Jumat, 26 Februari 2021
Unik Menarik

Dr. Wiryanta: Aspek Media Miliki Sifat Dasar Perluas Isolasi, Juga Asingkan Realitas Personal

Minggu, 21 Februari 2021
Eko Prasetyo/KISUTA.com
DIREKTUR Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dr. Wiryanta (kanan) saat dialog interaktif di Studio TA Radio, Solo.*

KISUTA.com - Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Dr. Wiryanta menyatakan saat ini perubahan informasi yang terjadi di masyarakat tidak lagi dalam skala minggu atau hari atau bahkan jam, melainkan sudah berada dalam hitungan skala menit dan detik.

"Sementara dari aspek media yang ada memiliki sifat dasar bisa memperluas isolasi moral dari lingkungan dalam waktu bersamaan juga mengasingkan orang dari realitas personal," ungkap Wiryanta usai dialog interaktif di Studio TA Radio, Solo, Sabtu (20/2/2021).

Untuk memaksimal peluang sukses kegiatan komunikasi, menurut alumni Fisip UNS ini, pemanfaatan media bisa dipadukan dengan komunikasi langsung dan pemanfaatan saluran komunikasi yang berbasis pada komunitas. Namun demikian, waktu pelaksanaan sosialisasi bukan hanya sesaat. Bahkan membutuhkan hampir seumur hidup.

Oleh karena itu, kata Wiryanta, tujuan sosialisasi melalui media bukan hanya memberikan pemahaman akan karakter bangsa, namun juga diarahkan untuk memberikan pemahaman akan konsekuensi tindakan dan kemampuan memilih secara rasional dalam setiap konteks hubungan sosial. Sosialiasi juga diarahkan untuk memberikan pemahaman akan kemampuan melakukan penilaian antara baik dan buruk dan mengontrol sikap dan perilaku agar sejalan dengan nilai-nilai karakter bangsa.

Lebih lanjut Wiryanta mengatakan, ada tiga sifat alami media berkaitan dengan konstruksi pendidikan karakter bangsa:

Pertama, sebagai intensifier, yaitu memunculkan atau mempertajam konten pendidikan karakter bangsa. Dengan posisi sebagai intensifier, media bisa menyebarluaskan informasi pendidikan karakter bangsa sehingga menjadi perhatian bagi khalayak sasaran.

Kedua, sebagai deminisher, yakni media menenggelamkan beragam konten pendidikan karakter bangsa. Secara sengaja media meniadakan pendidikan karakter bangsa, terutama bila menyangkut kepentingan ideologi atau pragmatis media.

Ketiga, media menjadi pengarah, yakni media menjadi mediator dengan menampilkan pendidikan karakter bangsa dari berbagi perspektif serta mengarahkan pihak-pihak yang berkepentingan pada upaya dukungan bagi pendidikan karakter bangsa.

"Sosialisasi dapat dipahami sebagai kegiatan komunikasi ditujukan untuk membentuk kesadaran, mempengaruhi persepsi dan sikap individu, kelompok, atau masyarakat," ungkap Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI.* Eko Prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR