Kamis, 4 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Candi Borobudur

Warisan Dunia Itu Mewariskan Misteri

Rabu, 6 Februari 2013

SIAPA penduduk Indonesia yang tidak bangga pada Candi Borobudur? Ya, candi ini memang bukan hanya menjadi milik masyarakat Magelang, Jawa Tengah, tetapi sudah menjadi milik masyarakat Indonesia, bahkan masyarakat dunia.

Candi Borobudur memang indah, terbukti dari pengakuan yang diberikan oleh dunia. UNESCO menetapkannya sebagai warisan dunia dan Guinness World Records menjadikannya sebagai situs arkeologi candi Budha terbesar di dunia.

Terlepas dari kemegahan dan keindahan Borobudur, lengkap dengan relief yang penuh kisah dalam agama Budha, sejumlah misteri masih melingkupi candi ini. Direktur Utama Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan Ratu Boko (Persero), Purnomo Siswoprasetjo mengakui misteri candi ini.

Candi Borobudur yang saat itu belum mempunyai nama, pertama kali menjadi perhatian ketika pada tahun 1814, Gubernur Jendral Britania Raya, Thomas Stamford Raffles tertarik untuk mengungkapnya. Saat itu, Borobudur hanya berupa candi yang selama berabad-abad terkubur di bawah gundukan tanah dan tertutup oleh semak belukar. Raflles juga yang pertama kali menuliskan nama “Borobudur” dalam bukunya, “History of Java. Tak jelas asal mula nama yang digunakan oleh Raffles itu.

Purnomo Siswoprasetjo menuturkan, misteri yang masih melingkupi Candi Borobudur seputar bagaimana candi ini dibangun. “Pasti masyarakat terus bertanya-tanya, bagaimana candi ini dibangun? Dari mana asal batu-batu yang digunakan untuk membangun? Teknologi apa yang digunakan untuk mengangkat dan menyusun batu-batu dengan presisi dan desain arsitektur yang mengagumkan,” ujarnya.

Tak hanya pertanyaan soal asal batu yang disebut-sebut berasal dari Gunung Merapi, pertanyaan juga perihal tempat pekerja memahat dan mengukir batu-batu tersebut, mengingat Borobudur berada pada dataran tinggi. Borobudur berada di atas bukit, dikelilingi dua pasang gunung kembar, yaitu Sindoro-Sumbing serta Merbabu-Merapi. Letak ini memang tidak biasa, karena umumnya candi dibangun di tanah datar.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar letak Borobudur yang tidak biasa, pada tahun 1931 seniman dan pakar arsitektur Hindu Buddha, W.O.J. Nieuwenkamp, mengajukan teori bahwa Daratan Kedu yang menjadi lokasi Borobudur menurut legenda Jawa, dulunya berupa danau purba. Borobudur dibangun melambangkan bunga teratai yang mengapung di atas permukaan danau. Ini sebuah hipotesa yang menjadi perdebatan hangat di kalangan para ilmuwan. Salah satu cara untuk mengungkap misteri danau purba itu dengan meneliti sungai-sungai yang berada di sekitar Borobudur, termasuk Sungai Progo dan Elo. Juga pada masyarakat yang tinggal di sekitar candi.

Van Bemmelen dalam bukunya “The Geology of Indonesia” menyebutkan bahwa piroklastika Merapi pada letusan besar tahun 1006 telah menutupi danau Borobudur menjadi kering dan sekaligus menutupi candi ini hingga lenyap dari sejarah. Fakta geologi juga memberi dukungan pada pendapat itu.

Pertanyaan-pertanyaan seputar Candi Borobudur, menarik minat banyak ilmuwan asing berdatangan untuk melakukan penelitian. Banyak para ahli dari luar negeri seperti dari Jepang yang datang ke Candi Borobudur khusus untuk meneliti danau purba itu. Mereka biasa tinggal selama satu minggu hingga dua minggu. Terlepas dari misteri yang masih melingkupinya, keindahan Candi Borobudur memang layak untuk menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia dan dunia.* Ati Suprihatin - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya