Kamis, 4 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Hingga Kini Masih Lestari

Melongok Rumah Si Pitung, Mengenang Sang Legenda Betawi

Jumat, 12 April 2013

MASYARAKAT Betawi mempunyai satu tokoh jawara yang sangat terkenal, yaitu “Pitung”. Tokoh ini tak hanya dikenal oleh masyarakat Betawi, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia, karena sosoknya diangkat ke layar lebar dengan judul “Si Pitung” . Aktor Dicky Zulkarnaen berhasil menghidupkan sosok jawara ini, sehingga akhirnya Pitung dikenal luas.

Pitung merupakan sosok yang pernah hidup di Betawi, yaitu pada masa penjajahan Belanda. Aksi heroiknya melawan Belanda dan menjadi “Robin Hood”-nya rakyat Betawi, sangatlah terkenal hingga menjadi legenda Indonesia.

Bukan hanya cerita tentang kepahlawanannya saja yang masih lestari, ternyata tempat tinggal sang jawara pun sampai sekarang masih terpelihara dengan baik. Rumah panggung yang berdiri kokoh di kawasan Marunda, Jakarta Utara dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai tempat tinggal Pitung.

Dari berbagai informasi yang diperoleh kisuta.com menyebutkan bahwa rumah Pitung sampai sebelum tahun 1972 masihlah bangunan asli. Bangunan yang didominasi oleh arsitektur Cina. Rumah panggung berukuran 40x8 meter persegi itu berdiri di atas tanah seluas 700 meter persegi. Dinding rumahnya terbuat dari kayu jati yang tidak dicat, sehingga terlihat jelas warna asli kayu jati. Sedangkan lantainya terbuat dari bambu. Di dalam rumah masih ada beberapa perabot rumah tangga yang asli, seperti meja dan kursi, serta peralatan memasak.

Di samping rumah ada dua kolam yang cukup luas. Di halaman depan rumah, ditumbuhi beberapa pohon petai cina. Di bagian depan dan belakang rumah, terdapat beranda yang dilengkapi tangga setinggi 1,5 meter yang dihiasi ornamen-ornamen berupa motif ukiran kayu di kedua sisinya. Di halaman rumah, terdapat sebuah pendopo kecil yang konon dulunya digunakan oleh Pitung untuk pertemuan atau menerima tamu.

Perubahan rumah Pitung terjadi saat Pemerintah DKI Jakarta pada tahun 1972 melakukan pemugaran yang menyebabkan beberapa bagian dari bangunan kehilangan keasliannya. Misalnya lantai rumah yang semula bambu, diganti dengan kayu; dinding rumah telah dicat dengan sejenis pelitur kayu yang berwarna merah tua; kolam yang berada di sekitar rumah dipasangi keramik; termasuk, beberapa jalan setapak di sekeliling rumah tersebut, juga dipasangi keramik; atap genteng rumah juga telah diganti, namun warnanya masih tetap sama; dan rumah pun telah dipasangi listrik, sehingga tidak menimbulkan kesan angker, seperti sebelumnya.

Untuk melihat rumah tersebut, terdapat dua jalan yang menuju ke sana, melalui darat atau menggunakan perahu penyeberangan. Apabila kita menempuh jalan darat, bisa menggunakan angkutan umum dari Terminal Tanjung Priok, sekitar 15 km ke arah Rorotan. Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan ojek (sepeda/motor), dan diakhiri dengan menyusuri jalan tanah sejauh 3 km.

Apabila kita menggunakan kendaraan pribadi, kita dapat menitipkannya pada rumah-rumah penduduk setempat yang jaraknya sekitar 500 meter dari lokasi rumah Pitung. Mereka sudah terbiasa menerima kedatangan pelancong yang akan berkunjung ke rumah tersebut. Selain melalui jalan darat, kita bisa juga menggunakan perahu penyeberangan untuk melintasi jarak sekitar 50 meter sampai ke Kampung Marunda Pulo. Kemudian, kita masih harus menempuh jarak kira-kira 200 meter untuk dapat mencapai lokasi tujuan.

Sampai sekarang rumah Pitung masih menjadi tempat tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Ketenaran nama Pitung dan aksi heroiknya, menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mengetahui rumah yang pernah ditinggalinya dan menjadi bagian dari legenda melawan penjajah Belanda.* Ati Suprihatin - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya