Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini

Euforia “Barangbang Semplak”

Minggu, 27 Januari 2013

PERADABAN manusia tak terhenti pada satu kisaran waktu. Terus berjalan laksana seorang musafir di tengah gurun pasir. Berjalan mengikuti perkembangan jaman. Seperti arus globalisasi yang menjalar ke semua sendi kehidupan. Itu tak bisa dibendung. Menghancurkan kekuatan budaya, melumpuhkan norma-norma adat dan melenyapkan rasa keakuan, jati diri kita.

Kita tidak bisa melawan karena kita tidak punya kekuatan untuk mengubah garis kehidupan. Sejak Nabi Adam dilahirkan, maka alam tak pernah berhenti berputar membawa siklus peradaban di masing-masing jamannya. Itulah kehidupan yang hakiki dimana manusia hanya tampil sebagai pelakon tanpa bisa menentang kodrat dan irodatnya.

Urang sunda bagian dari pelakon itu. Berperan dalam titian masa dimana sebuah peradaban tercipta dengan sangat menakjubkan. Sunda, memang kaya akan seni dan budaya. Terlahir dari sebuah harmoni antara jiwa (para leluhur) dengan Sang Kholik dan jiwa (para leluhur) dengan alamnya. Namun, dalam putaran waktu jua air mata peradaban itu harus menetes di tanah Pasundan. Kedasyatan seni dan budayanya tergerus derasnya modernisasi/ globalisasi. Tapi Ki Sunda harus tetap tersenyum karena kehadirannya akan tetap ada selagi Tuhan tak menghancurkan jagat raya.

Biarkan Ki Sunda tersembunyi di balik rembulan. Mari kita bicara kekinian. Bicara tentang iket “barangbang semplak”. Entah kenapa, belakangan ini kita sering menjumpai banyak orang yang mengenakan iket “barangbang semplak” meski ke bawahnya masih bercelana jeans atau memakai baju “kampret” walaupun kemudian ia nongkrong di pinggir kolam pemancingan. Nah, kalau soal “tarumpah”, masih jarang melihat orang memakainya. Entah, mungkin “tarumpah” sudah sulit didapat.

Melihat semua itu, kita seakan berada kembali di jamannya kakek atau buyut kita sekian tahun silam. Begitu gagahnya. Dengan gelang bahar di tangan, padudan gading gajah serta batu ali merah delima, seolah ingin menyampaikan pesan bahwa urang sunda punya kharisma dan wibawa. Jangan pernah menghina urang sunda karena urang sunda titisan Prabu Siliwangi yang terkenal dengan keberaniannya.

Kembali pada munculnya fenomena “barangbang semplak”. Kalangan birokrat; gubernur, bupati/walikota hingga pejabat teras dan aparat satuan kerja pemerintah daerah (SKPD), bahkan sampai ke tingkat kecamatan dan desa, belakangan ini sangat berselera memakai iket kepala khas sunda itu. Malah seiring berjalannya waktu, masyarakat umum pun ikut-ikutan mengenakan “barangbang semplak”. Heboh, meski tak seheboh munculnya Ayu Tingting tempo lalu. Euporia “barangbang semplak” terjadi di seantero bumi Parahyangan.

Tapi, betulkah sekadar euporia atau ini era kebangkitan kembali kesadaran urang sunda terhadap budayanya sendiri? Jangan-jangan hanya iseng karena ingin tampil beda. Apakah pula memang diatur dalam sebuah peraturan daerah (perda) yang harus dipatuhi oleh semua unsur birokrat. Tapi, boleh jadi sekadar himbauan dari kepala daerah, sehingga jika tidak memakai pun tidak mendapat sangsi apa-apa.

Tunjuk contoh di Kabupaten Bandung. Bupati dan wakilnya dalam setiap kunjungan ke daerah acap kali memakai iket “barangbang semplak”. Bahkan, beberapa kali kesempatan komplit dengan kampret hitam-hitamnya. Dua papayung agung Dalem Bandung ini, terlihat gagah, mantes jeung kasep. Lantas, tanpa ada instruksi atau hanya sekadar ikut-ikutan, para pejabat lain di Pemkab Bandung kemudian ramai-ramai memakainya hingga ke tingkat kecamatan dan desa. Biasanya terlihat ketika mereka duduk di pinggir kolam seraya mancing ikan. Jelas, ini adalah euporia.

Boleh-boleh saja kalau euporia “barangbang semplak” ini tidak harus diperdebatkan, apalagi jadi folemik. Tapi, jangan coba-coba “barangbang semplak” hanya sebagai penutup kepala, pamantes wungkul. Jangan pula kita menganggap “barangbang semplak” tidak punya nilai pilosofis dalam tata kehidupan urang Sunda. Karena itu memakai ‘”barangbang semplak” hendaknya tidak sembarangan, sakahayang.

“Barangbang semplak” hendaknya tidak dinilai sekadar sehelai kain bermotip batik atau hanya penutup kepala biar diperhatikan orang. Tapi harus jadi identitas diri dan sebuah komitmen cultural, bahwa kita urang Sunda yang akan selalu mencintai budayanya sendiri.

Itu makanya, euporia “barangbang semplak” yang belakang ini terjadi di Kabupaten Bandung, hendaknya diakhiri kalau tidak diimbangi dengan rasa “kasundaanana”. Janganlah kita gemar memakai “barangbang semplak” tapi sikap keseharian kita tidak mencerminkan jati diri Ki Sunda. Jangan pula kita menodai kasucian kain segitiga itu dengan sikap dan pasipatan yang tidak nyunda.(Denny Kurniadi-kisuta.com)*** 


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya