Sabtu, 27 November 2021
Unik Menarik

Cara Bandung Menghadang Covid-19

Minggu, 24 Oktober 2021
Humas Pemkot Bandung
MANG Oded dan Kang Emil.*

KISUTA.com - Kasus Covid-19 di Kota Bandung semakin terkendali, berdasarkan Intruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 53 Tahun 2021, kini Kota Bandung sudah memasuki level II alias daerah yang memiliki kasus Covid-19 berisiko rendah.

Pertengahan Oktober ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung mengumumkan, sebanyak 12 dari 30 rumah sakit rujukan sudah tidak menangani pasien Covid-19. Adapun dari 30 rumah sakit itu, ada sebanyak 1.112 tempat tidur yang tersedia untuk penanganan Covid-19. Dari jumlah tersebut, hanya 104 tempat tidur yang terisi oleh pasien.

Terkait pelaksanaan vaksinasi Covid-19, Kota Bandung dinilai berhasil. Vaksinasi saat ini telah mencapai 87,95 persen untuk dosis satu dan 63,42 persen untuk dosis dua. Target 100 persen pada Desember mendatang, diyakini bakal tercapai.

Keberhasilan Kota Bandung menangani Covid-19 mendapat banyak apresiasi. "Kinerja pengendalian Covid-19 di Kota Bandung sangat luar biasa. Padahal Kota Bandung juga harus turut menangani warga non KTP Kota Bandung," puji Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang diucapkan ketika hadir pada peringatana Hari Jadi ke-211 Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Kota Bandung, kata Kang Emil, sapaan akrab Gubernur Jabar, ini mampu mengendalikan Bed Occupancy Rate (BOR), positifity rate dan sebagainya. Fasilitas kesehatannya pun terkendali. Semua ini membuat Kota Bandung masuk zona kuning, setelah sempat di zona merah.

Kota Bandung pun mendapat apresiasi dari Staf Khusus Kepresidenan Republik Indonesia, Ankie Yudistia. Apresiasi diberikan karena Kota Bandung sudah berupaya keras memenuhi target vaksinasi khusus bagi disabilitas.

Ankie mengaku sangat bersyukur dan bangga melihat kinerja vaksinasi bagi disabilitas di Kota Bandung yang mampu mencapai target. Khusus Kota Bandung ini target sasaran vaksinasi sebanyak 13.775 orang penyandang disabilitas.

"Kota Bandung sudah 100 persen realisasi, ini semua karena gotong royong. Jujur, vaksinasi tantangannya sangat luar biasa khususnya penyandang disabilitas. Karena memiliki kerentanan luar biasa dengan segala macam disabilitasnya," kata Ankie saat hadir di gebyar vaksinasi di SLB Cicendo Bandung.

Apa kunci keberhasilan Kota Bandung dalam menangani Covid-19? "Kebersamaan," ucap Wali Kota Bandung, Oded M. Danial.

Mang Oded meyakini, dengan kebersamaan bisa keluar dari musibah pandemi. Kebersamaan pertama dalam persoalan Covid-19 yang dibentuk, katanya, yakni Gugus Tugas yang saat ini menjadi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 bersama stakeholder dari unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), ulama, hingga pengusaha.

"Kita bersama-sama dengan miskinnya pengalaman, karena semuanya tidak punya pengalaman. Dengan kebersamaan kita bisa keluar dari musibah pandemi," katanya di Pendopo Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Ini diamini Wakil Wali Kota Yana Mulyana. Namun, Kang Yana tetap meminta semua pihak tak terlena atau bahkan malah euforia sehingga mengabaikan protokol kesehatan. Sebab, protokol kesehatan merupakan faktor utama penanganan pandemi Covid-19.

"Kita tak boleh euforia, sebab ada ancaman gelombang ketiga Covid-19 di Indonesia diprediksi akan terjadi pada akhir 2021," kata Kang Yana mengingatkan.

Strategi Cegah Gelombang Ketiga
Ancaman gelombang ketiga yang diprediksi oleh para ahli akan terjadi pada akhir tahun 2021. Kondisi ini berkaca dari lonjakan kasus positif yang terjadi pada akhir 2020 dan pertengahan 2021. Saat itu, terjadi peningkatan mobilitas yang tinggi saat perayaan hari besar keagamaan. Selain itu, pada bulan Desember terjadi pergantian cuaca ke musim hujan.

Tak ingin terjadi gelombang ketiga Covid-19 di wilayahnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung gencar melakukan upaya antisipasi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung telah melakukan berbagai langkah untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus Covid-19.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung, Rosye Arosdiani pada acara Bandung Menjawab mengatakan, ada tiga hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga agar kasus Covid-19 tidak melonjak. Pertama, masyarakat tetap mempertahankan pola hidup dengan menjalankan 5M, yakni tetap memakai masker dalam setiap kegiatan, mencuci tangan pakai sabun sesering mungkin, menjaga jarak, menghindari kerumuman dan mengurangi mobilitas terutama di luar rumah. Serta mengikuti vaksinasi Covid-19.

Kedua, Dinkes terus masif melakukan 3T, yaitu testing (tes), tracing (telusur), dan treatment (tindak lanjut) untuk pelacakan kasus kontak erat. Termasuk melakukan surveilans (memantau), antara lain dilakukan di sekolah.

Sesuai Intruksi Kementerian Kesehatan, sekolah yang melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), maka 10 persennya harus dilakukan random sampling (tes acak). "Artinya dilakukan tes Covid-19 di sekolah dari berbagai tingkatan secara random. Sampai hari kemarin (Senin, 18 Oktober) kita sudah melakukan sampling kepada 1.512 warga sekolah, mulai dari siswa dan guru," terang Rosye.

Termasuk di Puskesmas, semua kasus ISPA dilakukan random sampling. Pasien yang menderita batuk pilek, dilakukan pemeriksaan rapid antigen maupun PCR, untuk memastikan Covid-19 atau bukan.

Terakhir, yaitu memeriksa Whole Genome Sequence (WGS) untuk melacak apakah ada varian baru yang masuk. Pengecekan dilakukan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) maupun Warga Negara Asing (WNA) yang baru tiba dari luar negeri. Saat mereka tiba di bandara, petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) akan melakukan testing ulang dan kemudian dikarantina selama 5 sampai 7 hari.

"Setelah karantina mereka harus PCR lagi. Kalau dia positif, samplenya dilakukan WGS untuk mencari ada varian baru. Karena kita khawatir ketika ada orang luar datang ke sini," tuturnya.

Selain itu, Dinkes juga tetap melakukan pemeriksaan WGS jika ditemukan kasus yang mencurigakan. Misalnya di satu tempat tiba-tiba ditemukan 9 orang yang positif.

Sampelnya akan dicek ulang, kemudian yang CT-nya rendah di bawah 25 dilakukan WGS. Meski kasus sudah menurun, Dinkes tetap melakukan WGS.

Pada kesempatan tersebut, Rosye menyampaikan data sampai tanggal 18 Oktober 2021, sebanyak 99 kelurahan di Kota Bandung sudah bebas dari kasus konfirmasi aktif. Tersisa 52 kelurahan lagi dengan kasus konfirmasi aktif.

Meski sebagian besar wilayah sudah tidak ada kasus konfirmasi aktif, namun Dinkes tetap melakukan penanganan secara merata untuk memastikan tidak adanya lonjakan kasus.* Dadang Sutarjan - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR