Sabtu, 27 November 2021
Unik Menarik

Peneliti UNS Ciptakan Inovasi Alat Bantu Pernapasan non Invasi

Kamis, 21 Oktober 2021
Humas UNS

KISUTA.com – Peneliti Universitas Sebelas Maret yang dibimbing dosen Ubaidillah, ST, MSc, PhD berhasil menemukan alat Helmet Continuous Positiv Airway Berbasis Internet of Things. Menurut Ubaidillah, tingginya angka penderita Covid-19 di Indonesia sempat membuat keadaan menjadi kacau karena banyaknya pasien sesak napas hingga akhirnya berebut alat bantu pernapasan.

“Hal ini menggerakkan kami untuk memberikan kontribusi nyata dengan menciptakan inovasi alat bantu pernapasan non invasi,” ungkap Ubaidillah kepada wartawan di Gedung LPPM, Solo, Kamis (21/10/2021).

Sebagai dosen pembibing,Ubaidillah, ST, MSc, PhD mengatakan, penelitian beranggotakan Rizqi Husain Alfathan, Bioma Cakrawala, Muhammad Dzaky Musyaffa, Rani Dwilarasati, Azzahra Fadhlila Aulia Nisa, didanai oleh Ristekbrin melalui program Kreativitas Mahasiswa – Karsa Cipta serta didanai oleh Tim penelitian (mandiri).

"Mengutip WHO pada 20 Oktober 2021 sudah ada sekitar 240 juta lebih kasus terkonfirmasi Covid-19 secara global dan tercatat ada lebih dari 4,9 juta kematian," ungkap Ubaidillah.

Hal itu, menurut Ubaidillah, membuat pihaknya memutar otak hingga timbullah inovasi alat bantu pernafasan non invasif ini. Selain itu,juga melihal melihat adanya peluang karena masih minimnya penggunaan alat bantu pernafasan non invansif berupa helm CPAP, padahal helm CPAP ini terbukti mampu mengurangi aerosolisasi virus secara signifikan. "Hal ini tentu akan berguna untuk pengurangan transmisi Covid-19," jelasnya.

Helm CPAP, menurut Ubaidillah, berbasis internet of Things sehingga hasil dari pengukuran sensor langsung dapat dilihat melalui smartphone. Alat ini dapat digunakan berulang dengan penggantian tabung dan perekat leher. "Kami mengharapkan dengan terbentuknya alat ini nantinya dapat membantu para tenaga kesehatan dan lembaga penyedia alat kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid-19," jelasnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan keunggulan dari desain 3D helm CPAP, antara lain ; 1. Didesain untuk memudahkan proses perakitan dan pembongkaran. 2, Material yang digunakan kompatibel terhadap tubuh pasien. 3. Dapat digunakan berkali-kali dengan mensterilkan komponen helm CPAP, kecuali pada tabung dan perekat leher pasien yang harus diganti pada saat akan digunakan kembali.

Adapun cara kerja sistem ini, menurut Ubaidillah, antara lain, sensor oksigen akan mendeteksi kadar oksigen yang berada dalam helm CPAP, sedangkan sensor oximeter mendeteksi saturasi oksigen saat jari pasien didekatkan sinar infra merah pada sensor. Data hasil pembacaan sensor akan diproses oleh arduino yang selanjutnya akan dikirim menuju smartphone menggunakan mode bluetooth dengan modul bluetooth HC-05.* Eko Prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR