Belasan Tahun Hidup di Hutan sebagai Monyet
MUNGKIN Anda beranggapan bahwa kisah Tarzan, manusia yang hidup di hutan dan dibesarkan oleh binatang, hanya ada dalam film. Ternyata kisah Tarzan ada dalam kehidupan nyata, dialami oleh seorang wanita asal Yorkshire, Inggris.

Marina Chapman yang sekarang telah menjadi seorang ibu rumah tangga, pernah mengalami kehidupan yang sangat luar biasa di hutan di Kolombia. Selama belasan tahun, Marina diasuh oleh kawanan monyet capuchin di hutan itu. Monyet-monyet itu mengajarinya bertahan hidup, memanjat pohon, dan tidur di dahan. Tak hanya berteman dengan monyet-monyet capuchin, Marina pun bergaul dengan binatang-binatang penghuni hutan hujan tropis tersebut.
Kisah hidupnya yang kerap disangsikan sebagian orang tersebut, diungkapkan Marina kepada The Daily Mail, Sabtu, 30 Maret 2013. Marina menuturkan, tahun 1954 ketika berusia 4 tahun, dirinya diculik dari rumahnya di Kolombia. Ketika asyik bermain di kebun rumahnya, seseorang menculiknya. “Tiba-tiba aku melihat kilatan tangan hitam dan kain putih menutup wajahku. Aku mencium bau menyengat,” tuturnya.
Marina yang masih sangat kecil dan belum banyak mengerti, apalagi sang penculik membiusnya. Saat tersadar, Marina mengaku mendengar suara mesin dan dirinya berada di bagian belakang truk dan tidak sendirian. Ternyata di atas truk itu ada anak-anak lain yang menangis ketakuran seperti dirinya.
Tak sempat berbincang Marina kembali tak sadarkan diri. Lalu ia merasa bumi berguncang, ternyata ia berada di gendongan seseorang pria yang berlari. Pria yang lain ikut berlari di sebelah mereka. Dua pria itu membawanya ke hutan dan meninggalkannya di sana. Seorang gadis kecil, tak berdaya, di tengah hutan, melewati malam pertama sendirian.
Marina terbangun dalam kondisi ketakutan, lapar, dan hanya bisa menangis. Karena lelah, akhirnya Marina tertidur dan terbangun ketika dirinya sedang dikerubungi monyet-monyet yang jumlahnya sekitar 30 ekor. Penampilannya yang berbeda membuat monyet-monyet itu menarik, memukul, menjambak, dan meneriakinya.
Penyerangan terhadap Marina baru selesai ketika datang seekor monyet membawa pisang. Para monyet berpesta pisang yang masih hijau dan mentah. Marina ikut memakan pisang mentah itu, karena rasa lapar yang teramat sangat.
Hidup sebagai monyet
Tak tahu harus pergi ke mana, Marina kecil mengikuti monyet-monyet yang menyerangnya itu dan menghabiskan malam di hutan bersama mereka. Kesepian di hutan tanpa keluarga dan teman, nalurinya menuntun untuk menjadikan monyet-monyet itu keluarganya.
Seiring perjalanan waktu, Marina yang mulai tumbuh besar, semakin mirip monyet. Tak hanya suaranya, perilakunya pun sudah seperti monyet, sering menggaruk badannya yang menjadi tempat hidup banyak binatang kecil seperti kutu.
Marina pun telah mempunyai teman-teman monyet, seperti Spot yang enerjik, Brownie yang lembut dan pengasih, Tip dan Mia yang pemalu. Bersama mereka, Marina belajar memanjat pohon hingga otot-ototnya semakin kuat. Meskipun sudah mempunyai keluarga baru, namun Marina kerap menangis karena ingat keluarganya yang manusia.
Komunitas monyet berhasil membesarkan Marina menjadi “monyet” wanita yang tangguh. Ketika daya jelajahnya semakin luas, Marina suatu ketika bertemu gubuk-gubuk yang dihuni manusia. Ketika melihat wajah penghuni gubuk menyerupai dirinya, instingnya menyuruhkan untuk mendekat. Sayang sekali, kehadiran Marina yang sudah mirip monyet itu, justru membuat perempuan yang ada di gubuk ketakutan. Teriakannya membuat suaminya datang dan menangkap Marina.
Sayangnya upaya Marina dengan segala keterbatasannya untuk menunjukan bahwa dirinya adalah manusia, sama seperti mereka , tidak berhasil. Marina yang putus asa akhirnya memutuskan untuk tidak akan mencari lagi keluarganya.
Kehidupan Marina yang mirip Tarzan berakhir setelah keberadaannya diketahui sejumlah pemburu. Pemburu itu menukarnya dengan seekor burung beo di tempat prostitusi. Beruntung Marina berhasil melarikan diri sebelum melayani lelaki hidung belang pertamanya. Perjalanan hidup membawanya menjadi pemimpin geng anak-anak.
Keberuntungan kembali menyertainya ketika satu keluarga yang tinggal di Bradford, Inggris mau mengadopsinya. Pernah belajar menjadi koki dan bekerja di National Media Museum, namun akhirnya Marina memutuskan untuk membantu anak-anak bermasalah. Tahun 1970, Marina menikah dengan seorang ahli bakteri.
Di sisa hidupnya sekarang, Marina hidup tenang dengan suami dan anak-anaknya. Kalaupun saat ini dia mengungkapkan kisah hidupnya sebagai Tarzan di hutan tropis Kolombia, Marina hanya ingin mengatakan bahwa Meskipun banyak yang meragukan kisahnya, namun Marina menuturkan bahwa pengalaman hidupnya tersebut, mengajarkannya bahwa “Keluarga bisa ditemukan di mana saja, di mana kita merasa dicintai dan diperhatikan”. Meskipun monyet-monyet yang pernah membesarkannya bukanlah manusia, namun Marina merasakan mereka merupakan keluarganya yang mencintainya.* Ati Suprihatin-kisuta.com


