Ketika Nazi Setengah Mati Mencari Cawan Suci
SEBUAH pameran terbaru di Jerman tentang arkeologi di bawah pemerintahan Nazi, membuktikan bagaimana rezim ini pernah melakukan ekspedisi "Last Crusade" di masa perang untuk menemukan Cawan Suci (Holy Grail) dari Perjamuan Terakhir Kristus (Last Supper of Christ) .
Dalam film "Last Crusade" tahun 1989, Indiana Jones yang diperankan oleh Harrison Ford melakukan pencarian cawan suci, dan bersaing dengan Nazi. Kini kebenaran itu ternyata lebih aneh dari fiksinya dalam pameran "Dig for Germania. Archaeology under the Swastika" di Bremen, Jerman. Di sini diceritakan bagaimana kepala SS Heinrich Himmler diduga mengunjungi Spanyol saat perang karena ia percaya cawan itu ada di Montserrat Abbey dekat Barcelona.
Heinrich Himmler percaya bahwa menemukan cawan suci akan membantu Jerman memenangkan perang dan memberinya kekuatan supranatural. Namun regu SS ini sia-sia tidak menemukan apa yang mereka cari. Anggaran SS untuk proyek-proyek seperti ini begitu besar, bagi Nazi temuan itu dimaksudkan untuk menulis ulang sejarahnya yang membuktikan Jerman
adalah ras terbesar dalam sejarah.
Sebelum Hitler berkuasa hanya ada segelintir profesor arkeologi, setelah itu muncul 24 arkeolog, semuanya bertugas mempromosikan teori omong kosong ini saat menemukan artefak langka sebanyak mungkin dari seluruh dunia.
"Jika kita ingin kembali menjadi manusia besar dan unggul, kita harus membangun pada saat inti ras Nordic masih murni dan yang dikombinasikan dengan budaya indah yang mempengaruhi seluruh Eropa," kata Hans Reinerth, seorang arkeolog favorit Hitler.
Himmler memiliki keyakinan bersama bosnya Hitler bahwa Yesus Kristus benar-benar turun dari bangsa Arya, ras yang Hitler putuskan untuk menguasai dunia selama 1.000 tahun.
Ketika mesin perang Nazi diarahkan ke arah timur untuk menaklukkan Uni Soviet pada tahun 1941, para arkeolog berada di belakang mereka, dengan menggunakan buruh budak untuk menggali bukti 'koloni ras superior Jerman' yang menghuni tanah ini di masa lalu.
Pameran ini memberitahu para pengunjung bahwa banyak yang meninggal dalam perburuan artefak yang mencoba untuk mengakomodasi mitos rasial ini.
"Para arkeolog seringkali merencanakan kejahatan-kejahatan ini atau bekerja atas inisiatif sendiri," kata sejarawan Dirk Mahsarski, seorang kurator Bremen Focke Museum, seperti dilaporkan laman Mail Online.
Pameran ini juga menggambarkan bagaimana dua orang Reich Ketiga yang paling kuat, Himmler dan Alfred Rosenberg, filsuf rasial partai Nazi, bersaing dengan tim arkeologi terpisah untuk menggali artefak yang mendukung teori Nazi. Himmler bahkan mengirim sebuah tim SS ke Tibet sebelum perang untuk mencoba menemukan mitos kerajaan yang hilang, Shangri La.* Aya-kisuta.com


