Rabu, 3 Juni 2026
Unik Menarik

Siswi SMK Melahirkan Saat Mengikuti UAS

Kamis, 7 Maret 2013

KETIKA sebagian siswa lain sedang serius mengerjakan soal-soal ujian akhir semester (UAS), Selasa, 5 Maret 2013, seorang siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ruhul Bayan di Kab. Tangerang, berinisial SI meminta izin kepada pengawas ujian untuk ke kamar mandi. Sekembalinya dari kamar mandi siswi kelas 12 ini terlihat lemah. Kepada pengawas, SI mengaku sedang sakit.

Saat bel istirahat berbunyi, kehebohan terjadi di SMK yang terletak di Jln. Raya Cisauk KM 4, Kec. Cisauk, Kab. Tangerang. Seperti diberitakan oleh media lokal, seorang siswa menemukan bayi yang masih lengkap dengan tali pusarnya di kamar mandi sekolah. Berlumuran darah, bayi tersebut tergeletak di lantai kamar mandi. Sontak penemuan itu membuat kaget siswa yang sedang melaksanakan UAS.

Pihak sekolah langsung mengusut, siapa ibu dari bayi tersebut. Tak membutuhkan waktu lama, diketahui bahwa ibu bayi malang itu adalah SI. Ternyata, ketika meminta izin ke kamar mandi, SI bukan buang air kecil, namun melahirkan bayinya. Entah karena panik atau memang sengaja, sang bayi ditinggalkannya begitu saja di lantai kamar mandi.

SI yang kondisinya lemah, dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara bayi yang diduga lahir saat kandungan berusia enam bulan itu, dilarikan ke klinik dekat sekolah.

Terhadap kasus tersebut, Kapolresta Tangerang, Kombes Bambang Priyo Andogo menyatakan, kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan medis dari pihak rumah sakit, apakah bayi tersebut digugurkan secara sengaja atau keguguran.

”Menurut pengakuan SI, dirinya keguguran. Tapi kami belum tahu. Keguguran secara alami atau bukan. Karena itu kami menunggu hasil medis pemeriksaan rumah sakit," kata Bambang.

Apa yang dialami SI tak hanya mencoreng aib bagi keluarga, tetapi juga bagi sekolah. SI bisa menutupi kehamilannya selama enam bulan tanpa orangtua serta teman-teman dan guru-gurunya mengetahui. Kejadian ini menjadi pelajaran bagi orangtua dan pendidik, untuk lebih memperhatikan anak-anak dan siswanya.

Masalah ini tidak selesai hanya dengan menganggap kejadian ini sebagai aib. Perlu diurai, apa saja yang menyebabkan hal ini terjadi, karena dengan hanya menyalahkan SI, bukanlah penyelesaian yang bijak. Ada fungsi pengawasan yang tidak jalan, baik dari orangtua maupun guru. Enam bulan bukan waktu yang singkat untuk melihat perubahan, baik dalam hal fisik maupun psikis. Semoga kejadian ini bisa memberikan hikmah bagi semua pihak.* Ati Suprihatin-kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya