Sabtu, 19 September 2020
Sosok Inspirasi

Irisan Merdeka Belajar Olahraga dari Kacamata Pakar UNS

Jumat, 21 Agustus 2020

KISUTA.com - Berbicara perihal merdeka belajar olahraga, Prof. Dr. Agus Kristiyanto, M.Pd., menekankan pentingnya kemudahan akses olahraga bagi masyarakat dan keleluasaan pemerintah memberi aset dasar dalam olahraga. "Hal tersebut diperlukan untuk mewujudkan kejayaan dan kesejahteraan olahraga yang seimbang," ungkap Agus kepada wartawan, di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jumat (21/8/2020).

Pakar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga Universitas Sebelas Maret (UNS) ini pun menjelaskan bahwa kejayaan olahraga berhubungan dengan daya saing, prestasi, peringkat, pemecahan rekor, dan penghargaan yang selama ini lebih mendapat sorotan. Sementara itu, kesejahteraan olahraga berhubungan dengan proses menyehatkan, mendamaikan, dan memakmurkan masyarakat.

"Kita tidak dalam posisi bisa memilih mana yang penting, karena semuanya penting. Tetapi begitu dua-duanya kita buat kabur, jaya tidak, sejahtera juga tidak. Maka merdeka dengan menggunakan akses dan aset penting untuk membuka pintu kejayaan dan kesejahteraan olahraga," ujar Prof. Agus dalam webinar 'Merdeka Belajar Olahraga'.

Perpaduan Merdeka Belajar Olahraga disebut Prof. Agus sebagai kunci perwujudan kejayaan dan kesejahteraan tersebut. Wakil Direktur Akademik Pascasarjana UNS ini pun membaginya menjadi tiga irisan, yakni 'merdeka-belajar', 'merdeka-olahraga', dan 'belajar-olahraga'.

Irisan 'merdeka olahraga', tutur Prof. Agus, terdiri dari merdeka akses olahraga, merdeka aset pentahelix olahraga, dan merdeka KIE (komunikasi, informasi, edukasi) olahraga.
Merdeka akses publik dalam olahraga artinya ada keselarasan antara hak masyarakat dan kewajiban pemerintah baik pusat, provinsi, maupun kabupaten. Dalam aspek ini, masyarakat berhak memilih dan mengikuti jenis olahraga yang diminati.

Kemudian, masyarakat memiliki kesempatan berolahraga tanpa adanya diskriminasi, memperoleh pelayanan berolahraga untuk kesehatan dan kebugaran jasmani, serta mendapatkan bimbingan prestasi bagi yang berbakat.

"Faktanya masih ada masyarakat kita yang belum mampu memilih jenis olahraga yang diminati. Lalu diskriminasi itu bukan saja karena kemauan, bukan karena kekuasaan. Tapi juga karena keadaan. Misalkan saat pandemi ini, tidak semua memperoleh akses olahraga," lanjut Prof. Agus.

Berikutnya, perlunya kemerdekaan dalam ekosistem pentahelix olahraga yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Kejayaan dan kesejahteraan akan terwujud jika lima pihak independen yakni pemerintah, komunitas, media, akademisi, dan pengusaha fokus menjalankan peran masing-masing secara sinergis tanpa keluar dari koridor perannya.

"Tidak boleh semua pihak memainkan peran-peran yang harus dilakukan satu pihak tertentu. Itu akan menjadi persoalan. Ketika siapa saja boleh melakukan apa saja, itu bukan kemerdekaan. Karena sistemnya akan kacau. Misalkan pengusaha ya fokus pada inovasi produk, tidak turut campur dalam politik," jelas Prof. Agus.

Terakhir, merdeka KIE yang menggambarkan olahraga dapat dilakukan di mana saja dan melalui berbagai media tanpa kendala karena ada asetnya, aksesnya, desainnya, serta penguasaan skenarionya. Baik via maya maupun secara langsung bersama orang lain yang tentu membutuhkan ilmu dan persiapan masing-masing.

Di sisi lain, ada irisan belajar-olahraga yang menjelaskan tentang tumbuh kembang belajar olahraga, serta evolusi dan revolusinya. Ranah irisan ini ialah belajar tentang, melalui, untuk dan dari olahraga.

"Nah belajar untuk olahraga ini ranahnya akademisi. Kita melakukan penelitian, penelitiannya untuk perkembangan olahraga. Jadi bukan belajar tentang olahraga saja, tapi juga untuk olahraga di mana ilmu olahraga menjadi pusat sentral tata surya," terang Prof.Agus.

Namun, harapannya Perguruan Tinggi keolahragaan juga berhasil menjadi habitat akademisi, pelopor, dan pendobrak keempat misi belajar tersebut secara lengkap dan berkelanjutan.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR