Chikungunya Pernah Dilirik AS untuk Dijadikan Senjata Biologis
SIAPA sangka kalau negara adidaya Amerika Serikat pernah menjadikan Chikungunya sebagai salah satu dari sekian banyak calon senjata biologis yang diriset. Beruntung akhirnya pemerintah Amerika Serikat menghentikan program tersebut.
Sebenarnya, seperti apa penyakit Chikungunya sehingga Amerika Serikat memilihnya menjadi salag satu calon senjata biologis. Apakah penyakit ini mematikan? Chikungunya merupakan penyakit sejenis demam virus yang disebabkan alphavirus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Meski masih “bersaudara” dengan demam berdarah, namun penyakit ini tidak mematikan.
Nama Chikungunya berasal dari kata dalam bahasa Makonde yang berarti "melengkung ke atas", mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri yang disebabkan gejala-gejala arthritis penyakit ini.
Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah, tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian, timbul rasa sakit pada tulang-tulang yang sering disebut sebagai demam tulang atau flu tulang. Gejala-gejalanya memang mirip dengan infeksi virus dengue dengan sedikit perbedaan pada hal-hal tertentu. Virus ini dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui nyamuk Aedes aegypti.
Virus ini menyerang semua lapisan usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening.
Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok. Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada chikungunya tidak terdapat perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian.
Penyakit ini biasanya dapat disembuhkan dengan membatasi diri sendiri dan akan sembuh dengan sendirinya. Perawatan berdasarkan gejala disarankan setelah terdapat tanda-tanda penyakit lain yang lebih berbahaya.
Bagi Anda yang tinggal di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat sebaiknya waspada terhadap penyakit ini. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Dr. Achmad Kustijadi, Kamis, 14 Maret 2013, mengatakan, selama tahun 2012 di Kab. Bandung terjadi 1.227 kasus demam berdarah segue (DBD) dan Chikungunya. Rata-rata terjadi 100 kasus perbulannya.
Dari 31 kecamatan di Kab. Bandung, sebanyak 22 kecamatan atau 71 persen masuk daerah endemis DBD dan Chikunguya. Diantaranya Kec. Margahayu, Margaasih, Soreang, Baleendah, dan Kec. Majalaya. Sedangkan daerah yang aman DBD dan chikungunya antara lain Kec. Pangalengan, Kertasari, Rancabali, Ciwidey, dan Kec. Pasirjambu. Daerah-daerah yang aman penyakit ini karena nyamuk Aedes aegypti tidak bisa berkembang biak di daerah dataran tinggi.* Ati Suprihatin-kisuta.com


