Rabu, 3 Juni 2026
Unik Menarik

Limbah Terasi Bisa Menjadi Energi Listrik

Rabu, 20 Maret 2013

KUALITAS mahasiswa asal Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa luar negeri. Banyak karya mereka, termasuk hasil penelitian mereka yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan mempunyai nilai jual secara ekonomi.

Kompas.com, Minggu, 17 Maret 2013 memberitakan, mahasiswa Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) Institut Pertanian Bogor (IPB) telah berhasil mengubah limbah cair organik dari terasi menjadi energi listrik. Temuan ini merupakan hasil kerja keras mereka yang telah melakukan penelitian di salah satu perusahaan terasi di Kabupaten Cirebon.

Kepala Humas IPB, Ir. Henny Windarti, M.Si. menjelaskan, penelitian yang dilakukan mahasiswanya dalam kaitan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berjudul "Pemanfaatan Limbah Cair Industri Terasi di Kabupaten Cirebon Sebagai Penghasil Energi Listrik". Penelitian yang dikoordinasi Silvikasari itu beranggotakan Heryani, Osy Yostia Utami, Qatrunnada, dan Haribowo.

Ketua tim peneliti, Silvikasari mengatakan, pemanfaatan sumber energi alternatif menjadi solusi di masa mendatang dalam memenuhi kebutuhan energi. "Salah satu energi alternatif yang mampu diproduksi dalam waktu yang relatif singkat adalah dengan memanfaatkan limbah cair organik dari terasi," katanya.

Limbah cair terasi, merupakan salah satu limbah organik, yang diperoleh sebagai hasil samping pengolahan terasi. Salah satu jenis terasi yang sering diproduksi di Indonesia, terutama di Kabupaten Cirebon adalah terasi udang. Limbah cair terasi masih mengandung nutrisi seperti protein dan karbohidrat yang dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan mikroba. "Mikroba inilah yang kemudian akan dimanfaatkan untuk memproduksi energi listrik," katanya.

Manfaatkan mikroba

Silvikasari mengungkapkan, limbah cair terasi yang digunakan pada penelitian ini mengandung konsorsium mikroba. Hanya saja, tidak semua mikroba dapat ditumbuhkan dan diisolasi dalam media agar-agar nutrien yang digunakan pada percobaan. Konsorsium mikroba yang terdapat secara alami dalam limbah cair terasi ini dimanfaatkan untuk memproduksi energi listrik melalui reaksi yang memungkinkan terjadinya transpor proton akibat proses respirasi seluler dari permukaan sel ke anoda.

Kemudian, kultur cair bacillus subtilis yang berhasil diisolasi akan digunakan dalam sistem microbial fuel cell (MFC) atau bahan bakar sel yang memanfaatkan mikroba sebagai pembanding. Berdasarkan hasil uji limbah cair terasi yang mengandung konsorsium mikroba, katanya, mampu menghasilkan beda potensial lebih tinggi dibandingkan kultur cair bacillus subtilis. Hal ini disebabkan pada konsorsium mikroba terjadi aktivitas metabolisme yang lebih tinggi dibandingkan dengan kultur murni sehingga proton H+ yang dihasilkan semakin banyak.

Untuk membuktikan bahwa limbah cair terasi memiliki beda potensial yang lebih tinggi pada sistem MFC seri, maka dilakukan pengukuran limbah cair tahu pada sistem MFC seri sebagai pembanding. Hasil uji menunjukkan limbah cair tahu menghasilkan beda potensial sebesar 0,788 volt. Nilai ini menunjukkan bahwa limbah cair tahu yang diukur pada sistem MFC seri menghasilkan beda potensial yang lebih rendah dibandingkan limbah cair terasi.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dari konsorsium mikroba yang terdapat pada limbah cair didominasi oleh Bacillus subtilis. Sistem MFC dengan rangkaian seri, mampu menghasilkan beda potensial lebih tinggi dibandingkan paralel dan sepasang. Melalui rangkaian tersebut diperoleh beda potensial limbah cair terasi sebesar 2 volt, kultur murni bacillus subtilis 0,88 volt, dan limbah cair tahu sebagai pembanding sebesar 0,548 volt.

Pengembangan teknologi MFC yang memanfaatkan limbah cair terasi menjadi energi listrik dapat dijadikan solusi dalam penanganan limbah cair industri terasi. Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan di Kabupaten Cirebon, PT ABC President Indonesia yang memproduksi terasi dalam kemasan menghasilkan limbah cair terasi sebanyak 330 liter setiap pekan. "Jumlah tersebut akan terakumulasi jika tidak ditangani secara optimal sehingga akan mengakibatkan pencemaran lingkungan," katanya.

Di balik baunya yang sering membuat orang tidak suka, ternyata terasi mempunyai potensi untuk mengatasi krisis energi.* Ati Suprihatin-kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya