Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Utbah bin Ghazwan

Pejabat Basrah yang Pantang Serakah

Jumat, 25 Januari 2013

DI antara muslimin yang lebih dulu masuk Islam, terdapat nama Utbah bin Ghazwan, pria berperawakan tinggi dengan muka bercahaya dan rendah hati.

Utbah adalah seorang pria yang terkenal dengan sikapnya yang zuhud dan sederhana. Jago panah ini merupakan contoh pemimpin dalam Islam yang dapat melepaskan diri dari kemewahan duniawi.

“Aku melindungkan diri kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku karena kemewahan dunia, tetapi kecil di sisi Allah”. Begitu selalu dikatakan Utbah bila ada orang yang mencoba mengubah pendiriannya dengan mencoba membangkitkan kesadarannya sebagai penguasa dan hak-haknya sebagai seorang penguasa.

Ketika Rasulullah SAW masih hidup, Utbah merupakan pemanah andalan saat peperangan menghadapi kaum Quraisy. Ia melemparkan tombak dengan ketepatan luar biasa, sama tepatnya seperti busur yang dipanahkan ke arah lawan. Meski Rasul telah wafat, Utbah tetap berjuang melawan orang-orang yang hendak menghancurkan kekuatan Islam.

Saat Persia menjadikan Ubullah sebagai batu loncatan untuk menghancurkan kekuatan Islam, Utbah dikirim oleh Umar bin Khatab untuk membebaskan negeri itu. Tak salah Amirul Mu’minin Umar mengirimnya, karena lewat beberapa peperangan kecil negeri itu berhasil dibebaskan dari pasukan Persia.

Di tempat Ubullah, Utbah membangun Kota Basrah dengan dilengkapi sarana perkotaan, termasuk masjid besar. Seluruh penduduk negeri telah dibebaskan dari kekejaman pasukan Persia. Usai membebaskan Ubullah, Utbah bermaksud kembali ke Madinah. Namun keinginannya ditolak oleh Amirul Mu’minin Umar. Utbah justru diminta untuk menjadi pemimpin di sana.

Tak bisa menolak, jadilah pria yang bersahaja ini menetap di Ubullah dan mengajarkan rakyatnya tentang shalat, memberi pengertian soal agama, menegakkan hukum dengan adil, serta memberi contoh teladan yang sangat mengagumkan tentang kezuhudan dan kesederhanaan. Dengan tekun dikikisnya kemewahan dan sikap berlebihan di kalangan penduduknya.

Meski banyak orang mencoba mempengaruhinya, namun tak ada yang dapat mengubah pendirian pria yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di medan perang. “Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku dan Rasulullah SAW sebagai salah seorang kelompok tujuh, yang tak punya makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga bagian dalam mulut kami pecah-pecah dan luka-luka. Di suatu hari aku beroleh rezeki sehelai baju burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah kuberikan kepada Sa’ad bin Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku,” begitu Utbah menggambarkan bagaimana nikmatnya kesederhanaan.

Di saat orang lain mengincar jabatan, Utbah justru tak ingin berlama-lama menjadi pejabat di Basrah. Sikapnya ini patut menjadi contoh bagi para pejabat masa kini yang telah menjadikan jabatan sebagai tujuan hidup, sehingga untuk melepaskannya.

Keinginan untuk lepas dari jabatan di Basrah, disampaikan oleh Utbah kepada Amirul Mu’minin Umar. Saat itu Utbah baru selesai melaksanakan ibadah haji dan menemui Amirul Mu’minin Umar di Madinah. Permintaan itu ditolak, karena Umar tak ingin kehilangan pemimpin yang memiliki kepribadian zuhud seperti Utbah.

Utbah akhirnya menerima tugas tersebut. Namun, dalam perjalanan menuju Basrah, Utbah dipanggil Sang Pencipta. Keinginannya untuk tidak kembali ke Basrah dan menjadi pemimpin di sana, telah dikabulkan Allah SWT.

Sosok Utbah bin Ghazwan dapat menjadi contoh bagi pemimpin muslim di mana pun. Seharusnya para pemimpin tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan hidup, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. (Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah”-kisuta.com)***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya