Senin, 25 Oktober 2021
Unik Menarik
Kecantikan Perempuan Kayan

Leher Panjang dalam Cekikan Cincin Bersusun

Minggu, 13 September 2020
Ist.
PEREMPUAN Suku Kayan mempunyai tradisi memanjangkan lehernya untuk mendapat predikat cantik. Untuk memanjangkan lehernya, mereka menggunakan cincin-cincin yang disusun meninggi di leher.*

KISUTA.com - Ukuran cantik bagi seorang perempuan di berbagai daerah dan negara berbeda-beda. Banyak cara digunakan perempuan untuk memperoleh predikat cantik di masyarakatnya.

Zaman dulu, banyak tradisi dilakukan oleh suku-suku bangsa di dunia untuk memberikan predikat cantik bagi perempuan-perempuannya. Di sebagian negara, tradisi tersebut masih lestari sampai sekarang.

Di antara perempuan-perempuan yang masih melestarikan tradisi unik tersebut, adalah perempuan Suku Kayan atau Suku Padaung yang berada di perbatasan Myanmar dan Thailand Utara. Perempuan suku ini mempunyai tradisi memanjangkan lehernya untuk mendapat predikat cantik. Untuk memanjangkan lehernya, mereka menggunakan cincin-cincin berwarna kuning yang disusun meninggi di bagian leher.

Perempuan Suku Kayan menggunakan cincin di leher mereka sejak usia lima tahun. Setiap dua atau tiga tahun, lilitan ditambah. Seiring dengan pertambahan usia perempuan-perempuan tersebut, cincin-cincin di leher mereka semakin banyak, bisa mencapai 25 cincin (satu cincin seberat 2 kg) sehingga leher mereka semakin tinggi. Tak heran kalau kemudian muncul julukan perempuan berleher jerapah.

Meskipun berbahaya karena penggunaan cincin ini bisa membuat tulang leher menjadi lemah dan bisa mengakibatkan kematian jika cincin dilepas, namun tradisi ini masih dilakukan oleh sebagian perempuan Suku Kayan. Mereka meyakini bahwa leher jenjang bak jerapah menciptakan sexual dimorphism atau daya tarik seksual yang kuat bagi kaum pria. Selain itu, perempuan dengan leher jenjang diibaratkan seperti naga yang kuat sekaligus indah.

Di balik makna yang tersimpan dari tradisi ini, para perempuan Suku Kayan tidak keberatan melakukan tradisi yang sudah dilkakukan secara turun temurun ini. Walaupun penggunaan cincin ini bisa membuat mereka merasa tercekik dan susah bernafas, belum lagi mengganggu aktivitas sehari-hari mereka. Dalam kenyataannya, perempuan Suku Kayan melakukannya dengan senang hati, cincin leher mereka tidak membuat mereka terganggu dan tetap melakukan aktivitas sehari-hari seperti memasak, mencuci dan mengasuh anak.

Ada juga beberapa perempuan Kayan yang tinggal di kawasan pengungsi di Thailand, melepaskan kerangkeng dengan alasan medis. Tahun 2006 banyak generasi muda yang belum begitu lama memakai kalung terutama yang tinggal di kawasan Mae Hong Son memilih untuk melepaskan cincin leher ini demi memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi. Ya, kesadaran pentingnya ilmu pengetahuan telah mulai merambah generasi muda wanita Kayan.

Selain alasan studi, mereka memilih melepas cincin leher sebagai bentuk protes terhadap eksploitasi budaya. Tradisi yang unik ini menyebabkan banyak turis datang untuk melihatnya. Promosi gencar-gencaran terutama dari para operator turis di Thailand, menjadikan desa-desa terpelosok maupun kawasan pengsungsian yang masih mempunyai tradisi menggunakan cincin leher ini menjadi terkenal. Para turis dikenakan tarif 250 bath untuk memotret para perempuan bercincin di lehernya.* ati - kisuta.com


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR