Rabu, 27 Oktober 2021
Herbal & Kesehatan
Serangan Jantung, Markis Kido Meninggal-Eriksen Kolaps

Ini Pesan Dokter Spesialis Jantung RS UNS Terkait Kesehatan Jantung

Rabu, 16 Juni 2021
Dok.Pri
dr. Habibie Arifianto,SpJP (K)., M.Kes

KISUTA.com – Kesehatan jantung akhir-akhir ini kembali ramai dibicarakan masyarakat. Hal itu bermula ketika pemain Tim Nasional Sepakbola Denmark, Christian Eriksen, kolaps akibat cardiac arrest atau henti jantung dalam pertandingan Denmark vs Finlandia di Stadion Parken, Copenhagen, Denmark, Sabtu (12/6/2021).

Dan, tidak berselang lama kemudian, masyarakat Indonesia langsung dikejutkan dengan kabar duka meninggalnya mantan pebulutangkis nasional, Markis Kido, karena serangan jantung pada Senin (14/6/2021).

Lewat dua kejadian tersebut, dokter spesialis jantung Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Habibie Arifianto, dr.,SpJP (K)., M.Kes mengingatkan bahwa ancaman kesehatan terhadap jantung sangat beragam dan berisiko dialami oleh sejumlah orang yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Habibie menerangkan pada kasus kolapsnya Christian Eriksen, penyebabnya adalah penebalan otot jantung yang tidak normal atau yang dalam istilah medis disebut sebagai kardiomiopati hipertrofi.

“Bukan merupakan serangan jantung. Kardiomiopati hipertrofi diakibatkan oleh adanya jaringan ikat pada otot jantung, hal ini berakibat otot jantung menjadi sangat tebal dan berisiko mengalami gangguan irama pada saat aktivitas yang berlebihan, dalam hal ini olahraga, hingga mampu memicu henti jantung mendadak,” jelas Habibie, Selasa (15/6/2021).

Cardiac arrest yang dialami Eriksen, disebut Habibie biasa terjadi sejak usia remaja hingga tua. Ia mengingatkan, kelainan bawaan seperti kardiomiopati hipertrofi yang dapat mengakibatkan cardiac arrest, bisa terjadi sejak usia anak-anak.

“Semakin bertambah usia akan semakin menebal hingga berisiko henti jantung mendadak saat usia remaja,” ucapnya.

Ia juga menambahkan, pada kasus lain, cardiac arrest juga dapat disebabkan oleh aritmia atau gangguan irama pada jantung.

Sedangkan, pada kasus meninggalnya Markis Kido, Habibie menyampaikan, serangan jantung disebabkan karena penyakit jantung koroner.

Penyebabnya adalah aliran darah terhenti di pembuluh darah koroner secara tiba-tiba sehingga otot jantung tidak mendapatkan pasokan oksigen.

“Risiko serangan jantung bagi atlet sama dengan risiko serangan jantung atau henti jantung mendadak pada populasi umum. Apalagi bagi yang sudah ada faktor risiko penyakit jantung koroner atau risiko keluarga dengan henti jantung mendadak,” ujarnya.

Perbedaan serangan jantung dan penyakit jantung

Habibie mengatakan ancaman kesehatan terhadap jantung punya cakupan yang luas. Jika dilihat dari cakupan penyakit jantung, dapat ditemukan kasus penyakit jantung koroner, penyakit jantung katup, penyakit gagal jantung, sampai gangguan irama.

Sedangkan, serangan jantung adalah episode kurangnya oksigen dalam otot jantung yang diakibatkan karena tersumbatnya pembuluh darah koroner secara tiba-tiba. Dalam hal ini, pasien akan merasakan nyeri dada hebat, ampeg, dan panas yang mendadak.

“Terminologi henti jantung mendadak, yaitu keadaan jantung secara tiba-tiba berhenti melakukan fungsi pompa sehingga darah tidak dapat tersirkulasi. Henti jantung mendadak inilah yang sering menyebabkan kematian mendadak,” ujarnya.

Cara pencegahan dan penanganan pertama

Habibie membeberkan sejumlah cara pencegahan cardiac arrest dan penanganan pertama pada orang yang mengalami serangan jantung.

Untuk cardiac arrest, pertama-tama yang harus ditelusuri adalah riwayat keluarga yang meninggal mendadak di usia muda. Sehingga, jika terjadi kasus demikian maka cara pencegahannya adalah dengan melakukan medical check up ke dokter jantung.

Tujuannya, untuk dinilai apakah orang yang bersangkutan memiliki risiko tinggi terjadinya cardiac arrest mendadak di masa depan atau tidak.

Sedangkan, cara penanganan pertama pada orang yang mengalami serangan jantung, yang dapat dilakukan adalah segera mencari pertolongan.

Habibie mengatakan penolong juga dapat mengecek kesadaran orang yang terkena serangan jantung dengan meraba nadi di pergelangan tangan atau leher.

“Apabila tidak didapatkan nadi, bisa memulai resusitasi jantung paru atau pijat jantung luar dan bantuan napas, sembari penolong lain bisa menghubungi ambulans untuk dapat segera membawa korban ke rumah sakit,” ujar Habibie.

Selain itu, jika penolong ingin memposisikan orang yang terkena serangan jantung, posisi yang benar adalah telentang dengan alas yang keras. Posisi ini memungkinkan dilakukannya pijat jantung luar.

Jika orang yang terkena serangan jantung dalam posisi duduk, ia mengkhawatirkan pompa darah dari jantung ke otak semakin sulit. Hal ini dapat membuat orang yang terkena serangan jantung akan semakin tidak sadar dan mempersulit pertolongan pijat jantung luar.

Habibie juga menyampaikan bagi orang-orang yang hobi berolahraga harus mawas terhadap kondisi tubuhnya sendiri. Apabila memiliki risiko penyakit jantung atau serangan jantung, ia menyarankan menghindari olahraga yang bersifat kompetitif.

“Pasien harus tahu kapan harus berhenti apabila mulai dirasakan dada tidak nyaman. Durasi olahraga yang aman bagi pasien jantung yang berisiko mengalami serangan jantung harus ditentukan berdasarkan uji latih jantung yang dilakukan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah,” pungkasnya.* Eko Prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR