"Badak Putih" Pieters Park, Penunggu Setia Gedong Papak
BUKAN karena pangguyangan badak putih menjadi salah satu syarat yang harus dipenuhi ketika bangunan Kabupaten Bandung, Jawa Barat ditentukan di Kampung Cikalintu, kalau kemudian patung badak putih ditempatkan di Pieters Park atau Taman Dewi Sartika yang merupakan bagian dari Balaikota Bandung yang dulu dikenal dengan Gedong Papak.

Meskipun saat menetapkan Kampung Cikalintu sebagai pusat pemerintah Kabupaten Bandung (cikal bakal berdirinya Kota Bandung), orang-orang tua zaman dahulu menggunakan "pangguyangan badak putih" sebagai syarat yang harus dipenuhi, namun keberadaan patung badak putih di Balaikota, sama sekali tidak memiliki kaitan historis magis dengan berdirinya Kota Bandung.
Patung karya Drs. Nyoman Nuarta dan Ketut Winata ini, diresmikan tanggal 10 November 1981 oleh Walikota Bandung saat itu, H. Husen Wangsaatmadja. Berarti tahun 2013 ini, sudah 32 tahun sang badak nongkrong menghiasai Taman Dewi Sartika. Sayangnya, meskipun terletak di Balaikota yang merupakan pusat pemerintahan Pemkot Bandung, ternyata sejarah sang badak tidak masuk dalam literatur patung yang dimiliki Pemkot Bandung. Hanya sedikit saja pegawai yang mengetahui sejarah patung badak putih ini, selebihnya hanya menggelengkan kepala.
Keberadaan sang badak di komplek Balaikota seperti yang kebetulan saja. Apalagi, fauna khas Kota Bandung bukan badak, melainkan burung cangkurileung. Terlepas dari sejarah yang melatarbelakangi kehadirannya, badak putih telah menjadi bagian dari keberadaan Balaikota di Jln. Wastukancana, Bandung. Bersama dua patung burung merpati yang hadir sesudahnya, saat ini badak putih menjadi ”satwa” penghuni tetap Balaikota.
Saat air kolam berlimpah, sejumlah anak-anak mandi di dalamnya. Meskipun anak-anak sengaja mencipratkan air atau menungganginya, namun sang badak tetap saja berdiri tegak memandang taman. Boro-boro mencoba mengejar anak-anak yang usil itu, memindahkan badan untuk menghindari cipratan air pun tidak dilakukan. Maklum saja, badak yang satu ini mah patung.
Banyak pemandangan yang dapat disaksikannya, seperti wanita gelandangan yang tidur-tiduran sambil mencari kutu, pelajar yang asyik berdiskusi atau sepasang kekasih yang sedang memadu kasih di bawah pohon.
Dikelilingi kolam dengan airnya yang berwarna hijau, saat ini patung badak putih seperti tak terurus. Beberapa lampu hias di sekitar kolam telah pecah dan sampah yang mengambang di kolam dibiarkan begitu saja. Padahal, sang badak akan lebih indah bila dikelilingi kolam dengan airnya yang bersih tanpa sampah.

Kulit sang badak pun mulai berubah warna, dari putih menjadi putih tua alias kusam. Meskipun hujan dan panas tidak mampu mengusirnya dari tempatnya nongkrong, namun tetap saja mempengaruhi daya tahan "kulitnya" alias catnya yang bila tidak kembali dicat menjadi kusam.
Tetapi dasar muka badak, meskipun tampilannya sudah tidak cantik lagi, tetapi tetap setia menyambut "tamu-tamu" yang datang ke Balaikota.* Ati Suprihatin-kisuta.com


