Rabu, 27 Oktober 2021
Sosok Inspirasi
Siti Khoiriyah

Guru SMP Muh 1 Solo Ini Berhasil Meraih Gelar Doktor

Sabtu, 28 Agustus 2021
Humas UNS

KISUTA.com - Guru SMP Muhammadiyah 1 Solo berhasil meraih gelar Doktor setelah mempertahankan disertasi di depan sidang penguji yang dipimpin Prof. Dr. Sutarno di Kampus UNS, Solo, Selasa (24/8/2021).

Guru SMP Muhammadiyah 1 Solo itu adalah Dr. Siti Khoiriyah.Dalam mempertahankan disertasinya yang mendapat nilai 3,9 , Ia menyatakan Sub DAS Bengawan Solo adalah sumber air minum untuk masyarakat di wilayah Kota Surakarta. "Namun sekarang telah terjadi pencemaran baik dari limbah industri, domestik maupun pertanian," ungkapnya saat mempertahankan disertasi berjudul "Konservasi Air Tercemar Limbah Estrogenik Berbasis Agen Hayati Dan Valuasi Ekonomi Di Sub-DAS Bengawan Solo", di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo.

Untuk menanggulangi pencemaran yang timbul, menurut Yayah panggilan akrab guru SMP Muhammadiyah 1 Solo, maka pengolahan air limbah menggunakan tumbuhan merupakan metode efektif untuk menurunkan kadar bahan organik merupakan hal yang mutlak diperlukan. Sub DAS bengawan Solo telah tercemari oleh berbagai polutan termasuk limbah estrogenic yang mengganggu system kerja hormone sehingga disebut EDC (Endocrine Disrupting Hormone) atau SPH (Senyawa pengganggu Hormon). Kandungan SPH di lingkungan maupun organisme merupakan peringatan dini terhadap kesehatan ekosistem, organisme (individu dan populasi) serta manusia . EDC ditemukan pada hampir semua matriks air, termasuk pada limbah yang sudah diolah maupun belum diolah, air permukaan, air dalam dan juga pada air minum. Sumber EDC/SPH berasal dari limbah farmasi, limbah industri dan limbah domestik .

Upaya penghapusan limbah estrogenik dapat dilakukan dengan fitoremediasi. "Dengan agen hayati Portulaca oleraceae. Fitoremediasi dilakukan untuk mengolah air yang terkena limbah estrogenic menjadi air bersih yang layak digunakan untuk kebutuhan manusia," ujarnya.

Penelitian ini, menurut Yayah, terdiri atas 4 tahapan dengan masing- masing tujuan. Diantaranya adalah mengidentifikasi limbah estrogenik di sub-DAS Bengawan Solo,mengkarakterisasi perbedaan morfologi dan metabolit sekunder pada tiga jenis Portulaca (Portulaca pillosa, Portulaca oleraceae, dan Portulaca grandiflora), menguji efektivitas fitoremediasi ketiga jenis Portulaca terhadap pengelolaan limbah estrogenik di sub-DAS Bengawan Solo serta menemukan estimasi valuasi ekonomi terkait dengan penggunaan air bersih pada masyarakat di sekitar Sub-DAS Bengawan Solo.

Siti Khoiriyah mengatakan, prosedur yang digunakan pada tahap pertama adalah dengan uji HPLC (High Performance Liquid Chromatografi) di laboratorium MIPA Terpadu UNS dengan sampel air sungai . Ada 4 lokasi pengambilan sampel yaitu sungai Premulung, sungai Pepe, sungai Kalianyar dan sungai Pucangsawit. Tahap dua dengan uji TLC (Thin Layer Chromatografi) di lab Biologi FMIPA UNS. Tahap ketiga dilakukan uji HPLC. Tahap keempat dengan kuesioner terhadap masyarakat sekitar sungai untuk menemukan estimasi WTP (Willingness To Pay) air bersih dengan pendekatan CVM (Contingent Valuation Methode).

Hasil penelitian menunjukkan, menurut Yayah, bahwa limbah estrogenik air permukaan sub DAS Bengawan Solo ditemukan senyawa fenol dengan konsentrasi 0,013 ng/L dari sampel sungai Pucang Sawit. Senyawa estradiol dapat dideteksi di delapan lokasi sampel sungai hingga konsentrasi berkisar antara 0,0016 ng/L - 0,9350 ng/L dan rata-rata adalah 0,2269 ng/L.

Hasil analisis KLT menunjukkan bahwa ketiga jenis Portulaca mengandung metabolit sekunder saponin, flavonoid dan tannin. Hal yang membedakan dari temuan metabolit sekunder ini adalah P. pillosa mengandung saponin tertinggi dibandingkan dua jenis lainnya, sehingga zat inilah yang berpotensi sebagai penekan limbah estrogenic. Dalam percobaan 24 perlakuan dengan masing-masing 2 gram Portulaca yang diinkubasi dalam sampel 50 ml air sungai, ditemukan bahwa perlakuan PW1 (P.pillosa terhadap air sampel premulung hulu) merupakan perlakuan yang mampu menurunkan kadar estradiol tertinggi yaitu sebesar 5,75 ppm atau 99,88%. Valuasi ekonomi ditemukan estimasi WTP terhadap air bersih yaitu 69,2% responden memilih simulasi ke-3 yaitu bersedia menanam 20 rumpun tumbuhan Portulaca untuk membersihkan 50 liter air dengan biaya Rp 300.000.* Eko Prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR