Rabu, 3 Juni 2026
Unik Menarik
Air Zam Zam (1)

Berlimpah Penuh Berkah

Senin, 11 Februari 2013

KETIKA berkesempatan menjalankan ibadah haji tahun 2004 dan ibadah umrah tahun 2005, salah satu hal yang ingin saya lakukan adalah, minum sepuas-puasnya air zam zam. Mengapa? Karena begitu banyak informasi yang saya peroleh tentang khasiat air ini, sehingga saya ingin mengonsumsinya dari tempat di mana air ini berasal, yaitu Mekah.

Tak hanya saya, semua jemaah yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, terlihat sekali memanfaatkan kesempatan untuk minum air zam zam secara gratis. Maklum saja, di Tanah Air harus membeli, satu galon air zam zam ukuran lima liter harganya sampai Rp 200.000.

Di setiap sudut Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, kita bisa menemukan galon-galon air zam zam lengkap dengan cangkir sekali pakainya. Tinggal pijit, langsung bisa diminum, dan gratis lagi. Di area Masjidil Haram seperti di tempat tawaf, tempat sai, dan di halaman masjid selalu tersedia air yang berkhasiat ini. Ketika pulang dari Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, jemaah selalu mengisi botol-botol yang mereka bawa dengan air zam zam untuk dinikmati di perjalanan pulang maupun penginapan.

Meskipun jutaan jemaah setiap tahunnya mengonsumsi air zam zam, belum lagi yang dibawa oleh jemaah sebagai oleh-oleh, namun air zam zam tak pernah habis. Diperkirakan setiap musim haji, puluhan juta liter air zam-zam dikonsumsi. Namun sumur zam zam tak pernah kering, airnya selalu tersedia, tak ada habisnya.

Saya pernah mencoba menghitung berapa banyak konsumsi air zam zam pada setiap musim haji. Apabila jumlah jemaah haji dari seluruh penjuru dunia mencapai 3 juta orang dan setiap orang mendapat jatah 5 liter untuk dibawa ke negaranya masing-masing, maka sekitar 15 juta liter air zam zam terbang ke luar Mekah. Belum lagi dengan air zam zam yang dikonsumsi jemaah selama di Tanah Suci yang jumlahnya pasti lebih besar lagi. Misalkan saja setiap jemaah mengonsumsi air zam zam 1 liter per hari, maka selama 30 hari di Tanah Suci akan mengonsumsi 30 liter atau 90 juta liter untuk seluruh jemaah haji. Ini perkiraan saja, karena yang dikonsumsi jemaah pasti lebih besar, karena saya saja selama di Tanah Suci , setiap harinya minum 2 sampai 3 liter air zam zam.

Anehnya, air zam zam tak pernah habis. Belum pernah ada cerita, jemaah pada musim haji tertentu tidak bisa mengonsumsi air zam zam. Semula saya mengira sumber air zam zam seluas Kedung Ombo. Namun, setelah saya membaca sejumlah referensi tentang air zam zam, saya sangat takjub, karena sumber air zam zam hanyalah sumur gali atau dug water well. Bagaimana saya tidak tercengang, kalau setiap tahunnya jutaan liter dihasilkan sumur yang tak beda dengan sumur-sumur gali di Tanah Air?* Ati Suprihatin-kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya