Selasa, 4 Agustus 2020
Herbal & Kesehatan

Guru Besar UNS Bagikan Informasi Jamu dalam Manuskrip Jawa Kuno

Senin, 6 Juli 2020
IST.

KISUTA.com - Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Sahid Teguh Widodo membagikan informasi mengenai jejak warisan rempah dan jamu dalam manuskrip Jawa kuno. Hal tersebut disampaikan dalam webinar Jalur Rempah yang diadakan oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Webinar tersebut dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Meeting dan siaran kanal Youtube.

Prof. Sahid yang saat ini juga menjabat sebagai Kepala Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi UNS menyampaikan bahwa Indonesia memiliki benda warisan yang banyak dan beragam terutama yang berkaitan dengan jejak rempah. Oleh karena itu, Javanologi UNS berusaha membuat kegiatan riset tentang pelacakan pengetahuan warisan serta publikasi melalui segala macam bentuk pertemuan akademik dan juga bentuk kegiatan tri dharma perguruan tinggi.

"Banyak naskah di tempat kami yang memuat informasi pengobatan, kami juga mendapatkan bantuan berupa lontar usada. Namun, kesulitan kami saat ini yakni dalam menerjemahkan karena masih banyak tahap yang dilakukan mengingat kondisi naskah sudah rusak karena usianya ratusan tahun. Bahasanya juga bahasa lama seperti Bali kuno, Jawa kuno, dan bahasa-bahasa yang memiliki idiom yang sulit diterangkan secara semiotik. Terdapat banyak lakuna, adisi, semuanya butuh waktu untuk membongkar isi manuskrip tersebut," jelasnya, di Kampus UNS, Solo, Senin (6/7/2020).

Indonesia merupakan negeri yang gemah ripah loh jinawi, suatu idiom Jawa yang artinya negeri yang tenteram, makmur, dan subur tanahnya sehingga menjadi surga bagi tanaman obat. Dalam materi yang dipaparkan, jejak rempah yang dimaksud merujuk pada data atau informasi yang terdapat dalam berbagai manuskrip Jawa kuno.

"Kebiasaan meracik dan minum jamu telah ditemukan dalam relief Candi Borobudur tahun 825 M pada Kamadatu dan Rupadatu karena keduanya tingkatan 1 dan 2 yang mana kegiatannya masih duniawi. Dalam relief, menceritakan masyarakat masa lampau meracik dan minum jamu sebagai suatu kebiasaan. Selain itu terdapat juga pada Candi Prambanan tahun 850 M, Penataran 1200 M, Sukuh 1437 M, Prasasti Tegalwangi (Masa Kerajaan Hindu dan Buddha pasca abad ke-15, dan lain sebagainya," paparnya.

Terdapat beberapa manuskrip Jawa kuno yang sedang dikerjakan oleh tim PUI Javanologi UNS, antara lain _Kagungan Dalem Buku Racikan Jampi-Jampi Jawi Jilid II, Serat Buk Jampi-Jampi Jawi, Kawruh Bab Jampi Jawi, Usada Keling, Tenung Saptawara, Serat Centhini,dan lain-lain. Pada Serat Centhini, meskipun berisi banyak cerita sastra tetapi banyak didapatkan informasi mengenai jenis jamu dan cerita untuk memberdayakan jamu.

"Saya kira optimisme muncul setelah membaca serat ini. Jamu-jamu tersebut terselip dalam cerita-cerita, contoh pada bagian pesta perkawinan itu ada sesaji dan jamu kekuatan. Kemudian pada Primbon Jampi Jawi juga terdapat banyak ciri yang menonjol yang tidak logis. Terdapat banyak gugon tuhon yang dipercaya, tetapi mengikuti kawruh kedokteran. Terdapat 25 bab yang memuat 233 resep obat orang sakit. Selain itu juga memuat manfaat dan kegunaan rempah pada bab 26-42," terangnya.

Prof. Sahid juga mengungkapkan kendala dalam mendapatkan informasi jamu pada masa lampau. Kendala yang paling utama adalah dari peristilahan bahasa, segi bahan, takaran, dan pengolahan.

"Dalam resep bahan yang digunakan hanya 4 lembar, tapi kami tidak tahu itu lembar keberapa, umur daunnya tidak tahu. Kemudian dari aspek takaran seperti setekem, padahal tekeman satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Pada aspek takaran ada sejungkut, sedimpit, senyari, ini kan susah sekali. Contoh dari aspek pengolahan yakni dipipis, tapi seberapa halusnya kita tidak tahu," imbuhnya.

Beberapa upaya yang dilakukan oleh Javanologi UNS terkait rempah dalam manuskrip Jawa kuno antara lain memodernisasi produk jamu dan perluasan keragaman. Selain itu juga melakukan penguatan upaya penggunaan rempah sebagai jamu atau obat tradisional dalam pelayanan pengobatan formal di tanah air melalui saintifikasi jamu, pengembangan penelitian filologis manuskrip Jawa kuno tentang jamu atau obat tradisional hingga bentuk produk digitalnya. Kemudian pengenalan obat sejak dini melalui berbagai media untuk anak-anak Indonesia dan sosialisasi jamu bagi masyarakat secara luas.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR