Pejuang Saat Susah Maupun Senang
RASULULLAH memasuki kota Madinah, dengan demikian berarti beliau telah mengakhiri perjalanan hijrahnya dengan gemilang, dan memulai hari-harinya yang penuh berkah di kampung hijrah, untuk mendapatkan apa yang telah disediakan qadar Ilahi baginya.
Dengan mengendarai untanya Rasulullah berjalan di tengah barisan manusia yang penuh sesak, dengan luapan semangat dari kalbu yang penuh cinta dan rindu. Berdesak-desakan berebut memegang kekang untanya, karena masing-masingnya menginginkan untuk menerima Rasul sebagai tamunya.

“Lapangkanlah jalannya, karena ia terperintah…!” Nabi sebenarnya telah menyerahkan memilih tempat tinggalnya kepada qadar Ilahi, karena dari tempat inilah kelak kemasyhuran dan kebesarannya. Di muka rumah Bani Malik bin Najjar unta itu bersimpuh kemudian ia bangkit dan berkeliling di tempat itu, lalu pergi ke tempat ia bersimpuh tadi dan kembali bersimpuh lalu tetap dan tak bergerak dari tempatnya. Maka turunlah Rasul dari atasnya dengan penuh harapan dan kegembiraan.
Salah seorang muslimin tampil denagn wajah berseri-seri karena sukacitanya. Ia maju lalu membawa barang muatan dan memasukkannya ke rumahnya kemudian mempersilahkan Rasul masuk. Rasul pun mengikutinya dengan diliputi oleh hikmat dan berkat.
Orang yang berbahagia yang telah dipilih takdir bahwa unta Nabi akan berlutut di muka rumahnya, hingga Rasul menjadi tamunya, dan semua penduduk Madinah akan sama merasa iri atas kemujurannya. Dialah orang terpilih itu, Abu Aiyub al-Anshari Kalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar. Nabi akan berdiam di rumah Abu Aiyub sampai selesai pembangunan masjid dan pembangunan biliknya di sampingnya.
Semenjak orang-orang Quraisy bermaksud jahat terhadap Islam dan berencana menyerang tempat hijrahnya di Madinah, menghasut kabilah-kabilah lain serat mengerahkan tentaranya untuk memadamkan nur Ilahi, semenjak itulah Abu Aiyub mengalihkan aktifitasnya kepada berjihad pada jalan Allah. Maka dimulainya dengan perang Badar, lalu Uhud dan Khandaq, pendeknya di semua medan tempur dan medan laga, ia tampil sebagai pahlawan yang sedia mengurbankan nyawa dan harta bendanya untuk Allah Rabul’alamin. Abu Aiyub syahid pada pertempuran di Konstantinopel.
Sekalipun perang dan pertempuran sarat memenuhi kehidupannya, hingga tak pernah membiarkan pedangnya terletak beristirahat, namun corak kehidupannya adalah tenang tentram laksana desiran bayu di kala fajar. Dan oleh karena itulah tak pernah lidahnya terlibat dalam suatu fitnah, dan dirinya tidak terjerembab dalam kerakusan.
Ia telah menghabiskan hidupnya dalam kerinduan ahli ibadah dan ketahanan orang yang hendak berpisah. Maka sewaktu ajalnya datang tak ada keinginannya di sepanjang dan selebar dunia kecuali cita-cita yang melambangkan kepahlawanan dan kebesaran selagi hidupnya: “Bawalah jasadku jauh-jauh…jauh masuk ke tanah Romawi, kemudian kuburkan aku di sana…!” Dan, hingga sebelum tempat itu dikuasai oleh orang Islam, orang-orang Romawi penduduk Konstantinopel memandang Abu Aiyub di makamnya itu sebagai orang kudus suci.* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah”-kisuta.com


