Senin, 26 Februari 2024
Wisata & Sejarah
Wisata Sejarah

Menunggu Wajah Alkid Solo Kembali Bersih dan Cantik

Selasa, 19 Desember 2023
alkid.jpg
Wasmowiyoto/KISUTA.com
RUMAH-rumah lampu penerangan Alun-alun Kidul Keraton Solo umumya sudah rusak.*

KISUTA.com - Masyarakat luas secara umum paham bahwa kehidupan perkotaan kini semakin padat penduduk dan jalanan padat dengan kendaraan bermotor sehingga pencemaran udara pun meningkat. Karena itu wajar bila warga perkotaan kini mendambakan tersedianya lahan luas, terbuka, dan hijau oleh pepohonan.

Kota Solo, Provinsi Jawa Tengah, adalah sedikit kota di tanah air yang memiliki lahan luas, terbuka, dan hijau oleh pepohonan serta rerumputan itu. Lokasinya pun strategis yakni Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan. Nama terakhir itu juga sering disebut Alkid atau Alun-Alun Kidul.

Lama tidak melawat ke Solo yang juga disebut Kota Surakarta itu, penulis saat baru-baru ini ke Alkid menyaksikan fasilitas umum peninggalan Raja Paku Buwono (PB) X itu cenderung buram dan kotor.

Mohon maaf kalau penilaian itu terasa subyektif. Namun, kalau khalayak pembaca ada yang sempat berkunjung ke sana, mudah-mudahan punya penilaian yang sama sehingga hasil pengamatan penulis tersebut adalah obyektif.

Bukti hasil pengamatan penulis tadi adalah matinya hampir semua “lampu taman” yang berada di sekeliling Alkid. Umumnya semua tiang lampu taman yang artistik itu masih tegak berdiri. Tapi saat penulis saksikan pada malam hari ternyata lampu listriknya tidak menyala. Penyebabnya karena memang tidak ada bohlam listriknya dan kaca sebagai “sangkar” atau “rumah” lampu sudah pecah-pecah atau retak.

Alhasil, pada malam hari penerangan Alkid berasal dari beberapa tiang tinggi (listrik) yang sengaja dipasang bohlam besar atau “lampu merkuri”. Selain itu juga berasal dari penerangan listrik yang dibawa sendiri oleh para pedagang makanan dan minuman. Jadi penerangan semakin berkurang ketika para pedagang itu selesai berdagang dan pulang ke rumah masing-masing.

Pada malam hari penerangan Alkid juga datang dari kerlap-kerlip odong-odong atau kendaraan mainan. Pada malam-malam tertentu memang Alkid diramaikan oleh penyelenggaraan pasar malam dengan segala aktivitas pelaku usaha yang meramaikannya. Di siang hari Alkid juga diramaikan oleh kehadiran warga baik untuk olahraga maupun sekadar jalan santai.

Dua gerbong kereta bersejarah
Di Alkid juga terdapat dua lokasi untuk “monumen bersejarah” berupa dua gerbong kereta api. Satu gerbong (sebelah timur) dulu dipakai PB X untuk pesiar dan satu lagi (sebelah barat) adalah gerbong untuk membawa jenazah PB X ke peristirahatan terakhirnya di daerah Imogiri, Yogyakarta.

Ke dua gerbong kereta tersebut masing-masing diletakkan atau terparkir di sebuah bangunan beratap namun terbuka di bagian bawahnya sehingga para pengunjung dapat melihatnya dari dekat. Mungkin saja lokasi monumen itu dulunya sangat bersih dan anggun, namun seiring perjalanan waktu lama-kelamaan tampak semakin kusam.

Berdasarkan sejarah, Sri Susuhunan PB X adalah Raja Kasunanan Surakarta yang memerintah antara tahun 1893-1939. Di bawah kekuasaannya, pamor Kasunanan Surakarta semakin bersinar, ditandai dengan kemegahan tradisi dan suasana politik yang stabil.

PB X juga dikenal berperan aktif dalam perjuangan pergerakan nasional, pelopor pembangunan dan pendidikan rakyat. Atas jasa-jasanya itu PB X dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. (kompas.com, 15/11/2021)

Pemerintahan PB X merupakan masa transisi dari kemelut perang ke masa yang stabil. Beberapa kebijakan yang terfokus pada kesejahteraan rakyat pun dicanangkan. Yakni, membangun fasilitas kesehatan (klinik Panti Rogo yang berkembang menjadi RS Kadipolo dan apotek Panti Husodo); mendirikan bank untuk memberikan kredit bangunan rumah bagi rakyat; dan membangun sekolah-sekolah (Sekolah Pamardi Putri, Kasatryan, dan Rijksstudiefond).

Selain itu, PB X juga membangun infrastruktur modern Kota Surakarta, seperti membangun Pasar Gede Harjonagoro, Stasiun KA Solo Jebres, Stasion Solo Kota (Sangkrah), Stadion Sriwedari, Kebun Binatang Jurug, Taman Balekambang, serta gapura-gapura di batas Kota Surakarta.

PB X wafat pada 1 Februari 1939 setelah berkuasa selama 46 tahun, menjadikannya sebagai sunan yang paling lama berkuasa di Kasunanan Surakarta.

Revitalisasi Keraton Solo
Semakin pudarnya keindahan atau kecantikan Alkid Solo –dan juga bagunan lainnya milik Keraton Kasunanan tersebut-- memang sudah disadari baik oleh pihak Keraton maupun Pemerintah Kota Surakarta. Karena itu dalam bulan Juli 2023 lalu Pemkot Solo melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kerja sama revitalisasi Keraton Kasunanan Solo. Revitalisasi tersebut akan menelan anggaran lebih kurang Rp 35 miliar dari APBN 2023 dan 2024 Kementerian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat).

Penandatanganan MoU tadi dilakukan Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, Raja Keraton Solo PB XIII, dan Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah (PPW) Jawa Tengah, Kuswara, di Hotel Novotel, Rabu 26 Juli 2023. (detikjateng, Rabu, 26/7/2023)

Tahap awal, revitalisasi itu untuk Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan atau Alkid secara bersamaan. Adapun sterilisasi lokasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Revitalisasi ini melibatkan berbagai pihak seperti Tim Ahli Cagar Budaya, Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.

Perubahan desain akan disesuaikan dengan perubahan kondisi di lapangan dan masukan dari tim ahli serta dilakukan secara hati-hati. Perubahan desain mungkin hanya di detail-detail saja.

Putra PB XIII, GPH Purboyo, menyatakan pihak Keraton sangat menerima dan mendukung revitalisasi yang akan dilakukan. Namun dia memberi sejumlah catatan. Sebab, revitalisasi ini dilakukan di lokasi cagar budaya sehingga kajian harus lengkap dan jelas, agar tidak mengubah unsur filosofis tempat tersebut.

“Seperti beberapa ruko (rumah toko) yang dulunya tidak ada, sekarang ada. Mungkin akan dihilangkan, dan kembali ke awal mula,” kata GPH Purboyo.

“Sebenarnya tidak ada permintaan khusus dari Sinuhun. Cuma dari pemaparan tadi, ada beberapa hal yang perlu direvisi. Karena pada zaman dulu beberapa tata letak seperti Alun-Alun itu hanya ada dua pohon beringin di Alun-Alun Selatan maupun Utara. Kalau mau ditambahkan, mungkin tidak sama dengan konsep dulunya. Kami dari pihak Keraton menyampaikan ke PUPR untuk bisa dipikirkan lagi, mungkin bisa dipindah atau ditata di tempat yang lain. Lainnya nggak ada, sudah bagus,” ujarnya.

Revitalisasi ini diharapkan bisa mengembalikan filosofi Alun-Alun Utara dan Selatan seperti dulu. Dengan dibuat konsep kawasan pedestrian, kedua lokasi itu akan semakin dinikmati oleh masyarakat.

Alun-Alun Utara dan Selatan, lanjut GH Purboyo, juga akan dikonsep seperti Alun-Alun Yogya. Pasir dari Pantai Selatan akan digunakan untuk alas. Bahkan, mobil dipastikan tidak bisa masuk ke area Alun-Alun.

Mudah-mudahan saja “lampu-lampu taman” Alun-Alun Kidul termasuk yang direvitalisasi sehingga nantinya menambah keindahan dan kecantikan fasilitas umum yang bersejarah ini.* wasmowiyoto-kisuta.com


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya