Jumat, 30 Oktober 2020
Sosok Inspirasi
Prof. Dr. Harun Joko Prayitno

Pendidikan Online Berkelebihan akan Menyebabkan Matinya Pendidikan

Minggu, 9 Agustus 2020
Ist.

KISUTA.com - Guru Besar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof. Dr. Harun Joko Prayitno mengemukakan, pendidikan online memang berkelebihan pada aspek beyond classrooms (melampaui batas ruang dan waktu).

"Namun pendidikan online ini dihadapkan pada sejumlah kendala, baik kendala teknis jaringan, hambatan sosioal ekonomi biaya, kendala sosiokultural kesiapan adaptasi, maupun masalah substansi atau hakikat pendidikan itu sendiri," ungkapnya saat dihubungi melalui telpon seluler, Minggu (9/8/2020).

Sebab pendidikan, menurutnya, hakikatnya suatu proses. Bukan semata-mata hasil. Hasil adalah sebuah konsekuensi logis dari sebuah proses pendidikan.

Oleh sebab itu, Prof. Harun Joko Prayitno yang dikenal sebagai pemerhati dan pengamat pendidikan sekaligus sebagai Dekan FKP UMS dan Ketua ALPTK PTM Indonesia menilai jika pendidikan online penuh tetap akan dilaksanakan oleh Kemendikbud maupun Kemenag sejak dari jenjang pendidikan anak usia dini sampai dengan pendidikan perguruan tinggi tanpa disertai juknis dan tahapan pelaksanaan yang jelas, dipredikasi akan menimbulkan punahnya, atau bahkan matinya pendidikan (education death) dan punahnya atau matinya kepekaan sosial (social death).

Alasan tersebut sangat beralasan karena anak-anak yang masih dalam proses tumbuh dan berkembang tersebut hanya mengalami pertumbuhan secara fisik. Tetapi perkembangan mental dan kejiwaan pendidikannya mengalami kemandegan. Perkembangan mental dan kejiwaannya sebagai makluk sosial yang masih membutuhkan ruang interaksi dan komunikasi serta kreativitas tersumbat. Mereka hanya mendapatkan imajinasi pendidikan. Mereka tidak mendapatkan hak-hak pendidikan empiris yang berinteraksi langsung dengan lingkungan belajarnya.

Bukan hanya itu, mereka juga akan memiliki trauma penjang, bahwa belajar di sekolah dianggapnya belajar yang menakutkan. Belajar di sekolah diangapnya tidak aman. Belajar di sekolah dianggapnya sudah tidak ada lagi. Belajar di sekolah tidak diperlukan lagi. Belajar di sekolah bisa menimbulkan penyakit.

"Oleh sebab itu, dalam konteks ini secara perlahan dan dengan disertai juknis dan pentahapan yang jelas kegiatan kembali belajar di sekolah menjadi sangat penting untuk membangkitkan kembali gerakan ayo ke sekolah, ayo jaga kebersihan, ayo jaga kesehatan. Tiga pilar antara sekolah, kebersihan, dan kesehatan menjadi momen penting saat ini," ungkap Prof. Harun.

Ini semua penting, menurut Prof Harun, supaya tidak menjadi loss generation seperti dikemukakan oleh Mendikbud Nadiem Makarim akhir-akhir ini. Oleh sebab itulah, pilar belajar learning to do dan learning to leave together menjadi yang lebih penting dari pada sekadar learning to know dan learning to how secara online.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR