Menyimpan Lestari Tradisi Jepang
JEPANG merupakan salah satu negara di dunia yang masih memelihara budayanya. Bukan hanya tradisi yang sampai sekarang masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang modern, tetapi banyak juga bangunan kuno yang tetap lestari.
Salah satu bangunan kuno yang masih ada, adalah Asakusa yang berupa Kuil Senso-ji. Selain masih digunakan untuk beribadah, kuil Budha ini ramai dikunjungi oleh wisatawan dan merupakan objek wisata yang wajib dikunjungi ketika berada di Tokyo. Kuil ini terletak di tengah kota dengan Sungai Sumida yang “membelah” Ibukota Jepang, Osaka hingga Odaiba.
Asakusa sangat kental dengan tradisi budaya Jepang. Memasuki Asakusa, kita akan disambut dengan pintu gerbang yang disebut kaminari mon atau gerbang petir (lihat gambar). Di gerbang besar yang terbuat dari kayu, tergantung lampion raksasa berwarna merah. Di pintu gerbang kuil terdapat dua patung Dewa Shinto, yaitu Fujin (Dewa Angin) dan Raijin (Dewa Guntur dan Kilat). Fujin berada di sisi timur gerbang, sedangkan Raijin di sisi barat.
Memasuki gerbang, pengunjung disambut sederetan kios yang menjual aneka souvenir dan makanan khas Jepang (lihat gambar). Di ujung Nakamise terdapat gerbang, Hanzomon, yang mengantarkan pengunjung memasuki halaman kuil. Aroma dupa akan tercium di mana-mana. Dupa dibakar dan ditiup bukan dengan nafas dari mulut, tetapi dengan tangan yang digerakan di dekat pembakaran itu (lihat gambar).
Orang Jepang sengaja membiarkan asap dari dupa mengenai wajah atau bagian tubuhnya, karena mereka mempercayai asap tersebut mempunyai kekuatan penyembuhan (power healing).
Di sayap kanan halaman kuil berdiri pagoda bertingkat lima setinggi 53,32 meter. Pagoda itu bukan bangunan kuno, karena baru dibangun pada tahun 1973. Sedangkan di sisi lainnya terdapat Taman Hanayashiki. Kuil ini akan semakin ramai pada pertengahan bulan Mei saat digelar salah satu dari tiga festival tradisional Jepang, Sanja Matsuri. Jika sedang beruntung, di lokasi ini bisa ditemui Yakuza asli yang menari-nari di depan kuil dengan hanya memakai celana dalam saja.* Dina Sudjana - kisuta.com


