Pengharum Ruangan dari Kotoran Sapi
KOTORAN sapi selama ini baru dimanfaatkan sebagai bahan biogas. Tapi di tangan dua pelajar SMA Muhammadiyah Babat, Kabupaten Lamongan Jawa Timur, kotoran sapi bisa menjadi pengharum ruangan. Dua pelajar inovatif itu adalah, Dwi Nailul Izzah dan Rintya Miki Aprianti.

Dwi lahir di Pucuk, Lamongan pada 14 Desember 1996 dan merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Haris A Salim dan Zayyaroh. Sedangkan Rintya lahir di Jambi pada 17 April 1996 dan merupakan putri pertama dari tiga bersaudara pasangan Maliki dan Juwami.
Media massa setempat memberitakan, atas inovasinya membuat pengharum ruangan dari kotoran sapi, Dwi dan Rintya meraih juara pertama tingkat nasional pada ajang Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2013 yang diadakan di Jakarta, 26-28 Februari 2013.
Tak hanya itu, keduanya juga mewakili Indonesia pada lomba International Environment Project OIimpiade (INEPO) 2013 di Istanbul, Turki pada 17-20 Mei 2013. Pada ajang INEPO, mereka akan beradu karya dengan peserta dari 50 negara, di antaranya dari Kanada, Denmark, Finlandia, Jerman, Italia, Portugal, Malaysia, Amerika Serikat, Rusia dan Polandia.
Selain murah, pembuatan pengharum ruangan ramah lingkungan dari kotoran sapi ini, tidak ribet alias sangat mudah. Siapa pun bisa membuatnya. Tak heran jika inovasi dua remaja putri ini mampu mengalahkan 1.000 peserta dari seluruh Indonesia.
Mengenai hasil ciptaan mereka yang mengundang decak kagum ini, Dwi Nailul Izzah mengungkapkan, "Pengharum ruangan yang kami hasilkan murni berbau alami seperti tumbuhan yang menjadi makanan sapi, bukan karena ditambahi dengan bahan kimia agar bisa berbau wangi".
Dwi dan Rintya berani menjamin, pengharum ruangan dari kotoran sapi ini sehat, karena tidak mengandung bahan kimia berbahaya seperti benzona acetan yang biasa digunakan produk pengharum ruangan yang dijual di pasaran sekarang.
Tak hanya aman bagi manusia dan lingkungan, pengharum ruangan yang mereka buat juga sangat murah. Dalam kajian ekonomi pangsa pasar produknya, kedua pelajar ini menyebutkan ongkos produksinya hanya Rp 21.000 untuk kemasan 225 mililiter. Sedangkan produk pengharum ruangan di pasaran harganya mencapai Rp 39.900 untuk kemasan 275 mililiter.
"Karena itulah, karya kami berpeluang besar untuk bisa mendapatkan hak paten, Oleh karena itu, kami akan segera mengajukan hak paten atas karya itu, sebab di situs Dirjen Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) belum ada paten produk sejenis,” ujar Dwi.* Ati Suprihatin-kisuta.com


