Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini

Tak Sekadar "Iket"

Kamis, 18 April 2013

KETIKA bertemu, setelah be­be­rapa tahun tidak ada komunikasi, saya sempat heran me­lihat penampilan Dedi Mulyadi. Saat itu, sekitar pertengahan 2003, teman saya itu jadi Wa­kil Bupati Purwakarta. Yang membuat heran bukan karena posisinya sebagai orang nomor dua di Purwa­kar­ta –-sekarang dia Bupati Purwakarta dan akan menjabat untuk periode kedua--, tetapi caranya berpakai­an. Dalam setiap kesempat­an, kecuali acara resmi kenegaraan, ia tampil dengan baju kampret atau pangsi dan iket atau totopong di kepalanya.

Sambil berkelakar saya bertanya, ”Nanaonan ari di di­nya..siga Si Kabayan wae?” Dengan nada guyon ia menjawab, ”Nya ambeh mantes we.” Lalu, dia menjelaskan filosofi dan alasannya. Namun, saya tidak terlalu menyimak penjelasannya karena tidak begitu tertarik.

Namun, saya harus mengapresiasinya, karena dia konsisten dengan sikap dan penampilannya. Dia juga berusaha nyunda dalam keseharian dan kebijakan pemerintah­annya. Artinya, filosofi, budaya, dan warna Sunda dite­rap­kan dalam berbagai sektor pembangunan.

Selain Bupati Dedi, pejabat lain yang kerap tampil ber­busana Sunda lengkap dengan iket adalah mantan Bupati Subang Eep Hidayat, Bupati Bandung Dadang Naser, dan Walikota Bogor Diani. Kini, menjelang pemilihan kepala daerah di beberapa tempat dan pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013, sejumlah calon yang akan bertarung juga ramai-ramai tampil di publik dengan iket kepala. Ikut tren atau ambeh katingali leuwih nyunda? Duka tah nya…

Belakangan, pemakaian iket tidak melulu bisa dilihat di lingkungan pemerintahan atau aktivitas kebudayaan. Sejumlah komunitas bermunculan dan sangat aktif mengenalkan dan mengkreasikan iket. Di pinggiran jalan pun marak penjualan iket dengan bera­gam corak dan ukuran. Siapa saja bisa memakainya untuk kesempatan apa pun.

Jadi tren? Beberapa kalangan menyebutnya seperti itu. Bahkan beberapa pihak optimistis menilainya sebagai pe­nanda bangkitnya budaya Sunda. Untuk sekadar memperkuat identitas, mungkin, ya. Namun, untuk budaya secara keseluruhan, mungkin belum, karena iket yang me­ru­pakan kelengkapan busana keseharian kaum pria abad 19 itu, sejatinya hanya bagian kecil dari budaya Sunda.

Iket kini memang kerap hadir dalam keseharian. Di mal, di kampus, di komunitas, tak sedikit anak muda pe­de membungkus kepalanya dengan iket. Dalam konteks street fashion, iket mulai menggeser bandana –ikat kepa­la khas Amerika yang populer di kalangan muda, terutama pada dekade 80-90 an.

Lihat saja para biker dari komunitas sepeda motor di Kota Bandung, semisal Bike Brotherhood, tampil gagah dengan iket melengkapi atribut lain khas pengendara motor seperti jaket kulit, jeans, dan sepatu boots. Komunitas lain juga sama. Misalnya, musik underground. Mereka sudah lama mengenalkan iket dan memakainya tidak saja saat tampil di panggung tetapi juga dalam kesehariannya. Salah satu dedengkot underground Bandung, Man Jasad, adalah salah satunya.

Dari berbagai literatur, iket merupakan pelindung ke­pala. Namun, dari segi tradisi masa lampau, penggunaan iket dipercaya bisa melindungi dari roh jahat. Fungsi prak­­tisnya, selain melindungi ke­pala, iket bisa dimanfaat­kan sebagai pembung­kus, selimut, atau bantal­an untuk menahan beban saat mengangkut barang di atas kepala.

Iket sebagai bagian dari budaya Sunda memiliki filosofi Makutawangsa, yang digambarkan dalam tahapan; opat ka lima pancer. Bisa juga diartikan menyatukan diri de­ngan unsur-unsur utama alam: angin, cai (air), ta­neuh (ta­nah), dan seuneu (api). Keempat segi itu (iket: kain ber­bentuk segi empat, dilipat menjadi bentuk segitiga yang merupakan refleksi diri, bumi, dan negeri. Dalam falsafah Sunda, refleksi itu dikenal dengan sebutan tritangtu, tiga kepastian, yang berujung pada pendekatan dan berserah diri kepada Sang Pencipta.

Ternyata, filosofi dalam selembar iket begitu luhur. Namun, apakah filosofi itu masih dijadikan pegangan ketika kita memakai iket saat ini? Salah seorang pemerhati iket Sunda, Mochamad Asep Hadian Adipraja, dalam blognya pulasaraiket menganalisis secara menarik fenomena iket ini. Secara garis besar, dia menggolongkan rupa iket ke dalam dua model; rupa iket buhun dan rupa iket rekaan.

Budaya memang bergerak dinamis, mengikuti ruang dan waktu para pelakunya. Iket yang pernah dicap sebagai aksesoris para jawara atau dukun, kini ”naik kelas”. Tua, muda, rakyat atau pejabat kini lumrah membungkus kepalanya dengan beragam parekos iket. Apa­kah iket ha­nya menjadi aksesoris atau pelengkap penampilan? Sebaiknya tidak. Iket jangan dipandang hanya sebagai selembar kain, tetapi harus dimaknai sebagai ciciren jeung tekad urang untuk mendekatkan diri kepada inti dari filosofinya.* Noe Firman - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya