Kamis, 4 Juni 2026
Wisata & Sejarah
Tradisi Masyarakat Bali

Perang Pisang untuk Memilih Ketua Pemuda

Rabu, 17 April 2013

BALI merupakan salah satu daerah di Indonesia yang kehidupan masyarakatnya masih kental dengan tradisi. Banyak tradisi di Bali yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat, di antaranya tradisi “Perang Pisang”. Tradisi ini masih dilakoni masyarakat Desa Tenganan Daud Tukad, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.

Desa Tenganan merupakan desa tua di Bali. Desa ini disebut juga dengan Bali Aga. Jarak desa ini dari Ibu Kota Bali, Denpasar sekitar 60 kilometer.

“Perang Pisang” merupakan tradisi yang digelar dalam rangka memilih ketua dan wakil ketua pemuda desa setempat. Perang ini bertujuan untuk menguji mental para calon yang akan menjadi pemimpin pemuda desa. Para calon yang akan mengikuti “Perang Pisang” menggunakan pakaian adat berupa kemben dan penutup kepala yang disebut udeng.

Pelaksanaan “Perang Pisang” berbarengan dengan upacara “Aci Katiga” atau upacara pada bulan ketiga dalam sistem penanggalan Tenganan. Sebelum perang dimulai, biasanya para pemuda terlebih dulu memetik buah pisang yang akan digunakan dalam berperang. Di ujung jalan yang berlawanan, berdiri dua pemuda yang akan menjadi lawan, mereka adalah calon ketua dan wakil ketua kelompok pemuda desa. Perang ini baru dianggap selesai kalau kedua calon pemimpin tersebut sudah memasuki pura yang menjadi terminal perjalanan mereka yang berperang.

“Perang Pisang” sudah menjadi bagian dari paket wisata yang bisa disaksikan oleh wisatawan. Meskipun tidak selalu ada pemilihan ketua pemuda di Desa Teganan, namun Anda jangan khawatir tidak bisa menyaksikan tradisi ini, karena tradisi ini secara berkala ditampilkan untuk kepentingan wisata.* Ati Suprihatin - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya