Duta Islam Pertama
“MUHAMMAD itu tiada lain hanyalah seorang Rasul dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.
Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu dan menjadi ayat Al-Quran ini, merupakan bagian dari kisah salah seorang sahabat Rasulullah SAW, yaitu Mush’ab bin Umair. Pria tampan yang menjadi “bintang” Kota Mekah ini, gugur sebagai mahkota para syuhada dalam perang Uhud.
Kalimat di atas merupakan bukti kecintaannya yang amat dalam kepada Rasululllah dan menjadi kalimat terakhir yang diteriakan Mush’ab di garis depan saat musuh menyerangnya dan menebas kedua tangannya, sampai akhirnya gugur.

Siapakah Mush’ab bin Umair, sampai-sampai karena keberaniannya mendapat penghargaan sebagai bintang dan mahkota para syuhada perang Uhud? Mush’ab bin Umair atau Mush’ab yang baik adalah salah satu sahabat Nabi yang dalam perkembangan agama Islam, menjadi duta Islam pertama. Mush’ab lahir di Quraisy dari keluarga terpandang. Tak heran kalau kehidupannya sangatlah menyenangkan, penuh dengan kemewahan dan kesenangan.
Saat remaja, Mush’ab terkenal dengan ketampanannya, sehingga terkenal di seluruh Kota Mekah. Penampilannya yang rapi dengan pakaian indah dan selalu menebar harum, menjadikannya sebagai buah bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan. Kehidupan Mush’ab mulai berubah saat dirinya mendengar berita tentang Muhammad al Amin yang mengajak manusia beribadat kepada Allah SWT dengan memeluk agama Islam.
Karena kecerdasannya, dibandingkan dengan remaja seusianya, Mush’ab lebih banyak menerima informasi soal kehadiran Muhammad SAW dan pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di bukit Shafa. Di rumah Arqam bin Abil Arqam itu, umat Islam terhindar dari gangguan gerombolan kaum Quraisy yang selalu mengancam Muhammad SAW dan pengikutnya.
Keinginan yang sangat kuat untuk mengetahui seperti apa agama Islam itu, akhirnya Mush’ab mendatangi tempat di mana Nabi biasa mengajarkan ayat-ayat Al-Quran dan membawa pengikutnya shalat beribadah kepada Allah SWT. Saat pertama kali datang, Mush’ab disambut dengan ayat-ayat Al-Quran yang saat itu dibacakan oleh Rasulullah SAW. Untaian ayat-ayat Al-Quran itu telah mempesona Mush’ab, sehingga memenuhi kalbunya, hingga tak kuasa lagi menahan gejolak hatinya untuk menjadi hamba Allah SWT. Di senja itu, Mush’ab akhirnya masuk Islam dengan dituntun oleh Rasulullah SAW.
Keputusannya untuk memeluk Islam, bukan keputusan gampang, mengingat di antara kaum Quraisy kedua orang tuanya merupakan orang yang paling berpengaruh. Meski telah mengambil keputusan menjadi seorang muslimin, namun tak urung Mush’ab khawatir menghadapi sikap keras ibunya, Khunas binti Malik. Wanita yang sangat kuat pendiriannya ini, sangat disegani kaum Quraisy.
Sambil mencari cara tepat untuk menyampaikan keputusannya kepada ibunya, Mush’ab menyembunyikan keislamannya. Secara sembunyi-sembunyi dihadirinya pertemuan dengan Rasulullah SAW di rumah Arqam. Apakah Mush’ab dapat mempertahankan rahasianya? (Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah” - kisuta.com)***


