Keindahan Menawan di Alam yang Perawan
PASIRNYA yang putih bersih, membuat siapa pun yang memandangnya, ingin menyentuhnya. Air lautnya yang biru kehijauan, mengundang untuk diselami. Alamnya nan hijau, menggoda petualang menjelajahinya.
Itulah sedikit gambaran tentang Pulau Peucang yang berada di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Kawasan Taman Hutan Nasional Ujung Kulon yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO ini, menjadi habitat asli badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) serta sejumlah satwa liar. Di taman ini, ada sejumlah binatang yang dilindungi seperti banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas).
Untuk mencapai Pulau Peucang yang berada di kawasan Taman Hutan Nasional Ujung Kulon, bisa melalui dua pintu masuk, yaitu melalui Kecamatan Sumur dan Desa Taman Jaya. Dari Desa Taman Jaya diperlukan waktu sekitar 3 jam dengan berlayar untuk sampai di Pulau Peucang.
Nama “Peucang” diambil dari nama sejenis siput yang sering ditemukan di pantai pulau ini. Penduduk setempat biasa menyebut siput tersebut dengan "mata peucang". Sementara itu, dalam bahasa Sunda, "Peucang" berarti kancil atau pelanduk yang juga hidup di Pulau Peucang.
Pulau Peucang merupakan pulau tropis dengan lingkungan dan kekayaan alamnya yang masih lengkap. Di pulau ini, kita tak hanya menikmati keindahan pantai dan laut saja, tetapi juga hutan hujan tropis yang masih lebat dengan pohon-pohon berusia ratusan tahun serta beraneka jenis binatang. Saat berada di pulau ini, kita bisa melihat banteng, biawak, burung merak, burung enggang, monyet, babi hutan, rusa, dan beberapa jenis binatang lagi di habitat aslinya. Sebagian binatang-binatang itu jinak, sehingga kita bisa mendekati dan berinteraksi.
Selain bisa menikmati sunset yang indah, di pulau ini kita juga bisa melakukan petualangan dengan berkano, berenang, menjelajah hutan , bercengkrama dengan beragam binatang, bersnorkeling melihat keindahan taman laut dengan terumbu karang dan ikannya yang berwarna-warni.
Pulau Peucang yang luasnya mencapai 450 ha, membentang di ujung barat Pulau Jawa, tempat bertemunya Samudra Indonesia dan perairan Selat Sunda. Perpaduan antara lautan dan daratan, menjadikan kawasan ini sangat kaya dengan flora dan fauna. Selain dihuni binatang-binatang liar dan dilindungi, ada juga binatang unik hidup di kawasan ini, yaitu ikan sumpit dan ikan glodok. Ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak mangsanya (serangga kecil) yang berada di daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air.
Berada di pulau ini, kita dibawa seperti dibawa berpetualang ke hutan yang masih liar, hanya ada kita, hutan, dan binatang-binatang. Apalagi di pulau ini tidak ada perkampungan, semakin sempurnalah petualangan di Pulau Peucang. Walaupun tidak ada perkampungan, tetapi jangan takut jika harus bermalam di pulau ini, karena banyak penjaga pulau. Untuk menginap, ada tiga jenis penginapan bisa dipilih, mulai kelas barak hingga hotel yang representatif.
Masih di sekitar Pulau Peucang, ada tempat lain yang juga asyik untuk dikunjungi, yaitu Karang Copong. Dari atas bukit di tempat ini, kita bisa melihat Pulau Panaitan dan air laut dengan dihiasai karang-karang indah. Di Karang Copong bisa berenang, snorkeling, dan menyelam. Kita juga bisa menyebrang ke padang pengembalaan Cidaon menggunakan boat kecil berkapasitas 6 orang . Hanya lima menit saja waktu untuk menyebrang ke tempat yang dihuni banteng, merak, rusa, dan babi hutan.
Tak puas hanya ke Karang Copong dan Padang Cidaon, kita bisa mengungunjungi Tanjung Layar yang menawarkan pesona bebatuan dan tebing yang indah dengan pemandangan Samudra Hindia. Di Tanjung Layar ada bangunan mercusuar di atas karang yang dibangun pada zaman Kolonial Belanda. Dari Pulau Peucang, Tanjung Layar ditempuh sekitar 30 menit menggunakan perahu. Lokasi mercusuar dicapai setelah 30–40 menit berjalan menyusuri jalan setapak yang banyak ditumbuhi tanaman langka seperti merbau dan cerlang serta beberapa tumbuhan obat.
Dengan segala keindahan yang ada di Pulau Peucang, rasanya sahabat kisuta.com pasti tertarik untuk mengunjunginya.* Ati Suprihatin - kisuta.com


