-reminder melalui media sosial. Tips lainnya adalah kumpulkan niat dan segera action. Jangan kebanyakan merencanakan, karena pelaksanaan jauh berbeda dari apa yang dipikirkan. Lakukan perbaikan dalam keberjalanan bisnis yang dijalankan,” kata Pandam.

Selain itu, dalam berbisnis, ia juga belajar pentingnya keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini ia pelajari dari Alm. Bob Sadino yang merupakan inspiratornya.

"Walau modal bisnis ini untuk awalannya berasal dari orang tua, pada akhirnya dari keuangan sendiri saya mampu memenuhi pengembangan menu dan cabang,” tambahnya.

Saat ditanya soal kendala yang dihadapi, Pandam mengungkapkan Miyago Naknan harus bersaing dengan kompetitor lainnya yang juga menjual mi ayam goreng. Namun, ia berhasil membalikkan kendala tersebut menjadi sebuah peluang.

Ia terus memberikan pemahaman kepada masyarakat selaku konsumen mi ayam gorengnya bahwa Miyago Naknan adalah mi ayam goreng yang sehat dan ramah di kantong.

“Kita juga mempromosikan Miyago ini melalui beberapa platform, seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan platform pemesanan makanan secara online,” imbuh Pandam.

Kepada uns.ac.id, Pandam mengatakan dalam sebulan Miyago Naknan mampu mengantongi laba bersih kurang lebih Rp 10 juta dalam sebulan. Dan, kini ia telah mempekerjakan tiga karyawan.

Pandam juga mengaku orang tuanya tidak terbebani lagi soal pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Sebab, dari keuntungannya berjualan mi ayam goreng, ia sudah mampu membayar UKT-nya sendiri.

“Saya juga berharap ke depan dari pendanaan PWMV Kemdikbudristek ini kami dapat menggunakan dana sesuai rencana, 80% untuk pengembangan usaha dan 20% untuk peningkatan skill team,” pungkasnya.* Eko Prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR