Tak Sekadar "Iket"
KETIKA bertemu, setelah beberapa tahun tidak ada komunikasi, saya sempat heran melihat penampilan Dedi Mulyadi. Saat itu, sekitar pertengahan 2003, teman saya itu jadi Wakil Bupati Purwakarta. Yang membuat heran
bukan karena posisinya sebagai orang nomor dua di Purwakarta –-sekarang dia Bupati Purwakarta dan akan menjabat untuk periode kedua--, tetapi caranya berpakaian. Dalam setiap kesempatan, kecuali acara resmi kenegaraan, ia tampil dengan baju kampret atau pangsi dan iket atau totopong di kepalanya.
Sambil berkelakar saya bertanya, ”Nanaonan ari di dinya..siga Si Kabayan wae?” Dengan nada guyon ia menjawab, ”Nya ambeh mantes we.” Lalu, dia menjelaskan filosofi dan alasannya. Namun, saya tidak terlalu menyimak penjelasannya karena tidak begitu tertarik.
Namun, saya harus mengapresiasinya, karena dia konsisten dengan sikap dan penampilannya. Dia juga berusaha nyunda dalam keseharian dan kebijakan pemerintahannya. Artinya, filosofi, budaya, dan warna Sunda diterapkan dalam berbagai sektor pembangunan.
Selain Bupati Dedi, pejabat lain yang kerap tampil berbusana Sunda lengkap dengan iket adalah mantan Bupati Subang Eep Hidayat, Bupati Bandung Dadang Naser, dan Walikota Bogor Diani. Kini, menjelang pemilihan kepala daerah di beberapa tempat dan pemilihan Gubernur Jawa Barat 2013, sejumlah calon yang akan bertarung juga ramai-ramai tampil di publik dengan iket kepala. Ikut tren atau ambeh katingali leuwih nyunda? Duka tah nya…
Belakangan, pemakaian iket tidak melulu bisa dilihat di lingkungan pemerintahan atau aktivitas kebudayaan. Sejumlah komunitas bermunculan dan sangat aktif mengenalkan dan mengkreasikan iket. Di pinggiran jalan pun marak penjualan iket dengan beragam corak dan ukuran. Siapa saja bisa memakainya untuk kesempatan apa pun.
Jadi tren? Beberapa kalangan menyebutnya seperti itu. Bahkan beberapa pihak optimistis menilainya sebagai penanda bangkitnya budaya Sunda. Untuk sekadar memperkuat identitas, mungkin, ya. Namun, untuk budaya secara keseluruhan, mungkin belum, karena iket yang merupakan kelengkapan busana keseharian kaum pria abad 19 itu, sejatinya hanya bagian kecil dari budaya Sunda.
Iket kini memang kerap hadir dalam keseharian. Di mal, di kampus, di komunitas, tak sedikit anak muda pede membungkus kepalanya dengan iket. Dalam konteks street fashion, iket mulai menggeser bandana –ikat kepala khas Amerika yang populer di kalangan muda, terutama pada dekade 80-90 an.
Lihat saja para biker dari komunitas sepeda motor di Kota Bandung, semisal Bike Brotherhood, tampil gagah dengan iket melengkapi atribut lain khas pengendara motor seperti jaket kulit, jeans, dan sepatu boots. Komunitas lain juga sama. Misalnya, musik underground. Mereka sudah lama mengenalkan iket dan memakainya tidak saja saat tampil di panggung tetapi juga dalam kesehariannya. Salah satu dedengkot underground Bandung, Man Jasad, adalah salah satunya.
Dari berbagai literatur, iket merupakan pelindung kepala. Namun, dari segi tradisi masa lampau, penggunaan iket dipercaya bisa melindungi dari roh jahat. Fungsi praktisnya, selain melindungi kepala, iket bisa dimanfaatkan sebagai pembungkus, selimut, atau bantalan untuk menahan beban saat mengangkut barang di atas kepala.
Iket sebagai bagian dari budaya Sunda memiliki filosofi Makutawangsa, yang digambarkan dalam tahapan; opat ka lima pancer. Bisa juga diartikan menyatukan diri dengan unsur-unsur utama alam: angin, cai (air), taneuh (tanah), dan seuneu (api). Keempat segi itu (iket: kain berbentuk segi empat, dilipat menjadi bentuk segitiga yang merupakan refleksi diri, bumi, dan negeri. Dalam falsafah Sunda, refleksi itu dikenal dengan sebutan tritangtu, tiga kepastian, yang berujung pada pendekatan dan berserah diri kepada Sang Pencipta.
Ternyata, filosofi dalam selembar iket begitu luhur. Namun, apakah filosofi itu masih dijadikan pegangan ketika kita memakai iket saat ini? Salah seorang pemerhati iket Sunda, Mochamad Asep Hadian Adipraja, dalam blognya pulasaraiket menganalisis secara menarik fenomena iket ini. Secara garis besar, dia menggolongkan rupa iket ke dalam dua model; rupa iket buhun dan rupa iket rekaan.
Budaya memang bergerak dinamis, mengikuti ruang dan waktu para pelakunya. Iket yang pernah dicap sebagai aksesoris para jawara atau dukun, kini ”naik kelas”. Tua, muda, rakyat atau pejabat kini lumrah membungkus kepalanya dengan beragam parekos iket. Apakah iket hanya menjadi aksesoris atau pelengkap penampilan? Sebaiknya tidak. Iket jangan dipandang hanya sebagai selembar kain, tetapi harus dimaknai sebagai ciciren jeung tekad urang untuk mendekatkan diri kepada inti dari filosofinya.* Noe Firman - kisuta.com


