Sabtu, 24 Oktober 2020
Herbal & Kesehatan

Tak Perlu Terigu, Tepung Singkong pun Jadi

Rabu, 7 Februari 2018

KISUTA.com – Kue brownies kukus itu tampak seperti terbuat dari tepung terigu; dilihat dari warna, tekstur, apalagi bentuknya. Bagaimana rasanya? Sama sekali tak berbeda dengan brownies yang bahan bakunya tepung gandum yang harus didatangkan dari luar nenegri. “Padahal ini dibuat dari tepung ketela pohon, dari tepung singkong,” ujar Kuswana sambil tersenyum.

Kuswana, warga Desa Ciparigi, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kurang lebih 150 kilometer dari Kota Bandung ke arah timur, ini sejak tahun 2004 telah beberapa kali mencoba membuat penganan yang bahan bakunya tepung singkong. “Hasilnya sangat menggembirakan, sama dengan yang terbuat dari tepung terigu,” ujarnya.

Selama ini di Priangan, makanan hasil olahan tepung singkong hanya dibuat untuk membuat kerupuk dan mie, di Ciamis disebut mie golosor. Kerupuk tepung singkong biasanya menjadi jajanan anak-anak, setelah digoreng dicampur penyedap rasa. Mie golosor dimasak untuk teman nasi, dibuat oseng-oseng dengan campuran bawang daun.

Tepung singkong ternyata dapat dibuat kue kering, mendoan, pisang goreng, pisang molen, kerepyek udang, dan makanan lainnya yang biasa dicampur tepung terigu, bahkan dapat dipakai bahan campuran roti. “Supaya bisa jadi bahan baku roti, tepung singkong harus diberi enzim atau ragi, sehingga terjadi permentasi, namanya mokap,” ujar Kuswana.

Pada pameran makanan olahan pedesaan di tingkat Kabupaten Ciamis beberapa tahun yang lalu pajangan makanan buatan Kuswana dipadati pengunjung; Ingin mencicipi kue dan penganan yang terbuat dari tepung singkong. “Pada umumnya pengunjung tidak menyangka tepung singkong bisa dibuat makanan atau kue,” kata Kuswana.

Karena hasil olahan warganya itulah, Désa Ciparigi pernah mendapat penghargaan dalam bidang ketahanan pangan dari pemerintah Kabupaten Ciamis. Warga Ciparigi dinilai mampu membuat makanan atau penganan dari tepung singkong. Tepung singkong dipandang dapat menjadi substitusi (pengganti) tepung gandum yang harus diimpor.

Meski makanan olahan tepung singkong masih terbatas, Kuswana bersama kelompok tani Taruna Mekar muda, berani menjadi produsen tepung singkong atau menurut istilah Kuswana: Cassava Flour. Pemerintah Kabupaten Ciamis juga pernah memberikan bantuan berupa mesin parut kelapa yang digerakan mesin diesel.

“Cara membuatnya mudah dan sederhana. Singkong dikupas, dicuci, kemudian diparut. Setelah itu dipress agar airnya keluar, kemudian dijemur, sampai kering selama dua hari,” ujar Kuswana. Kemudian digiling pada alat yang biasa dipakai untuk membuat tepung beras yang sama digerakan dengan mesin diesel.

Untuk menghasilkan tepung yang benar-benar halus, mesti disaring beberapa kali. “Tepung singkong biasanya tahan empat bulan, karena tidak ditambah zat pengawet kimia apa pun. Tepung singkong bisa juga dibuat padat menjadi berbentuk butiran, seperti tablet. Lebih awet, bisa tahan lebih dari empat bulan,” kata Kuswana.

Kuswana menyebutkan pembuatan tepung singkong sebenarnya pengembangan dari pengolahan singkong yang sudah lama dikerjakan oleh masarakat; membuat gaplek, yang pada tahun 1960-an sangat populer. Singkong diiris tipis-tipis kemudian dijemur, setelah kering ditumbuk sampai halus, kemudian dimasak seperti menanak nasi.

Bedanya dengan tepung tapioka yang sama-sama terbuat dari singkong terletak pada pengolahannya. Tepung tapioka di Ciamis biasa disebut aci sampeu (sampeu artinya singkong) diambil dari sari parutan singkong. Diencerkan dengan air bersih, parutan singkong diperas. Air hasil perasannya yang berwarna putih ditiriskan dalam bak besar.

Pada dasar bak itulah nantinya terdapat butiran-butiran halus yang terlepas dari air. Butiran yang berbentuk tepung tersebut selanjutnya dijemur sampai kering. “Pembuatan aci tapioka menyisakan limbah, kalau tepung singkong sama sekali tidak berlimbah, aman untuk lingkungan,” kata Kuswana sambil memperlihatkan tepung produksinya.

Kuswana juga dalam setiap kesempatan selalu mengkampanyekan tepung singkong bisa dijadikan bahan baku untuk pembuatan kue, baik kue kering maupun kue basah. Bahkan tak jarang sambil membawa contoh kuenya. “Saya mengharapkan ada yang tertarik membuat kue yang bahan bakunya tepung singkong,” ujarnya.

Buyer (pembeli) tepung singkong produk Kuswana berasal dari Cikoneng, masih di Kabupaten Ciamis, daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya, dari desanya ke arah Barat, ke arah Tasikmalaya, kurang lebih 20 kilométer. “Di sana diolah lagi menjadi kerupuk. Kurang tahu apakah ada yang dikirim lagi ke tempat lain atau diolah semuanya,” ujarnya.

Kuswana mengaku belum ada perusahaan lain yang minta dikirim tepung singkong produksinya. “Penggunaan tepung singkong masih terbatas tidak seperti tepung terigu. Kampanye pemanfaatan tepung singkong belum ada, pemerintah, dalam hal ini dinas perdagangan dan industri, serta dinas pertanian belum bergerak ke arah sana,” ujarnya.

Kuswana ingin sekali membuat kemasan tepung singkong seperti kemasan susu bubuk, bermerk. Di dalam kemasan, di luar lapisan alumunium koil, dilengkapi dengan brosur tentang resep makanan olahan yang bahan bakunya tepung singkong. “Namun saya terbentur pada modal, modal saya sangat terbatas,” ujarnya.

Kuswana baru bisa membuat mie golosor, karena proses pembuatannya sederhana, tidak membutuhkan peralatan yang rumit, dan tidak membutuhkan keahlian khusus. Pemasarannya belum begitu luas, hanya di warung-warung dan di pasar-pasar tradisional di Kecamatan Sukadana, Cipaku, dan Ciamis.“Kami sekarang hanya mampu memproduksi tepungnya saja,” kata Kuswana.* Priatna - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR