Senin, 25 Januari 2021
Unik Menarik

Ulas Tata Ruang Kampus UNS Pusat Kentingan Bersama Pakar Arsitektur Jawa

Kamis, 7 Januari 2021
Humas UNS
PAKAR arsitektur Jawa UNS, Dr. Titis Srimuda Pitana.*

KISUTA.com – Kompleks Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Pusat yang terletak di Jalan Ir. Sutami No. 36, Kentingan, Jebres memiliki nuansa, filosofi, dan tata ruang yang sangat kental dengan kebudayaan Jawa.

Hal itu dapat dilihat dari penempatan bangunan di Kampus UNS Pusat Kentingan yang mengadopsi konsep pajupat. Konsep ini sebelumnya sudah pernah diulas uns.ac.id pada artikel berjudul “Bentuk Bangunan Gedung Rektorat dr. Prakosa UNS Sama dengan Makam Soeharto di Astana Giribangun?”.

Masih dengan narasumber yang sama, Dr. Titis Srimuda Pitana yang merupakan pakar arsitektur Jawa UNS, kembali berusaha mencari hal-hal unik yang menjadi ciri kebudayaan Jawa di Kampus UNS Pusat Kentingan.

Hal pertama yang langsung disebut Dr. Titis adalah filosofi tata ruang di Kampus UNS Pusat Kentingan menerapkan filosofi Lingga Yoni. Hal tersebut dapat dilihat dari posisi Gedung Rektorat dr. Prakosa yang di bagian timurnya terdapat Danau UNS.

“Lingga Yoni sama dengan segara gunung, segara itu laut memiliki karakter feminim, gunung memiliki karakter maskulin yang dibuktikan dengan bangunan di sekeliling ada danau. Itu lebih ke feminim, ibu pertiwi. Kalau bangunan yang menjulang tinggi ke angkasa itu maskulin, bapa angkasa,” terang Dr. Titis.

Dr. Titis menyebut filosofi Lingga Yoni yang erat kaitannya dengan kebudayaan Jawa sebagai “hasil percintaan sakral manusia dengan alamnya”. Dengan demikian, bangunan yang menggunakan konsep arsitektur kebudayaan Jawa selalu dimaknai secara sakral.

Masyarakat Jawa yang termasuk dalam masyarakat arkais memandang sesuatu yang penting dalam kehidupan, termasuk menyangkut simbol-simbol dan persoalan daur hidup/ peristiwa dengan ritual dan nilai-nilai religius.

“Hasil percintaan sakral manusia dengan alamnya, di situ karena hasil percintaan sakral pasti melahirkan sesuatu, sehingga itu berhubungan dengan penciptaan. Maka, arsitektur Jawa berkaitan dengan penciptaan dan penciptaan selalu dimaknai secara sakral. Oleh karenanya, dalam arsitektur Jawa tidak pernah meninggalkan konsep Lingga Yoni,” ujarnya.

Selain meminta penjelasan soal tata ruang Kampus UNS Pusat Kentingan, juga menanyakan seputar letak Gedung Rektorat dr. Prakosa-Auditorium G.P.H Haryo Mataram-Perpustakaan UNS yang dibangun dalam satu garis lurus.

Dr. Titis mengatakan hal tersebut tidak terlepas dari konsep Trinitas yang juga terdapat pada lampu di dalam Gedung Rektorat dr. Prakosa. Konsep Trinitas ini dalam kebudayaan Jawa disebut sebagai telupak atau telu seng cemepak .

Dr. Titis menerangkan ada tiga hal utama yang selalu digunakan oleh agama, masyarakat, termasuk perguruan tinggi, sebagai pondasi/ pegangan. Misalnya, pada konsep Trinitas di Nasrani yang mempercayai Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

“Tiga hal itu kan Trinitas. Jadi, coba kita lihat kekuatan apa yang melebihi tiga hal, agama pakainya juga Trinitas, ilmu juga Trinitas. Ilmu itu selalu ditopang oleh ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dan, pedoman hidup ini juga Trinitas,” ujarnya.

Dalam kehidupan di lingkungan perguruan tinggi konsep Trinitas yang dijelaskan Dr. Titis dapat dilihat dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Nah, dalam kehidupan kampus juga ada tiga hal, ada pemimpinnya, auditorium itu masyarakatnya, dan perpustakaan ilmunya. Itu tiga hal yang harus ada dan bisa dikembangan dan hal yang tidak bisa dipisahkan, termasuk Tri Dharma Perguruan Tinggi,” sambung Dr. Titis.* Eko Prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR