Letusannya Paling Mematikan, Melenyapkan Tiga Kerajaan
KETIKA sahabat kisuta.com, Dani Muharam menyebut nama Tambora saat mengomentari salah satu artikel yang dimuat di kisuta.com, penulis langsung teringat pada Gunung Tambora yang berada di Pulau Sumbawa yang merupakan bagian dari Kepulauan Nusa Tenggara. Gunung berapi aktif ini pernah meletus dengan letusan yang sangat dahsyat pada tanggal 10 April 1815. Berarti, bulan April 2013, genap 198 tahun letusan dahsyat Gunung Tambora yang tercatat dalam sejarah dunia.
Sebelum meletus pada tahun 1815, Gunung Tambora pernah meletus tiga kali. Namun letusan pada tahun 1815 menjadi letusan terdahsyat. Magnitudo letusan Tambora berdasarkan Volcanic Explosivity Index berada pada skala 7 dari 8. Letusannya empat kali lebih kuat daripada letusan Gunung Krakatau tahun 1883 dan hanya kalah dari letusan Gunung Toba, Sumatera Utara sekitar 74.000 tahun lalu yang berada pada skala 8.
Kedahsyatan letusan Gunung Tambora dapat dilihat dari jumlah korban jiwa yang mencapai puluhan ribu orang tewas. Bukan hanya itu, tiga kerajaan dinyatakan lenyap akibat letusan, yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat, dan Kerajaan Sanggar.
Gunung Tambora atau masyarakat sekitar menyebutnya Gunung Tomboro, terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut) dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat. Gunung ini terbentang 340 km di sebelah utara sistem Palung Jawa.
Saat meletus pada tahun 1815, tiga lajur api terpancar dan bergabung hingga mengubah pegunungan menjadi aliran besar api. Aliran piroklastik (hasil letusan gunung berapi yang terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan) bergerak dengan cepat dan mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung hingga memusnahkan Desa Tambora.
Tinggi abu ledakan Gunung Tambora mencapai 44 kilometer dari permukaan tanah dengan lontaran abu mencapai 1.300 kilimeter dan melepaskan 400 km3 debu ke angkasa. Radius letusan tercatat sampai 2.600 kilometer dan menyebabkan tsunami sepanjang pantai sejauh 1.200 kilometer dengan tinggi gelombang mencapai 1-4 meter. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan.
Letusan menyebabkan daerah radius 600 kilometer dari Gunung Tambora, hampir seminggu lamanya mengalami gelap gulita. Tak hanya itu, suhu bumi menurun hingga beberapa derajat sehingga bumi menjadi dingin akibat sinar matahari terhalang debu vulkanis selama beberapa bulan. Letusan Gunung Tambora yang suaranya terdengar sampai radius 2.000 kilometer itu, menyebabkan peristiwa “The year without summer” atau tahun tanpa musim panas. Di beberapa negara Eropa dan Amerika Utara mengalami musim dingin yang panjang. Sedangkan di Australia dan Afrika Selatan yang sedang mengalami musim panas, tiba-tiba “dihujani” salju (lihat gambar).
Letusan Gunung Tambora juga tercatat sebagai letusan gunung yang paling mematikan. Ada beberapa versi mengenai jumlah korban tewas akibat letusan gunung ini, ada ahli yang menyebutkan mencapai 71.000 jiwa, tapi ada juga yang menyebutkan mencapai 91.000 jiwa. Sebanyak 10.000 orang diperkirakan tewas langsung akibat letusan dan sisanya karena bencana kelaparan serta penyakit yang mendera. Jumlah tersebut belum termasuk korban yang mati di negara-negara lain, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, yang didera bencana kelaparan akibat abu vulkanis Tambora yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di dua benua itu.
Ahli botani Belanda, Junghuhn, dalam ”The Eruption of G Tambora in 1815”, menulis, empat tahun setelah letusan, sejauh mata memandang adalah batu apung. Pelayaran terhambat oleh batuan apung berukuran besar yang memenuhi lautan.
Segala yang hidup telah punah. Bumi begitu mengerikan dan kosong. Junghuhn membuat deskripsi itu berdasarkan laporan Disterdijk yang datang ke Tambora pada 16 agustus 1819 bersama The Dutch Residence of Bima.
Tiga puluh tahun setelah letusannya yang dahsyat, Gunung Tambora kembali meletus pada tahun 1880. Letusan kali ini tidak besar, hanya terjadi di dalam kaldera yang membentuk kawah baru bernama Doro Api.
Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.* Ati Suprihatin - kisuta.com


