Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini

Korupsi dan Kentut

Selasa, 15 Januari 2013


SUDAH
menjadi kesadaran bersama. Bahwa, korupsi merupakan kejahatan berat dan kejam. Ia lebih kejam dari teroris. Ia berdampak sistemik dan sangat berbahaya. Namun sayang, kesadaran akan bahaya korupsi tidak mengantarkan bangsa kita bebas dari korupsi. Semakin hari, korupsi semakin menjadi. Semakin gencar usaha pemberantasan, koruptor malah semakin pintar.

Dari hilir sampai udik, bangsa kita asyik bercengkrama dengan korupsi. Pejabat pusat, daerah, bahkan pejabat desa sibuk mencari lahan untuk korupsi. Korupsi sudah tidak asing. Justru, yang tidak korupsi menjadi asing.

Saya sempat berpikir, bahwa penyebab korupsi bukan rendahnya pendidikan, demikian juga dengan kemiskinan. Karena, banyak lulusan pendidikan tinggi, malah mahir korupsi. Begitu juga orang kaya, mereka masih asyik korupsi. Parahnya lagi, masih ada tokoh agama yang senang bersua dengan korupsi.

Menurut para ahli, penyebab korupsi adalah mental korup, sistem yang korup, dan dorongan lain dari luar. Mental sangat berpengaruh. Apalagi didukung oleh sistem yang korup. Terlebih, jika banyak dorongan dari keluarga dan sejenisnya.

Maka, solusinya adalah bentuk mental antikorupsi, ciptakan sistem yang tidak korup, dan buang jauh-jauh segala hal yang mendorong korupsi. Nah, ketiga konsep ini bisa dikuak dari filosofi buang angin (kentut).

Mari kita tela’ah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus sadar, bahwa semua berhak memuaskan hasrat untuk buang angin. Namun, kita harus tahu diri, bahwa melanggar hak orang lain itu tidak dibenarkan. Semua orang memiliki hak untuk terbebas dari bau kentut.

Selain itu, hukum bagi pelaku kentut sembarangan harus tegas. Karena, semakin longgar hukum yang diberikan, maka perilaku kentut sembarangan akan semakin menggila.

Terakhir adalah tentang sistem. Kita harus mampu membuat dan merawat sistem kehidupan yang mendorong tidak kentut sembarangan. Karena, disadari atau tidak, sistem sangat berpengaruh terhadap perilaku penghuninya.

Kita bisa melihat perilaku anak muda sekarang. Budaya kentut sembarangan, bahkan kontes kentut sering dipertontonkan. Maka, sedikit atau banyak, perilaku ini akan sangat berpengaruh terhadap mentalnya masing-masing, termasuk mental yang korup.

Agaknya, tidak berlebihan, jika saya harus berkesimpulan, bahwa kearifan dalam buang angin, akan mampu mengurangi perilaku korupsi. (Ahmad Lukman - kisuta.com)***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya