Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Mush’ab bin Umair (2)

“Kaya” dalam Kemiskinan

Senin, 21 Januari 2013

PADA bagian pertama telah dikisahkan bagaimana Mush’ab untuk sementara waktu menyembunyikan keislamannya, terutama kepada ibunya. Secara sembunyi-sembunyi, Mush’ab mendatangi rumah Arqam untuk menghadiri majelis Rasulullah. Rahasia Mush’ab akhirnya terbongkar juga. Seseorang bernama Usman bin Thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi-sembunyi dan melakukan shalat seperti halnya Muhammad SAW.

Secepat kilat Usman bin Thalhah melaporkannya kepada ibu Mush’ab. Mush’ab dengan tenang menghadapi kemarahan ibunya, keluarganya, dan para pembesar Mekah yang berkumpul di rumahnya. Menjawab kemarahan itu, Mush’ab justru melantunkan ayat-ayat Al-Quran yang disampaikan Rasulullah. Ibunya yang semula akan menamparnya, mengurungkan niatnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Mush’ab akhirnya dipenjara. Pria tampan ini berhasil meloloskan diri dan pergi ke Habsyi, melindungi diri. Baik di Habsyi maupun di Mekah, Mush’ab selalu didera dengan penderitaan, bahkan bebannya semakin berat. Penderitaan telah membuat Mush’ab berubah. Kesederhanaan pria yang berasal dari kaum bangsawan ini, telah membuat sahabat-sahabatnya menitikkan air mata.

Saat itu mereka melihat Mush’ab mengenakan jubah usang yang bertambal-tambal. Sedangkan Rasulullah, melihat perubahan itu dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur. Pada bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya bersabda, “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orangtuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”. Itulah Mush’ab, yang rela meninggalkan kemewahan dan kesenangan, memilih hidup miskin dan sengsara.

Pria rupawan itu sudah terbiasa hidup menderita, bahkan sehari makan dan beberapa hari menderita lapar pun dijalaninya. Tetapi dalam kemiskinannya itu, Mush’ab justru merasa jiwanya “kaya” dengan cahaya ilahi. Mush’ab merasa bahwa kehidupannya telah layak untuk dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi, Tuhannya Yang Maha Akbar.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya, Mush’ab oleh Rasulullah diutus ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk agama kepada orang-orang anshar, yang telah beriman dan dibaiat oleh Rasulullah di Bukit ‘Aqabah. Sebagai duta utusan Rasulullah, Mush’ab juga mendapat tugas mempersiapkan Kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar. Apakah Mush’ab mampu? (Abu Ainun/“Karakteristik Perihidup Sahabat Rasullullah”-kisuta.com)***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya